MajmusSunda News, Kolom OPINI, Bandung, Jawa Barat, Jum’at (27/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Membandingkan Kang Dedi Mulyadi dengan Wiro Sableng. Tinjauan Filosofi Kepemimpinan dan Perjuangan” ditulis oleh Anto Ramadhan, Pengamat Budaya, tinggal di Cicadas kota Bandung.
Berdasarkan analisis terhadap Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan tokoh fiksi Wiro Sableng (WS), keduanya ada perbandingan mendalam dalam berbagai dimensi. Perbandingan yang cukup unik, karena membandingkan figur tokoh politik nyata dengan karakter sastra.

Ditinjau dari dimensi kepahlawanan, KDM adalah pejuang budaya di dunia nyata yang menggunakan politik sebagai “kapak” nya menghadapi tantangan moderen seperti intoleransi dan disinformasi, sedangkan WS adalah pahlawan simbolis yang mengkonsolidasikan mitos nusantara dalam cerita rakyat.
Dengan senjata kapak dan “tato 212 “yang ikonik, WS menawarkan fantasi tentang keadilan yang tercapai di dunia nyata.
Kesamaan utama dari “Narasi Pahlawan Lokal” antara keduanya, secara “alkuturasi budaya”, KDM memadukan Islam dan Sunda, sedangkan WS memadukan Jawa, Budha, dan mitos Tiongkok.
Jika dilihat dari aspek perlawanan hegemoni, KDM berhadapan dengan kelompok radikal agama, sedangkan WS berhadapan dengan penjahat korup dan asing. Namun keduanya berhasil bertranformasi, KDM dari politisi kontroversial menjadi pemimpin yang diakui, WS dari pemuda liar menjadi pendekar bijak.
Melompat ke dimensi “Filosofi Kepemimpinan dan Perjuangan”
KDM dianggap berhasil melestarikan budaya Sunda dan mengusung toleransi beragama serta melakukan diplomasi budaya melalui simbol lokal antara lain patung, wayang, dan ungkapan “Sampurasun”. KDM pun kerap melakukan dialog lintas agama.
Di sisi lain dengan bersenjatakan “Kapak Sakti” WS pun melakukan penegakan keadilan dan perlindungan kaum lemah, melawan penjahat, siluman dan penghianatan ahli supra natural di dunia persilatan.
Dilihat dari Tinjauan Relasi dengan Tradisi dan Spiritualitas
KDM menghidupkan kearifan Sunda, misalnya mempromosikan ungkapan “Sampurasun” serta mendukung penganut Sunda Wiwitan untuk hidup harmonis dengan pemeluk agama lain . KDM juga menolak diklaim sebagai “Titisan Prabu Siliwangi” oleh penganut Sunda Wiwitan, dan menegaskan identitasnya sebagai Muslim.
Lain lagi dengan Wiro Sableng, dia berakar pada mitologi Jawa-Buddha dengan elemen gaib, tato”212″, kapak Naga Geni.
WS bertransformasi karakter dari pemuda kasar (sableng) menjadi bijaksana. Melalui petualangan spiritual,
Wiro berhasil menjadi lebih dewasa, ia mengurangi sikap sableng-nya dan lebih memilih berdamai dengan diri. Dia
rela berkorban, mengalah dalam cinta, mundur saat wanita pilihannya memilih orang lain.
Giliran masuk dimensi Representasi dalam Budaya Populer dan Masyarakat, keduanya sangat berbeda. KDM masuk ke dalam politik nyata dan kontroversi publik. Kalau di studi gender ada yang namanya sexual decoys. KDM ini “cultural decoys”. Budaya ditampilkan sebagai persona.
KDM memakai medsos sebagai senjata utama. Dia memiliki akun You Tube “Kang Dedi Mulyadi Channel” dengan jumlah 6,9 juta subscariber dan 2 miliar lebih tayangan video. Akun Instagram (IG) @dedimulyadi71 mencapai 3 juta followers fanatik.
Sedangkan WS adalah mitos lokal 300 Novel 212 Kapak Naga Geni dengan berbagai jurus andalannya antara lain jurus “Kunyuk Melempar Buah, jurus “Pukukan Matahari” dan “Ilmu Silat Orang Gila ” yang menjadi ikon heroik lintas budaya Nusantara.
Faktanya Dua Model Kepahlawanan
KDM dan WS sama-sama merepresentasikan perjuangan identitas kultural di Indonesia, tetapi dengan arena berbeda:
- KDM adalah pejuang budaya di dunia nyata yang menggunakan politik sebagai “kapak”-nya, menghadapi tantangan modern seperti intoleransi dan disinformasi.
- WS adalah pahlawan simbolis yang mengonsolidasikan mitos Nusantara dalam cerita rakyat, menawarkan fantasi tentang keadilan yang tak tercapai di dunia nyata.
Keduanya membuktikan bahwa kepahlawanan tak selalu lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian mempertahankan akar di tengah perubahan zaman. (Berbagai Sumber, AI)
***
Judul: Membandingkan Kang Dedi Mulyadi Dengan Wiro Sableng. Tinjauan Filosofi Kepemimpinan dan Perjuangan
Penulis: Anto Ramadhan (Pengamat Budaya)
Editor: Asep Ruslan












