MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Jumat (15/08/2025) – Esai berjudul “Bermula dari Tukang Kayu” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, Indonesia ini negeri kayu. Rumah-rumah dulu bersandar pada reng dan kaso; tiang, kursi sidang, hingga palu hakim lahir dari batang hutan. Kayu bukan sekadar benda, tetapi bahasa kehidupan.
Namun, antara perlindungan dan ancaman, batasnya tipis. Di tangan tukang kayu yang arif, negeri tertata, tetapi jika tukang kayu “main kayu”, tangan yang mestinya menyokong jadi mengacaukan.

Menata bangsa pun mesti dimulai dari hikmah kayu—tersirat dalam peribahasa, tersimpan dalam filosofi yang pelan-pelan terlupakan.
“Adakah kayu di rimba sama tinggi?” Tidak. Rimba mencerminkan masyarakat: ada yang cendekia, ada yang tersisih; yang kaya menjulang, yang papa merunduk. Maka, adil-lah dalam menakar.
“Bagai siamang kurang kayu.” Kekurangan bukan sekadar perut kosong, tetapi kehilangan pegangan harapan.
“Berkurai hendak memanjat kayu.” Tak semua pucuk bisa dicapai tanpa tangga. Mimpi pun perlu pijakan.
“Besar kayu, besar bahannya.” Gaji besar kerap disertai pengeluaran tinggi. Tanpa bijak, keberlimpahan jadi beban.
“Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.” Aturan yang bengkok membuka jalan bagi penyamun. Negeri sering runtuh bukan oleh badai, tetapi oleh celah yang dibiarkan.
“Hidup kayu berbuah, hidup manusia biar berjasa.” Kalau kayu diam bisa memberi buah, manusia mestinya meninggalkan jejak kebaikan.
“Rendah bilang-bilang disuruki, tinggi kayu ara dilangkahi.” Ada tata dalam berhubungan. Kesantunan adalah pilar pergaulan.
“Tanah lembah kandungan air, kayu bengkok titian kera.” Kejahatan kerap tumbuh dari tanah yang telah rusak. Lingkungan ikut membentuk laku.
“Tiada kayu, janjang dikeping.” Kalau yang utama tiada, gunakan yang tersedia. Jangan menunggu kesempurnaan, sebab penundaan bisa membawa aib.
Kita memang negeri kayu. Tapi jangan jadi bangsa patah ranting atau busuk akar. Bila kita mampu membaca hikmahnya, niscaya negeri ini bisa tumbuh: berakar dalam, menjulang tinggi, dan berbuah lebat.
***
Judul: Bermula dari Tukang Kayu
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












