MajmusSunda News, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, (28/10/2026)-Perjalanan Gubernur Sewaka bersama rombongan dari Kampung Lebaksiuh Desa Cipicung, Kecamatan Culamega menuju Kampung Cisurupan, Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, Tasikmalaya Selatan/Tasela) mungkin sesuatu yang sangat tidak diharapkan
Tahun 1947 saat Gubernur Sewaka mengungsi belum ada Kecamatan Culamega atau Cipatujah, saat itu wilayahnya tempat pengungsian Gubernur Sewaka (Kampung Lebaksiuh, Kampung Pojok, Kampung Cisurupan) dulu masuk masuk wilayah Kecamatan Bantarkalong
Lebaksiuh saat itu sudah sangat genting, karena pihak Belanda dengan mata-matanya telah mencium keberadaan Gubernur Sewaka bersama rombongannya di Lebaksiuh.
Demi menyelamatkan perjuangan mempertahankan Pemerintahan Darurat Jawa Barat Gubernur Sewaka sebelum ke Kampung Cisurupan singgah dulu di Kampung Pojok sekitar 2 KM dari Lebaksiuh (1947).

Dikutip dari buku Antara Lebaksiuh dan Cisurupan: Mengenang Gubernur Sewaka di Pengungsian ditulis oleh Agung Ilham Setiadi, dengan berbagai pertimbangan dan hasil musyawarah bersama Letkol R Sutoko karena Lebaksiuh sudah tidak aman.
Gubernur Sewaka bersama rombongan memutuskan dengan berat hati dari Lebaksiuh harus hijrah ke Cisurupan (sekarang masuk Desa Nagrog) nun jauh disana, Hanya saja saat itu Gubernur Sewaka tidak langsung ke Cisurupan. Namun singgah dulu di Kampung Pojok selama satu minggu
Kampung Pojok lokasinya bisa dikatakan sangat tersembunyi dan dimungkinkan aman Sewaka menggelar pertemuan rahasia menggelar rapat dengan beberapa perangkat pegawai sipil Jawa Barat, TNI dan unsur perjuangan penting lainnya.
Karena saat itu Pemerintahan Darurat Jawa Barat di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, masih Kecamatan Culamega, kondisinya sudah sangat genting dan rawan tercium oleh mata-mata Belanda yang sudah menguasai Jawa Barat.

Gubernur Sewaka mencari tempat yang aman selain Lebaksiuh, dan memastikan Kampung Pojok menjadi tempat rapat akbar untuk menentukan langkah selanjutnya
Pertemuan Rahasia Gubernur selama di Kampung Pojok menjadi ingatan kolektif warga Kampung Pojok yang tidak terputus dari lintas generasi sejak Gubernur Sewaka menginjakkan kakinya di Kampung Pojok
Hingga sekarang warga Kampung Pojok masih mengingat dan terus menjadi cerita yang tidak pernah putus.
Dikutip dari buku Bergerilya Bersama Sewaka Mengenang Jejak Sang Penyelamat Jawa Barat ditulis Agung Ilham Setiad (edisi revisi) Hj Darmi warga Kampung Pojok menceritakan saat Gubernur Sewaka bersama rombongan datang menempati rumah ibunya.

Hj Darmi usianya kini sekitar 80 tahun masih jumeneng menuturkan dari Ibunya Sapsah saat Gubernur Sewaka bersama rombongannya datang pertama di Kampung Pojok menggelar rapat di rumah ibunya dijadikan bale pertemuan rahasia.
Darmi mengatakan kendati saat itu usianya baru 4 tahun, namun ia masih mengingat dan mendengarkan cerita Gubernur Sewaka dari ibunya, bahwa rumahnya dijadikan tempat rapat oleh Gubernur Sewaka dan para pejuang.
Saat itu imbuh Darmi, ada tiga rumah yang ditempati rombongan Gubernur Sewaka yaitu rumah milik Sudinta, Sarnawi dan Sapsah. Ketiga rumah tersebut ditutup lampit (kere/anyaman bambu) agar kedap suara.
Demi keamanan Letkol Sutoko memerintahkan kepada Kopral Udis untuk merobohkan Jembatan Cijalu yang merupakan akses menuju Lebaksiuh
“Saat itu ibu saya untuk sementara pindah ke dekat sawah sebelah Barat. Rumah ibu saat itu dibalut lampit agar kedap suara dibuat dari bahan bambu,” tutur Darmi saat ditemui di rumahnya di Kampung Pojok, Selasa, (8/9/2026).
Situasi Kampung Pojok tak lepas dari incaran Belanda, demi untuk mempertahan Pemerintahan Jawa Barat, Gubernur Sewa bersama rombongan dengan sangat berat hati harus pindah ke tempat yang lebih jauh lagi ke Kampung Cisurupan sekitar 6 KM dari Kampung Pojok

Istri Gubernur Sewaka Ditandu Menuju Kampung Cisurupan
Dikutip dari buku Antara Lebaksiuh dan Cisurupan: Mengenang Gubernur Sewaka di Pengungsian dari Uhri salah satu saksi hidup (sekarang sudah almarhum) warga Bojongsari yang melihat langsung saat Gubernur Sewaka menuju Cisurupan lewat Bojongsari.
Uhri menuturkan saat Gubernur Sewaka lewat di kampungnya kebagian tugas memandu Gubernur Sewaka. Berdasarkan kesaksiannya Gubernur Sewaka bersama rombongannya pengantarnya cukup banyak dari Kampung Pojok dan kampung lainnya yang sempat dilewati oleh rombongan.
Tidak hanya itu Gubernur Sewaka juga dikawal oleh beberapa pemuda dari Lebaksiuh dan Kampung Pojok. Sedangkan kaum perempuannya terutama istri Gubernur Sewaka (Ibu Ana Gartina) karena medan yang sangat sulit dan masih hutan belantara terpaksa harus ditandu (digotong).
Perjalanan Gubernur Sewaka dari Kampung Pojok menuju Kampung Cisurupan sungguh sangat memberatkan, karena tidak hanya dihadang oleh alam yang sangat lebat dan ganguan binatang buas. Namun gangguan datang pula dari Belanda, Komunis (PKI), Negara Pasundan (Kartalegawa) dan pengikut Darul Islam (DI) Kartosuwiryo.

Tembakau untuk Dain dari Istri Gubernur Sewaka
Tiba di Cisurupan rombongan Gubernur Sewaka bersama rombongan disambut dengan penuh rasa cita dan kegembiraan warga Cisurupan. Bagi Dain asli warga Cisurupan (sekarang sudah almarhum) punya kenangan sendiri yang sulit untuk dilupakan.
Masa-masa Gubernur Sewaka tinggal di rumah mertuanya Ki Murhasik. Ia satu-satunya warga yang sangat dipercaya oleh Guberhur Sewaka dan istrinya Ana Garnita juga anak semata wayangnya yang juga ikut mengungsi Juag Nani.
Dikutip dari buku Antara Lebaksiuh dan Cisurupan: Mengenang Gubernur Sewaka di Pengungsian, Dain mengaku tak pernah bermimpi sangat dipercaya oleh keluarga Gubernur Sewaka.
Ia menuturkan saking sangat dipercayanya, Dain tidak boleh keluar sembarangan tanpa ada izin dari Gubernur Sewaka dan keluarganya. Dain menjelaskan sekitar tiga bulan lebih Gubernur Sewaka tinggal di Cisurupan. Selama Gubernur Sewaka tinggal di Cisurupan Dain selalu bersamanya kemanapun Gubernur Sewaka pergi.
Ada cerita yang menarik dan unik. Dain suatu saat ingin keluar dari rumah mertuanya dan ingin bercengkrama bersama warga. Ia pun berembuk dengan sesama warga lainnya dan Hadori kakak iparnya, saat salat berjamaah ke Masjid An Nur Sewaka tidak jauh dari rumahnya.
Ia menuturkan Gubernur Sewaka kerap salat berjamaah di Masjid An Nur Sewaka. Kepada Hadori ia berpesan agar dipanggil keluar dari tempat rumah Gubernur Sewaka sembari menyatakan akan membeli tembakau di warung.
Namun apa yang terjadi?. Dewa (panggilan Ibu Ana Garnita) mengetahuinya. Ana Garnita langsung berkata, “Cicing di imah jeung aing, tuh bako mah loba di para imah,” (Diam di rumah dengan saya, itu tembakau banyak disimpan di atas langit-langit,” kata Dain menirukan Ibu Ana.
Sejak itu Dain mengaku tak berani keluar rumah lagi dan tak pernah kekurangan tembakau. Saksi yang lainnya masih saudara dan tetangganya Kodin menjelaskan Gubernur Sewaka tinggal di Cisurupan sekitar tiga bulan bukan satu bulan setengah.
“Gubernur Sewaka ikut membangun (memperbaiki) Masjid An Nur Sewaka saat itu, beliau kerap berjamaah di masjid itu. Makanya warga Cisurupan memberi namanya An Nur Sewaka (sekarang tertulis An Nur Sawaka),” kata Kodin saat masih jumeneng, seperti yang ditulis dalam lama buku Antara Lebaksiuh dan Cisurupan.
Prasasti Cisurupan dan Nur Sewaka Dibangun Oleh Warga Bentuk Nyata Perhatian Mengenang Perjuanga Gubernur Sewaka
Prasasti Gubernur Sewaka didirikan di depan rumah Kodin berdampingan dengan bangunan Masjid An Nur Sewaka. Prasasti Cisurupan dibangun secara sederhana dengan bahan apa adanya atas inisiatif Kodin dan warga Cisurupan untuk mengenang perjuangan Gubernur Sewaka.
Diperkirakan Gubernur Sewaka kata Kodin,tiba di Cisurupan sekitar bulan Oktober 1947. Ia menjelaskan Gubernur Sewaka bersama keluarga dan Juag Nani, bersama Enoch dan Oyo sebagai sekretaris dan supir tinggal menempati rumah Ki Murhasik (mertua Dain)
Sedangkan Mayor Besar Hasan dan Sumirat menempati rumah Ki Adi, Residen Bogor Barnas dan anaknya Juag Ita di rumah Iya dan Sekretaris Residen Ny. Loho di rumah Aki Empa.
Kini rumah Ki Murhasik dan lainnya sudah berubah. Dulu tutur Dain, rumah mertuanya yang sempat ditinggali Gubernur Sewaka cukup besar. Tapi sekarang dibagi dua rumah, ditempati Dain dan yang satunya lagi ditempati saudaranya.
Sekarang Dain sudah tiada, kenangan saat bersama Gubernur Sewaka dan keluarga hari-hari bersamanya sangat membekas kuat di hatinya. Ia mengaku sejak bertemu dan bersama Gubernur Sewaka cukup lama tidak sempat bertemu dengan Gubernur Sewaka dan keluarganya.
“Saat itu sempat diajari membaca oleh Juag Nani, apakah Juag Nani masih ada?,” kenang Dain seperti yang ditulis dalam laman buku Antara Lebaksiuh dan Cisurupan.
Kendati Kampung Cisurupan kini sedikit ada perubahan. Namun suasana kampung sejarahnya masih sangat terasa. Cerita Sewaka hanya ada terdengar dari mulut ke mulut lewat keluarga Dain dan Kodin.
Dua saksi bisu yang tidak akan pernah lekang dimakan zaman yaitu Masjid An Nur Sewaka yang dibangun warga dan sempat digunakan salat berjamaah bersama Gubenrur Sewaka dan Prasasti Cisurupan yang dibangun Kodin bersama warga Cisurupan dengan bahan alakadarnya.
Ruhiyat dan Fathudin kakak beradik putra dari Kodin menuturkan, keduanya hanya tahu cerita dari ayahnya Kodin secara lisan, tidak banyak tahu perjalanan dan perjuangan seutuhnya Gubernur Sewaka dan rombongan yang lainnya.
Hanya saja kata Ruhiyat, ia kerap mendengar dari Ki Dain dan ayahnya sendiri Kodin cerita bagaimana saat Gubernur Sewaka sempat tinggal mengungsi hingga tiba di Cisurupan. Ruhiyat mengaku saat Gubernur Sewaka hadir mungkin masih kecil atau masih bayi.
Kendati begitu Ruhiyat bersama warga lainnya sangat bersyukur Kampung Cisurupan ternyata menjadi tempat bersejarah sempat menjadi tempat pengungsian Gubennur Sewaka selama tiga bulan lebih.
“Jika saja ayahnya Kodin tidak membangun Prasasti Cisurupan dan Masjid An Nur Sewaka, sepertinya sejarah perjuangan Gubernur Sewaka akan hilang lenyap begitu saja dari sejarah Jawa Barat,” kata Ruhiyat diamini Fathudin saat ngobrol dengan MajmuSunda News di rumah Pathudin, Senin, (27/10/2026).
Fathudin menambahkan tentang sejarah Sewaka datang ke Cisurupan kurang banyak mengetahuinya, hanya saja sedikit tersirat dari ayahnya Kodin sempat menceritakan Cisurupan sempat menjadi tempat pengungsian setelah sebelumnya Gubernur Sewaka sempat lama mengungsi di Lebaksiuh dan tinggal seminggu di Kampung Pojok lalu tingga di Cisurupan.
“Ayak tidak banyak bercerita tentang pengungsian Gubernur Sewaka di Cisurupan,” kata Fathudin singkat.
Sedangkan Parno menantu Ki Dain menuturkan dari mertuanya kerap mendengar cerita saat Gubernur Sewaka tinggal di rumah Ki Murhasik.
“Ya dulu saat saat Ki Dain masih jumeneng kerap menceritakan Gubernur Sewaka selama tinggal di Cisurupan,” tuturnya.
Ruhiyat menambahkan Prasati Cisurupan sempat diresmikan oleh Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim. Ia menuturkan Bupati Tatang Farhanul Hakim hanya meresmikan Prasasti Cisurupan yang hanya dibangun oleh ayahnya Kodin dan warga Cisurupan dengan dana rereongan alakadarnya.
“Hingga kini Prasasti Cisurupan dan masjid An Nur Sewaka masih berdiri kokoh. Namun belum tersentuh perhatian dari Pemkab Tasikmalaya, karena mungkin Cisurupan jauh dan terisolir sehingga peran sejarahnya kerap dilupakan,” kata Ruhiyat diamini Fathudin, Parno dan warga yang kebetulan salat berjamaah salat ashar di Masjid An Nur Sewaka yang bersejarah itu.

Kendati begitu Ruhiyat bersama warga Cisurupan mengaku sangat bersyukur telah kedatangan seorang penulis yang juga jurnalis. Ia hadir sendiri menanyakan kondisi Kampung Cisurupan.
“Yang lebih menggembirakan ia tak hanya melihat kondisi Cisurupan sekarang, Ia juga menyerahkan buku yang ditulisnya, “Bergerilya bersama Sewka: Mengenang Jejak Sang Penyelamat Jawa Baat,” kata Ruhiyat
Ia bersama warga mengucapkan terima kasih kepada penulis paling tidak dengan adanya buku yang ditulis Kang Agung Ilham Setiadi (Kang Ais) warga Kampung Cisurupan jadi tahu siapa Gubernur Sewaka.
Terus terang terang saja kami kenal dengan Kang Ais, hanya saja kami tidak tahu perjalanan sejarah dan pengungsian Gubennur sempat ditulis oleh seorang jurnalis. Padahal bukunya ada dan ditulis selama 20 tahun,” kata Ruhiyat












