Harga Beras Merangkak Naik

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (05/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Harga Beras Merangkak Naik” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Jujur diakui, Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih dijadikan ukuran perkembangan harga beras nasional karena beberapa alasan. Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dicermati dengan seksama. Pertama sebagai Pusat Distribusi Beras. PIBC merupakan salah satu pusat distribusi beras terbesar di Indonesia, sehingga harga di pasar ini dapat mempengaruhi harga beras di seluruh negeri.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kedua, terkait dengan ketersediaan data. PIBC memiliki data harga beras yang akurat dan terkini, sehingga dapat dijadikan referensi untuk memantau perkembangan harga beras nasional. Ketiga, pengaruh terhadap harga nasional. Harga di PIBC dapat mempengaruhi harga beras di pasar lainnya, sehingga menjadi indikator penting untuk memantau inflasi dan stabilitas harga pangan nasional.

Keempat, koneksi dengan sentra produksi. PIBC memiliki koneksi dengan sentra produksi beras di Jawa dan luar Jawa, sehingga harga di pasar ini dapat mencerminkan kondisi pasar beras secara nasional. Catatan pentingnya, PIBC menjadi salah satu pasar acuan untuk memantau perkembangan harga beras nasional dan membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait stabilitas harga pangan.

Dalam beberapa hari terakhir ini, para pedagang beras di Pasar Cipinang menyatakan, harga beras mulai merangkak dan mengalami kenaikan, karena pasokan dari daerah terbatas dan permintaan cukup tinggi. Padahal, pemerintah berulang kali merilis, stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog berlimpah dan cetak rekor bersejarah.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras mengalami kenaikan 2,37% secara tahunan di bulan Mei 2025., sekalipun secara bulanan turun tipis 0,01% dibandingkan April 2025. Sementara, harga di tingkat grosir dan eceran mengalami lonjakan, baik secara tahunan maupun bulanan.

Di tingkat grosir, harga beras di bulan Mei 2025 naik 0,05% dan secara tahunan naik 2,07%. Dan di tingkat eceran, harga beras bulan Mei 2025 ternyata sudah lebih mahal 2,46% dibandingkan Mei 2024, dan naik 0,20% dibandingkan April 2024. Padahal, Angka Tetap Subround I produksi beras nasional, yaitu di bulan Januari-April 2025, justru melonjak 26,54% atau 2,94 juta ton menjadi 14,01 juta ton dibanding periode sama tahun 2024 yang tercatat hanya 11,07 juta ton.

Tak hanya itu, Kementerian Pertanian (Kementan) pada 31 Mei 2025 lalu merilis, stok cadangan beras pemerintah (CBP) sudah menembus angka 4 juta ton. Angka ini diklaim sebagai capaian tertinggi sejak Bulog berdiri tahun 1969. Disebutkan Kementan, serapan beras lokal oleh Perum Bulog hingga 31 Mei 2025, mencapai 2,429 juta ton.

Pencapaian ini pun diklaim sebagai yang tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Angka ini melonjak lebih dari 400 persen dibandingkan dengan periode sama dalam 5 tahun terakhir. Hal ini tentu saja sebuah prestasi yang membanggakan dan layak mendapat acungan jempol. Jarang sekali Pemerintah mampu menggapai prestasi seperti ini.

Lalu muncul pertanyaan, jika stok beras berlimpah, mengapa harga merangkak naik ? Atas gambaran ini, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pun blak-blakan menunjuk dalang di balik kenaikan harga beras yang sedang terjadi. Mentan Amran neenyatakan, kenaikan harga beras ini disebabkan adanya permainan.

“Harga grosir turun, tapi di hilir naik sedikit. Ngerti nggak apa maksudnya? Kalau di petani turun, di grosir turun, di tingkat eceran menurut anda apa ?”. Saat ditanya apakah karena permainan, Amran pun membenarkan ada “middleman-nya”. Kemungkinan adanya permainan atau manipulasi harga di pasar beras, menang cukup besar.

Berdasarkan pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, ia menyatakan bahwa ada permainan di pasar beras yang menyebabkan harga grosir turun tapi harga di hilir naik. Ia juga meminta Bulog untuk melakukan investigasi dan mengambil tindakan tegas terhadap pelaku usaha yang bermain-main dengan harga.

Beberapa indikasi permainan ini dapat dicermati dari perbedaan harga yang signifikan. Harga beras di grosir turun, tapi harga di pedagang eceran naik, menunjukkan adanya kemungkinan permainan harga. Lalu bisa juga karena keterlibatan pelaku usaha. Menteri Pertanian menyebutkan bahwa ada pelaku usaha yang bermain-main dengan harga, sehingga perlu tindakan tegas.

Dihadapkan pada hal demikian, sebetulnya dibutuhkan adanya tindakan Pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya. Ada dua langkah yang bisa ditempuh. Pertama investigasi. Petum Bulog diminta untuk melakukan investigasi terkait permainan harga di pasar beras. Kedua, tindakan tegas. Pemerintah perlu mengambil tindakan tegas terhadap pelaku usaha yang bermain-main dengan harga.

Mencermati langkah-langkah yang ditempuh diatas, Pemerintah tampak berupaya untuk meningkatkan transparansi dan keadilan di pasar beras, serta melindungi konsumen dan petani dari praktik-praktik yang tidak sehat. Upaya ini diharapkan akan mampu mengembalikan harga beras di pasar ke posisi yang normal. Mari kita amati perkembangannya.
Semoga jadi bahan perenungan bersama.

***

Judul: Harga Beras Merangkak Naik
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *