Elmu Luhung Kasakti Diri

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (18/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Elmu Luhung Kasakti Diri” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Akhir tahun 1976 atau 50 tahun lalu, penulis sempat bergabung dengan Daya Mahasiswa Sunda di Bogor. Penulis tertarik untuk menjadi anggota Damas, salah satu alasannya karena ada ikon yang cukup keren dalam organisasi mahasiswa kedaerahn ini yakni “elmu luhung kasakti diri”. Bersama beberapa mahasiswa IPB, AKA, UIK, dan lain-lain, penulis mendaftarkan diri jadi anggota Damas.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Mungkin yang dimaksud “luhung” seperti dalam “elmu luhung” bisa mengundang banyak tafsir. Dalam bahasa Sunda, “luhung” bisa berarti “agung” atau “sangat baik”. Jadi, “elmu luhung” mungkin berarti ilmu yang sangat baik atau ilmu yang tinggi nilainya. Tapi kalau “luhung” sendiri, bisa juga berarti “dalam” atau “agung” dalam beberapa konteks.

“Kasakti diri” bisa diartikan sebagai kekuatan atau kemampuan luar biasa yang dimiliki seseorang untuk melindungi diri sendiri atau mencapai sesuatu. Dalam konteks spiritual atau kejawen, kasakti diri sering dikaitkan dengan kekuatan batin atau energi dalam diri yang bisa dikembangkan melalui latihan spiritual atau ilmu tertentu.

Nilai filosofi dari “elmu luhung kasakti diri” bisa diartikan sebagai pencarian kekuatan dan kebijaksanaan dalam diri sendiri untuk mencapai kesempurnaan dan perlindungan. Ini mencakup beberapa pertimbangan : Pertama, penguasaan diri. Mengendalikan emosi dan pikiran untuk mencapai kekuatan batin. Kedua, kebijaksanaan. Menggunakan ilmu untuk kebaikan diri dan orang lain. Ketiga, perlindungan. Menjaga diri dari pengaruh negatif dan mencapai keseimbangan dalam hidup.

Hanya, perlu diingat bahwa interpretasi bisa berbeda-beda tergantung konteks dan tradisi. Bagi keluarga besar Damas, ikon elmu luhung kasakti diri, tentu bukan hanya sebuah simbol. Namun elmu luhung kasakti diri merupakan landasan berpijak dalam menjalankan kiprah organisasi. Jejak langkah Damas, harus mencerminkan ikon tersebut.

Daya mahasiswa Sunda dalam menerapkan ikon “elmu luhung kasaktu diri” bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1. Menginternalisasi nilai-nilai budaya. Mahasiswa Sunda bisa mempelajari dan menginternalisasi nilai-nilai budaya Sunda, seperti silaturahmi, gotong royong, dan hormat ka kolot.
2. Mengembangkan diri. Fokus pada pengembangan diri, seperti meningkatkan kemampuan bahasa Sunda, mempelajari seni dan budaya Sunda, serta meningkatkan kemampuan akademik.
3. Mengaplikasikan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa Sunda bisa menerapkan nilai-nilai budaya Sunda dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati orang tua, membantu sesama, dan menjaga lingkungan.

Tantangan dan kendala dalam penerapan “elmu luhung kasaktu diri” bisa beragam, diantaranya pertama, globalisasi dan modernisasi. Pengaruh budaya luar yang kuat bisa membuat nilai-nilai budaya Sunda tergerus. Kedua, kurangnya pemahaman. Banyak orang yang belum memahami betul tentang nilai-nilai budaya Sunda dan pentingnya “elmu luhung kasaktu diri”.

Ketiga, perubahan gaya hidup. Gaya hidup modern yang serba cepat bisa membuat orang lupa akan nilai-nilai budaya dan tradisi. Gaya hidup yang tak pernah merasa puas atas apa yang diraihnya (sofostikasi) menjadi masalah setius dalam menerapkan prinsif kekuatan intelektual dan kedewasaan moral. Kendala lainnya bisa berupa kurangnya sumber daya, seperti akses ke literatur atau komunitas yang mendukung.

Damas bisa mulai dengan memperkuat identitas budayanya sendiri, misalnya belajar lebih dalam. Damas bisa mempelajari lebih dalam tentang budaya Sunda, sejarah, dan nilai-nilainya. Kemudian, bergabung dengan komunitas. Damas bisa bergabung dengan komunitas atau organisasi yang mendukung pelestarian budaya Sunda.

Lalu, menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Damas bisa memulai dengan menerapkan nilai-nilai budaya Sunda dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati orang tua atau menjaga lingkungan. Dengan memperkuat identitas budayanya, Damas bisa lebih percaya diri menghadapi tantangan dan menjadi contoh bagi orang lain.

Persoalan kritisnya adalah apakah Keluarga Besar Damas telah mampu menerapkan prinsip elmu luhung kasakti diri dalam kehidupan kesehariannya ? Atau masih belum mengingat berbagai alasan dan pertimbangan. Salah satunya, karena pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai budaya Sunda yang semakin melemah.

Selain itu, mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan prinsip “elmu luhung kasakti diri” belum bisa diterapkan di kalangan keluarga besar Damas. Bisa jadi karena kurangnya pemahaman tentang makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip tersebut, atau mungkin karena faktor budaya dan tradisi yang masih kuat mempengaruhi pola pikir dan perilaku keluarga.

Akhirnya penting untuk disampailan, elmu luhung kasakti diri adalah kekuatan inheren yang melekat dalam setiap sanubari manusia. Elmu luhung tidak mungkin akan datang dengan sendirinya. Elmu luhung, jelas harus diraih. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal jika banyak pihak yang selalu ingin mengejarnya. Damas mestinya mampu memerankan diri sebagai “kawah candradimukanya”, guna mewujudkan semangat tersebut.

Semoga jadi bahan perenungan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Elmu Luhung Kasakti Diri
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *