MajmusSunda News – Bandung, Rabu (28/10/2026) – Konon, lidah diciptakan untuk mengecap rasa: manis, asin, asam, pahit, dan gurih. Setelah manusia mengenal kekuasaan, lidah memperoleh fungsi tambahan: mengecap jabatan. Sejak itu lahir rasa keenam, yaitu ingin diangkat.
Di sebuah negeri yang petanya telah dijilat sampai tintanya hilang, berdirilah Kementerian Urusan Lidah. Gedungnya berbentuk mulut raksasa. Pegawainya tak perlu ijazah; cukup membawa sertifikat kemahiran menjilat. Ujiannya ketat: menjilat piring hingga gambarnya lenyap, menjilat amplop tanpa bertanya isinya, lalu mengucapkan, “Bapak selalu benar,” seratus kali tanpa tersedak kenyataan.
Keahlian menjilat memiliki jenjang. Penjilat Pratama memuji dasi atasan, meski dasi itu tersangkut di resleting celana. Penjilat Madya memuji gagasan yang bahkan belum disampaikan. Penjilat Utama tidak lagi memerlukan bantuan otak. Atasan batuk disebut konstitusional; bersin dianggap pertanda pertumbuhan ekonomi. Dari arah anginnya, kata mereka, rakyat mulai sejahtera.
Di negeri itu, jabatan tidak jatuh kepada orang paling pandai, tetapi kepada lidah paling licin. Para ilmuwan menemukan bahwa lidah penjilat memanjang ketika ada kursi kosong. Bila kursinya empuk, panjangnya bertambah; bila dilengkapi mobil dinas dan anggaran perjalanan, lidah itu bisa mengelilingi bumi, mampir ke bulan, lalu pulang membawa surat keputusan. Penelitian tersebut hendak diterbitkan di jurnal internasional yang jurnalnya lebih dahulu menjilat sponsor.
Menjilat kemudian menjadi budaya kantor. Setiap Senin digelar apel lidah. Pegawai berdiri menghadap podium dan menyanyikan lagu: “Maju tak gentar, membela yang membayar.” Pegawai kritis dipindahkan ke ruang bawah tanah bersama arsip lama dan cita-cita reformasi. Sementara itu, pegawai yang selalu hadir sebelum atasan, pulang sesudahnya, dan tetap memuji ketika atasannya tidak masuk, segera dianggap layak menjadi kepala bidang. Kompetensi bisa menyusul; integritas dapat diunduh.
Menjilat akhirnya menjadi industri nasional. Pabrik menawarkan pelumas lidah bermerek “Asal Bapak Senang” dan “Saya Sependapat Sebelum Bapak Berpendapat”. Iklannya menjanjikan pangkat, proyek, dan perjalanan dinas, dengan bonus prinsip yang rontok tanpa rasa sakit. Rumah sakit pun membuka poliklinik kehilangan tulang belakang. Seorang pasien mengeluh sulit berdiri tegak sejak atasannya naik pangkat. Dokter mendiagnosis: tulang belakangnya telah berubah menjadi tangga karier.
Bahkan keluarga ikut berlatih. Anak memuji ayah karena nasi gosongnya “beraroma kebijakan”. Ibu dipuji sebab marahnya “tegas dan visioner”. Makan malam berlangsung damai, kecuali sendok yang ingin mengajukan keberatan.
Dalam politik, para penjilat membentuk partai dan berjanji membela rakyat. Ketika ditanya rakyat yang mana, ketuanya menjawab, “Nanti kita lihat siapa yang menang.” Janji pun meledak seperti petasan; asapnya naik ke langit, sementara sumbunya dibebankan kepada anggaran negara.
Mereka menyebut tindakan itu pengabdian atau diplomasi lidah. Padahal, kesetiaan mereka bukan kepada manusia, gagasan, atau negara, melainkan kepada posisi. Ketika kursi berpindah, lidah ikut pindah. Penguasa jatuh, mereka menjadi orang pertama yang berkata, “Sejak dahulu saya sudah curiga.”
Jangan terlalu cepat menertawakan mereka. Barangkali di dalam mulut kita sendiri tinggal penjilat kecil yang bangun ketika kita memuji demi keuntungan, diam di hadapan kesalahan, atau mengubah pendirian karena mencium aroma jabatan. Bedanya hanya ukuran lidah dan besar imbalan.
Cermin tak pernah menjadi pejabat. Ia hanya memantulkan kenyataan, tanpa menyanjung keriput sebagai prestasi pembangunan atau kebotakan sebagai perluasan ruang terbuka. Karena jujur, cermin tak pernah dipromosikan.
Suatu malam, para penjilat bermimpi lidah mereka kaku. Pagi harinya, kantor-kantor sunyi. Atasan gelisah karena tak ada yang menyebut mereka hebat; pejabat bercermin dan melihat wajah sendiri tanpa bingkai pujian. Untunglah mimpi segera berakhir. Lidah kembali lentur, pujian beterbangan, jabatan kembali berjatuhan.

Judul: Jilat
Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)
Editor: Parkah












