MajmusSunda News, Kamis (10/07/2025) – Artikel berjudul “Pendidikan Unggul” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, dunia pendidikan kita tak kunjung mengalami kemajuan, karena setiap rezim pendidikan berganti, pusat perhatiannya tetap sama, tertuju pada perubahan prosedur. Tak pernah menjangkau substansi pendidikan.

Padahal, inti pendidikan bukan sekadar menyusun kurikulum atau mengatur ujian. Pendidikan sejati adalah upaya memahat manusia: membentuk karakter yang tangguh, membuka cakrawala pengetahuan, dan mengasah keterampilan hidup. Ia adalah proses menyemai benih potensi menjadi kapabilitas yang berbuah nyata.
Kapabilitas tumbuh ketika insan diberi ruang untuk belajar dalam kebebasan dan kesetaraan—didorong memilih tindakan yang bernilai dan bermakna. Pendidikan bukan hanya mendidik akal, tetapi juga menuntun jiwa untuk memahami tujuan hidupnya.
Untuk itu, perlu keseimbangan antara pengembangan potensi kodrati, pendekatan yang menghargai keberagaman kecerdasan, dan dukungan sarana yang merata. Domain dan field harus tersedia: ruang untuk bertumbuh dan medan untuk menjelajah.
Namun, kemampuan tanpa keberfungsian hanya akan melayang di awang-awang. Pendidikan unggul harus membekali manusia untuk bertindak dalam dunia nyata—menghadapi kompleksitas hidup sebagai generalis yang tangguh dengan keahlian khas.
Dan itu menuntut ekosistem yang menopang: politik yang meritokratis, ekonomi yang inklusif. Kapabilitas yang dibentuk di ruang kelas hanya akan tumbuh bila dipelihara dalam tanah yang menjamin kesetaraan dan membuka jalan inovasi.
Maka sistem pendidikan, inovasi, dan ekonomi harus teranyam dalam satu harmoni. Talenta unggul akan sia-sia tanpa ekosistem yang menumbuhkan. Pendidikan yang unggul tak diukur dari seberapa banyak yang diajarkan, tapi seberapa jauh manusia dibebaskan—untuk mencipta, memperbarui, dan mengubah dunia.
***
Judul: Pendidikan Unggul
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












