Gabah: Emas yang Terkubur di Sawah-Sawah Indonesia

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Sawah
Ilustrasi: Area persawahan di Indonesia - (Sumber: Arie/MMS)

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Selasa (05/08/2025) – Artikel berjudul “Gabah: Emas yang Terkubur di Sawah-Sawah Indonesia” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Di bawah terik matahari yang membakar, petani-petani kita membungkuk, menanam, memanen—tahun demi tahun—tanpa pernah menyadari bahwa di dalam setiap butir gabah yang mereka pelihara tersimpan harta karun yang bisa mengguncang dunia. Ini bukan sekadar beras. Ini adalah kandungan nutrisi yang bernilai triliunan, senyawa bioaktif yang diburu industri farmasi global, potensi yang selama ini kita lewatkan begitu saja.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: alumniipbpedia.id)

Sementara kita sibuk berdebat tentang impor beras dan stok Bulog, atau beras oplosan, di sisi lain dunia sudah bergerak lebih cepat. Gamma-oryzanol, asam ferulat, fitosterol—nama-nama asing itu adalah “emas putih” baru yang diekstrak dari gabah, dijual dengan harga selangit.

Ironisnya, kita justru mengimpor kembali produk olahan ini dengan harga premium, sementara bahan bakunya terbuang sia-sia di tanah air sendiri, terutama dalam bentuk rice bran atau dedak. Kita juga abai akan potensi sekam untuk menghasilkan energi sebagai basis industrialisasi perdesaan.

Kalkulasi yang Akan Mengubah Segalanya 

Bayangkan ini: 1 kg gabah biasa: Rp 5.000–8.000 di pasar; 1 kg gabah jika dihitung per nutrisinya: Rp 64.000–80.000;  1 kg ekstrak gamma-oryzanol: Rp 16–32 juta.

Kita ambil produksi 50 juta ton gabah Indonesia per tahun, jika diolah menjadi produk bernutrisi tinggi, nilainya bisa mencapai Rp 40.000 triliun. Nilai ini 25 kali lipat APBN kita.  Nilai dari pertanian yang berkebudayaan industri, konsep pembangunan pertanian yang dilahirkan BAPPENAS 30 tahun yang lalu.

Namun, di mana uang itu sekarang? Menguap karena kita hanya menilai gabah sebagai komoditas mentah, bukan sebagai bahan industri farmasi dan nutrisi yang tak ternilai.

Ironi yang Memilukan 

Fakta yang perlu kita hadapi:  Kita ekspor dedak padi (limbah penggilingan beras) dengan harga murah ke negara-negara seperti Jepang dan Korea; Mereka mengolahnya menjadi minyak dedak padi (rice bran oil) dan ekstrak bioaktif bernilai tinggi; Kita justru mengimpor kembali produk turunan tersebut dalam bentuk suplemen dan kosmetik dengan harga ratusan kali lipat.

sawah
Ilustrasi: Suasana area persawahan yang membentang luas di salah satu desa di Indonesia – (Sumber: Arie/MMS)

Contoh nyata: 

Gamma-oryzanol dari Jepang dijual Rp 1,5–3 juta per kg (sumber: Alibaba, 2024), padahal bahan bakunya berasal dari dedak padi yang kita ekspor hanya Rp 2.000–5.000 per kg.

Revolusi Atau Mati di Sawah-Sawah Kita Sendiri

Kita punya dua pilihan:

Pertama, terus seperti ini:  Ekspor bahan mentah murah;  Impor produk jadi mahal; Lingkaran gelap.

Lingkaran gelap tersebut mengancam akan terjadinya kepunahan, sebagaimana diperlihatkan oleh data konversi lahan sawah ke penggunaan lain khususnya perumahan, infrastruktur, dan industri, tanpa kita pernah memahami bahwa yang kita konversi itu adalah industri strategis sendiri berupa persawahan-persawahan warisan leluhur.

Kedua, berani berubah:  Bangun industri pengolahan gabah nasional; Ubah limbah menjadi emas; Jadikan petani sebagai pemilik saham industri hilir.

Vietnam dan Thailand sudah memulai. Mereka tak hanya ekspor beras, tapi juga:  Tepung beras untuk industri makanan; Sirup glukosa dari beras, dan; Bahkan ekstrak senyawa bioaktif.

Langkah Nyata yang Bisa Kita Lakukan 

  1. Stop ekspor dedak padi mentah. Wajibkan pengolahan di dalam negeri.
  2. Bangun pusat riset gabah nasional untuk ekstraksi senyawa bioaktif.
  3. Bentuk klaster industri berbasis gabah di sentra-sentra produksi.
  4. Latih petani menjadi teknopreneur yang paham nilai tambah produk mereka.

Penutup: Gabah Bukan Sekadar Pangan, Tapi Masa Depan 

Di tangan kita ada pilihan: Memahami pertanian seperti selama ini atau mengubah pertanian sebagai suatu industri strategis berkelanjutan dengan melihat nilai produk yang diberikannya berlandaskan pertanian berkebudayaan industri.

Ini bukan mimpi. Saatnya Indonesia menjadikan padi lebih bernilai daripada emas, yaitu masa depan. Kita punya bahan bakunya. Kita punya pasar. Tinggal kemauan politik yang dibutuhkan.

***

Judul: Gabah: Emas yang Terkubur di Sawah-Sawah Indonesia
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *