MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Selasa (10/06/2025) – Esai berjudul “Tanah Airku” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, aku melihat Indonesia yang redup di arena politik, namun menemukan nyalanya yang membara di Stadion Utama Gelora Bung Karno—tempat di mana cinta tanah air bukan sekadar kata, melainkan gairah yang bergelora dalam jiwa, raga dan suara.
“Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku…”

Ketika bait itu mengalun, ia menyusup seperti angin subuh ke lorong-lorong batin. Lagu itu bukan sekadar melodi—ia adalah nadi sejarah, darah harapan. Mengalir dari sawah basah hingga pelabuhan tua, dari senyum ibu hingga pekik merdeka. Ia menggema seperti doa purba yang menuntun anak-anak bangsa pulang—kepada tanah, kepada air, kepada ibu.
Ketika lagu itu dinyanyikan serempak di tengah riuh stadion, ia menjelma menjadi jantung kolektif. Ribuan suara bersatu dalam bara yang sama: merah, putih, dan tekad. Tak ada jarak antara yang bersarung dan berjaket kulit, antara Papua dan Aceh—semua melebur menjadi satu tubuh: Indonesia yang sedang berteriak, mencintai, memperjuangkan.
Mereka datang dengan wajah dicat warna bendera, membawa gendang, yel-yel, dan harap. Bukan sekadar penonton—mereka adalah peziarah, menempuh jarak jauh hanya untuk menyanyikan bait yang dihafal dengan dada: “Tanah airku tidak kulupakan…”.
Itu bukan hiburan, itu persekutuan munajat. Bukan tontonan, tapi pernyataan kesetiaan.
Di tengah lautan manusia, gotong royong bukan slogan, tapi napas. Yang satu tersandung, yang lain mengangkat. Yang kehilangan suara, disodori bendera untuk tetap berseru. Di setiap tangan yang menepuk bahu. Di setiap genggaman yang membentangkan koreografi raksasa. Di setiap peluh yang tak dikeluhkan, karena cinta, seperti patriotisme, memang tak selalu nyaman, tapi selalu setia.
Mencintai negeri ini bukan soal memilih, tapi mengalami bersama: menderita, berharap, menang.
Ketika peluit berbunyi—menang atau kalah—mereka pulang dengan nyanyian yang tetap: “Tanah airku tidak kulupakan…”.
Karena sejatinya, lagu itu tidak pernah selesai. Ia hidup di dada yang terus menyanyikannya. Bahkan, dalam bisu. Ia adalah suara bangsa—yang tak akan diam, selama masih ada satu jiwa yang berseru: “Indonesia!”.
***
Judul: Tanah Airku
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












