MajmusSunda News, Kabupaten Ciamis, (8/10/2026) – Banyak nama yang disandang Sri Baduga Maharaja, seperti Jawadewata, Pamanahrasa, Prebu Guru Dewataprana, Sri Sang Ratu Dewata, setelah meninggal dikenal dengan Prebu Ratu.
Sri Baduga Maharaja pendiri pertama Kerajaan Pajajaran (1482 M-1521 M) atau Kerajaan Sunda. Dalam cerita pantun lebih harum dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.
Sri Baduga Maharaja yang punya nama kecil Jayadewata, adalah cucu dari Niskala Wastu Kancana raja yang paling lama bertahta di di Kerajaan Galuh Kawali (1371 M-1475 M). Ayahnya Rahiyang Dewa Niskala menggantikan Niskala Wastu Kancana di Galuh Kawali (1475 M-1482).
Kakeknya Sri Baduga Maharaja, Prabu Niskala Wastu Kancana Maharaja Galuh Kawali yang Agung. Dari Kakeknya ini menetes kepemimpinan seorang Maharaja Pajajaran atau Galuh Pakuan, Sri Baduga Maharaja lebih dikenal dalam ingatan kolektif orang Sunda dengan nama Prabu Siliwangi.
Ia lahir dan menikmati masa-masa kecilnya di Kawali (sekarang Ciamis Utara) atau lebih dikenal dengan Situs Astana Gede. Jayadewata menjadi Raja Pajajaran (Galuh-Sunda). Dicatat dalam Prasasti Batutulis, yang ditemukan di Bogor hingga sekarang prasastinya masih ada.
Prof Edi S Ekadjati dalam buku Nu Maranggung dina Sajarah Sunda menjelaskan Prasasti Batutulis bahannya dibuat dari batu, menggunakan aksara Jawa kuno, bahasanya bahasa Sunda kuno. Prasasti Batutulis dibuat tahun 1455 Saka (i saka panca pandawa emban bumi) atau tahun 1533 M.
Prasasti Batutulis dibuat oleh putra Sribaduga Maharaja yaitu Prabu Surawisesa (1521 M-1533 M) saat mengadakan upacara Srada. (upacara keagamaan peringatan 12 tahun ayahnya meninggal).
Nama Siri Baduga Maharaja dan gelar yang lainnya disebut-sebut lagi dalam Prasasti Kebanten II Sri Sang Ratu Dewata. Berkaitan saat Sri Baduga Maharaja membuat keputusan bahwa Sunda Sembawa dijadikan daerah suci keagamaan (kabuyutan, dewasasana).
Sedangkan Prasasti Kabantenan I dibuat oleh Sri Baduga Maharaja sendiri untuk memperingati kakeknya Niskala Wastu Kencana, yang memberikan amanat kepada anaknya Hyang Ningrat Kancana (Prabu Dewa Niskala).
Dalam amanatnya Niskala Wastu Kancana untuk Ningrat Kencana menitipkan dayeuh (kabuyutan) Jayagiri dan Sunda Sembawa agar dipelihara dan dijaga dari gangguan bangsa lain.
Sri Baduga Maharaja Lahir di Kawali
“Sebenarnya Sri Baduga Maharaja lahir dan besar di Kawali merupakan pusat ibukota Kerajaan Galuh, saat itu dipegang oleh ayahnya Dewa Niskala dan Kakeknya Niskala Wastu Kancana,” kata Prof Ed seperti yang ditulis dalam bukunya Nu Maranaggung dina Sajarah Sundai.
Dari tahun 1382 M sehari-hari pemerintahan di Kerajaan Sunda (Bogor) dijalankan oleh Prabu Susuk Tunggal putra Niskala Wastu Kancana dari istrinya yang dari Lampung. Sedangkan Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) putra Wastu Kancana dari istrinya Mayangsari (putra dari Suradipati pamannya Niskala Wastu Kancana).
Dewa Nisakala sempat menjadi mahamenteri setelah ayahnya meninggal (1475 M) ia meneruskan ayahnya menjadi Raja Galuh. Saat lahir Sri Baduga diberi nama oleh ayahnya Jayadewata atau dalam sastra dikenal Pamanahrasa.
Saat Dewa Niskala menjadi raja di Galuh Kawali terjadi petaka, ia telah melanggar aturan kerajaan menikah lagi dengan putri lain (dari Majapahit). Peristiwa ini hampir membuat prahara Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Prabu Susuk Tunggal akan menyerang Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Dewa Niskala.
Namun beruntung tidak terjadi perpecahan, karena hasil keputusan para tetua Galuh, akhirnya disepakati dan ditunjuk Jayadewata, Pamanahrasa atau Sribaduga Maharaja menjadi Raja Sunda (Galuh-Pakuan).
Saat kejadian ayahnya melanggar aturan keraton, Sri Baduga menggantikan ayahnya Dewa Niskala menjadi Raja Galuh Kawali. Hanya saja pada saat itu karena Sri Baduga juga punya istri dari putra Raja Sunda Susuk Tunggal yang bertahta di Pakuan Bogor (uwanya sendiri).
Untuk menyatukan Galuh -Sunda yang sedang merenggang akibat pelangggaran yang dilakukan Dewa Niskala, Jayadewata dijadikan raja juga di Kerajaan Sunda mengganti mertuanya.
Menjadi Raja di Dua Wilayah Kerajaan
Sri Baduga menjadi maharaja di dua kerajaan (Sunda dan Galuh). Dari sinilah timbul asal-usul nama kerajaan yang sekarang lebih dikenal dengan Pajajaran. Dalam Prasasti Batutulis disebutkan bahwa Sri Baduga dilantik (diwastu) dua kali dan punya dua gelar raja. Pertama Sri Baduga Maharaja yang dilantik menjadi raja Galuh.
Kedua, Sri Baduga Maharaja dilantik jadi raja Sunda. Sri Baduga Maharaja berkuasa di kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda, kendati begitu lebih dikenal dengan penyebutannya Kerajaan Sunda saja. Karena itu Sri Baduga memutuskan untuk tinggal di Pakuan Pajajaran.
Sri Baduga dengan membawa seluruh keluarganya pindah dari Keraton Surawisesa di Kawali menuju tempatnya yang baru Keraton Sunda di Pakuan. Jelas sekali diceritakan dalam naskah Carita Ratu Pakuan ‘Sasaka gading di tapak liman, baaneun ka Pakuan, bur jolian homas, dipuncakan ku camara gading, diliga homas, ngaranna tan garantay, dipuncakan ku irah,…, payung wilis liliga gading, dipuncakan ku mani molah, payung getas dililigan, dipuncakan homas, deung payun saberilen”.
Lokasi dan posisi ibukota Kawali dengan Pakuan tepatnya berada di lingkungan pegunungan jaraknya antar keduanya sekitar 100 KM. Kawali lebih berada di pedalaman hanya bisa ditempuh lewat jalan darat dari Pakuan sekitar 10 hari.
Sedangkan Pakuan lokasi ibukotanya ada dipinggir Sungai Ciliwung, bisa ditempuh lewat laut dari utara dengan kapal (perahu) dari kota pelabuhan Kalapa hanya dua hari.
Tidak heran jika suasana kehidupan di Pakuan lebih dinamis, rupa-rupa dan terkenal dibanding dengan kehidupan di Kawali. Hal ini dicatat pula oleh bangsa Portugis.












