Apakah Indonesia Bisa Diperbaiki?

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif

Jakarta, Indonesia
Ilustrasi: Kota Jakarta, Indonesia - (Sumber: Arie/MMS)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Minggu (20/07/2025) Esai berjudul “Apakah Indonesia Bisa Diperbaiki?” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, pertanyaan itu terbit dari sudut-sudut gelap harapan: Masih bisakah Indonesia diperbaiki? Ia muncul bukan dari kebencian, tapi dari cinta yang terlalu sering dikhianati. Cinta yang lelah menyaksikan impian dijual murah di meja kekuasaan.

Negeri ini seperti rumah tua yang terus ditambal, namun selalu bocor saat hujan turun. Fondasinya retak oleh kerakusan, jendelanya buram oleh dusta, dan ruang-ruangnya dipenuhi reruntuhan kata yang tak pernah mewujud integritas tindakan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, Penulis – (Sumber: Instagram Yudi Latif)

Kita hidup di tengah keindahan yang digerogoti, dalam riwayat kebesaran yang kini bergema sebagai ironi. Hukum menjadi sandiwara, keadilan dijadikan lelucon, dan kata “rakyat” dijadikan mantra, tanpa pernah menjadi kompas nurani. Kita mendengar pidato demi pidato, janji demi janji—namun yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan keletihan kolektif.

Namun barangkali, pertanyaannya bukan: bisakah? Melainkan: maukah? Maukah kita berhenti meratap dan mulai merawat? Maukah kita membersihkan kaca jendela agar cahaya bisa masuk kembali? Maukah kita menambal bukan sekadar tembok, tapi nurani yang bolong?

Indonesia bukan luka yang tak bisa disembuhkan. Ia hanya terlalu lama dibalut dengan kepura-puraan. Dan bila terus dibiarkan, luka itu akan bernanah menjadi sikap apatis –kesunyian yang menyerah.

Namun, selama masih ada satu hati yang bersedia mencintai tanpa syarat, satu jiwa yang memilih jujur meski sunyi, satu tangan yang menolak korupsi meski hidup terlilit kesulitan—di sanalah perbaikan bermula.

Pelan. Sunyi. Tak gebyar. Tapi tak sia-sia.

Sebab negeri ini tak dibangun oleh mereka yang paling lantang, melainkan oleh mereka yang paling setia. Yang bekerja diam-diam, tapi tak pernah meninggalkan harapan.

***

Judul: Apakah Indonesia Bisa Diperbaiki?
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Prof. Yudi Latif, penulis - (Sumber: Instagram)
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Instagram)

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *