Aku Tersenyum, Melihat Malu dan Kikuknya Dirimu

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (06/10/2026) – Sore itu, untuk pertama kalinya, seorang ayah melihat putrinya pulang diantar seorang pemuda. Putrinya sudah semester tujuh di perguruan tinggi, usia ketika seorang anak perempuan perlahan-lahan meninggalkan dunia kanak-kanaknya dan mulai memasuki ruang kedewasaan. Selama ini ia pulang sendiri, bersama teman-temannya, atau dengan cara yang sudah biasa. Maka ketika sore itu seorang pemuda mengantarnya sampai ke depan rumah, sang ayah hanya bertanya pelan, “Siapa itu, Nak?” Pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi cukup membuat pipi putrinya bersemu. Ada senyum yang disembunyikan, ada pandangan yang sebentar menunduk. Sang ayah pun tersenyum. Bukan senyum seorang ayah yang sedang mencari-cari kesalahan, melainkan senyum seseorang yang sedang melihat waktu berjalan di depan matanya. Aku tersenyum, melihat malu dan kikuknya dirinya.

“Lain kali kalau mengantar, antarlah sampai dekat pintu. Syukur-syukur kalau bisa ketemu Bapak,” kata sang ayah lembut. Kalimat itu justru membuat putrinya semakin kikuk. Sang ayah tersenyum kecil. Ia tahu bahwa ada adab yang perlu dijaga dalam setiap kedekatan, tetapi ia juga tahu bahwa hati anak-anak tidak mungkin dijaga dengan kecurigaan. Ada saatnya orangtua mengingatkan dengan kalimat yang ringan, lalu menyerahkan sebagian perjalanan kepada kedewasaan anaknya. Kasih sayang kadang berbentuk kalimat sederhana yang membuat anak malu, tetapi diam-diam membuatnya merasa tetap berada dalam pelukan perhatian.

Setelah putrinya masuk ke rumah, sang ayah mungkin masih berdiri sebentar. Ia seperti melihat dua waktu sekaligus. Di hadapannya ada seorang anak perempuan yang telah tumbuh menjadi perempuan muda. Di belakang ingatannya, ada seorang gadis dari masa mudanya sendiri. Dahulu ia pernah mengantar seorang gadis menuju rumahnya, dengan perasaan yang barangkali tidak jauh berbeda dari yang kini sedang dirasakan pemuda tadi. Betapa lembut cara waktu mempertemukan kembali masa lalu dengan masa kini. Dulu ia seorang pemuda yang mengetuk pintu rumah orang lain. Kini ia menjadi seorang ayah yang menunggu di balik pintu rumahnya sendiri.

Barangkali begitulah kehidupan mengajarkan manusia tentang pergantian peran. Anak yang dahulu berjalan di samping tangan kita, suatu hari akan berjalan dengan langkahnya sendiri. Yang dahulu bertanya ke mana harus pergi, kelak memiliki seseorang yang ingin ia ajak berjalan bersama. Orangtua pun belajar bahwa mencintai anak bukan berarti menahan seluruh langkahnya. Ada saat untuk menggandeng, ada saat untuk mengingatkan, dan ada saat untuk melepaskan dengan doa. Melepaskan bukan berarti menjauh. Ia hanya bentuk lain dari cinta yang telah matang.

Di sana pula adab menemukan tempatnya. Pergaulan bukan sekadar soal dekat dan jauh, melainkan tentang bagaimana dua manusia belajar menghormati batas, keluarga, dan kehormatan satu sama lain. Sang ayah tidak sedang menutup pintu kehidupan putrinya. Ia justru sedang mengajarkan bahwa siapa pun yang datang mendekati seorang perempuan, datanglah dengan wajah yang terang, dengan sikap yang santun, dan dengan keberanian untuk dikenal oleh keluarganya. Ada keindahan dalam kedekatan yang tidak perlu disembunyikan, ketika ia tumbuh bersama niat baik dan penghormatan.

Dan mungkin, di balik senyum sang ayah, ada doa yang tidak sempat terucapkan. Ia bahagia melihat putrinya telah dewasa, tetapi ada pula getaran halus yang hanya dimengerti oleh orangtua. Anak yang dahulu menjadi pusat kecil dari hari-harinya kini mulai memiliki dunia sendiri. Begitulah amanah kehidupan. Allah menitipkan anak kepada orangtua bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan untuk dibesarkan dengan kasih, dikenalkan pada kebaikan, kemudian dilepas perlahan menuju jalan yang telah disediakan-Nya. Tugas orangtua akhirnya bukan mengatur seluruh perjalanan, melainkan memastikan bekal yang dibawa cukup untuk mengenali mana jalan yang baik dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.

Maka sang ayah tersenyum melihat putrinya yang malu dan kikuk. Senyum itu menyimpan masa muda, kasih sayang, doa, sekaligus kebijaksanaan yang tumbuh bersama perjalanan usia. Ia tahu, mungkin suatu hari nanti akan ada seseorang yang berdiri di depan pintunya bukan sekadar untuk mengantar putrinya pulang, tetapi untuk menyampaikan niat yang lebih jauh. Ketika hari itu datang, mungkin senyum yang sama akan kembali hadir. Sebab hidup memang demikian. Kita pernah menjadi anak yang mengetuk pintu, lalu menjadi orangtua yang membukakan pintu. Dan di antara pintu yang terbuka itu, kita belajar bahwa cinta yang paling indah adalah cinta yang menjaga tanpa mengurung, membimbing tanpa menguasai, dan akhirnya menyerahkan segala yang dicintai kepada Pemilik kehidupan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Aku Tersenyum, Melihat Malu dan Kikuknya Dirimu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *