MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (13/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Bansos Beras : Kebutuhan atau Pelengkap Kehidupan?” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Bansos beras adalah singkatan dari Bantuan Sosial Beras, yaitu program bantuan pemerintah yang memberikan beras kepada masyarakat miskin atau rentan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan mereka. Bansos beras biasanya diberikan dalam bentuk paket beras yang disalurkan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) melalui berbagai saluran, seperti kantor pos, pasar, atau langsung ke rumah KPM.

Tujuan bansos beras adalah untuk pertama mengurangi kemiskinan. Dengan memberikan bantuan pangan kepada masyarakat miskin, bansos beras dapat membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Kedua,
meningkatkan ketahanan pangan. Bansos beras dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat miskin dengan memberikan akses kepada pangan yang cukup dan bergizi.
Ketiga, mengatasi kesulitan ekonomi. Bansos beras dapat membantu masyarakat miskin mengatasi kesulitan ekonomi dengan memberikan bantuan pangan yang dapat mengurangi beban pengeluaran mereka. Dengan begitu, biaya yang digunakan untuk membeli beras dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya
Bansos beras biasanya diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu, seperti masyarakat miskin yaitu mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak memiliki akses kepada pangan yang cukup. Selanjutnya, masyarakat rentan, yaitu mereka yang rentan terhadap kemiskinan, seperti lansia, anak-anak, dan orang dengan disabilitas. Dan korban bencana, yaitu mereka yang terkena dampak bencana alam atau konflik dan membutuhkan bantuan pangan darurat.
Bagi bangsa ini, Bansos Beras dapat berfungsi sebagai kebutuhan pokok maupun pelengkap, tergantung pada konteks dan tujuan program. Bagi masyarakat yang masih belum diberi kenikmatan oleh pembangunan, Bansos Beras merupakan “dewa penoling” kehidupan. Berikut adalah beberapa kemungkinan peran Bansos Beras.
Sebagai kebutuhan pokok, artinyq Bansos beras dapat menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat miskin atau rentan yang tidak memiliki akses kepada pangan yang cukup. Atau, dalam situasi darurat atau bencana, bansos beras dapat menjadi sumber pangan utama bagi mereka yang terkena dampak.
Sedangkan sebagai pelengkap, Bansos beras dapat berfungsi sebagai pelengkap bagi masyarakat yang memiliki akses kepada pangan yang cukup, tetapi masih membutuhkan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Lalu, dalam program pembangunan, bansos beras dapat digunakan sebagai insentif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan.
Namun, dalam konteks Indonesia, Bansos Beras umumnya diberikan sebagai kebutuhan pokok bagi masyarakat miskin atau rentan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan mereka. Bagi mereka, Bansos Beras adalah penyambung nyawa kehidupan yang kehadirannya selalu dinantikan.
Masalah pokok pelaksanaan bansos beras di Indonesia adalah menjaga keseimbangan harga gabah di tingkat petani agar tidak jatuh terlalu rendah. Pemerintah menghentikan sementara distribusi bantuan pangan beras untuk mencegah kelebihan pasokan di pasar yang dapat menyebabkan harga gabah sulit naik. Hal ini berdampak pada kesejahteraan petani, sehingga pemerintah perlu menyeimbangkan sektor hulu dan hilir, terutama saat panen raya.
Beberapa masalah lainnya adalah keseimbangan harga. Artinya harga gabah di beberapa daerah masih berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Selanjutnya dari sisi penyaluran Bansos, Pemerintah menunda distribusi bansos beras sementara waktu untuk menjaga keseimbangan harga gabah. Kemudian,
sasaran Bansos.
Artinya, Pemerintah terus memperbarui data penerima bantuan agar lebih tepat sasaran, dengan fokus pada kelompok desil 1 dan 2, termasuk perempuan kepala keluarga miskin dan lansia yang hidup sendiri. Selain itu perlu dicari lagi kebijakan kontroversial. Ada pendapat bahwa kebijakan bansos beras bisa kontraproduktif dengan upaya diversifikasi pangan, karena terlalu fokus pada beras.
Pemerintah berkomitmen untuk membantu masyarakat miskin dan rentan melalui Bansos Beras, namun juga harus mempertimbangkan kesejahteraan petani dan stabilitas harga pangan secara nasional. Sebagai operator pangan Pemerintah, Perum Bulog penting melakukan pengawalan dan pengamanan atas beras yang dijualnya.
Jujur diakui, sebagian beras masyarakat berpenghasilan rendah, sangat memerlukan adanya Bansos Beras. Bagi mereka, Bansos Beras merupakan kebutuhan utama yang harus disiapkan Pemerintah, agar masyarakat yang tercatat sebagai kelompok penerima manfaat, mampu menyambung nyawa kehidupan.
Program bansos beras di Indonesia, sepertinya akan terus berlanjut dengan beberapa penyesuaian untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Beberapa hal yang dapat diharapkan ke depan diantaranya, Pemerintah mempercepat penyaluran bansos beras 10 kg kepada 18,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada Juni dan Juli 2025. Setiap KPM akan menerima 20 kg beras sekaligus untuk dua bulan.
Selanjutnya, Bansos beras akan diberikan kepada keluarga yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Mayoritas penerima berasal dari kelompok desil 1 dan 2, yaitu masyarakat miskin, bahkan di berbagai daerah masih ada yang terkategorikan kemiskinan ekstrim.
Kemudian, koordinasi antar Instansi. Penyaluran bansos beras melibatkan koordinasi antara Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, dan instansi terkait lainnya untuk memastikan bantuan sampai tepat kepada penerima yang berhak. Terakhir, Pemerintah memastikan bahwa penyaluran bansos ini tepat sasaran dengan melakukan pengawasan dan validasi data penerima. Sekitar 16,5 juta KPM sudah terverifikasi, dan sisanya masih dalam proses validasi.
Catatan kritisnya, program bansos beras diharapkan dapat membantu masyarakat miskin dan rentan dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka. Tinggal sekarang bagaimana kesungguhan segenap komponen bangsa melakoninya.
***
Judul: Bansos Beras : Kebutuhan atau Pelengkap Kehidupan?
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












