MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (26/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jempol Presiden Untuk Mentan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Makna acungan jempol bisa sangat berbeda tergantung pada konteks situasi dan budaya tempat seseorang berada. Berikut adalah beberapa makna utama dari acungan jempol yaitu :
– Persetujuan atau pujian. Di sebagian besar budaya modern (terutama yang dipengaruhi budaya Barat dan media sosial), gestur ini berarti “Bagus!”, “Oke”, “Saya setuju”, atau “Kerja bagus”.
– Menumpang kendaraan (Hitchhiking). Di pinggir jalan, terutama di Amerika Utara dan Eropa, mengacungkan jempol ke arah jalan digunakan sebagai isyarat untuk meminta tumpangan kendaraan yang lewat.
– Isyarat menyelam (Scuba Diving). Di dalam air, para penyelam menggunakan acungan jempol untuk memberi tahu rekannya bahwa mereka harus naik ke permukaan. Isyarat ini bukan berarti “oke”.

– Penghinaan atau makna negatif. Di beberapa negara seperti Iran, Irak, sebagian wilayah Yunani, Italia Selatan, dan Rusia, gestur ini secara tradisional dianggap sebagai simbol kasar atau ofensif (mirip dengan mengacungkan jari tengah).
– Jumlah atau angka. Di beberapa negara Eropa Barat seperti Jerman atau Prancis, saat menghitung dengan jari, jempol yang diacungkan sering kali melambangkan angka satu.
Belum lama ini, Presiden Prabowo memberikan acungan jempol kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan paparan data keberhasilan di sektor pangan nasional.
Momen gestur jempol ini menarik perhatian publik karena beberapa alasan penting berikut:
– Komitmen menjaga lingkungan (Tidak Membuka Hutan Primer). Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo secara khusus memuji ketegasan Mentan Amran yang melaporkan bahwa pemerintah tidak akan membuka hutan primer lagi demi mengejar target produksi pangan nasional. Presiden menilai langkah perlindungan lingkungan ini sangat bagus.
-Pencapaian Stok Pangan yang Melimpah. Apresiasi tersebut juga diberikan setelah Mentan Amran memaparkan data kesiapan pangan nasional, di antaranya melaporkan bahwa stok beras Indonesia berhasil mencapai 4,56 juta ton, angka yang membuat posisi ketahanan pangan Indonesia relatif aman.
– Kenaikan ekspor dan efisiensi anggaran. Mentan memaparkan perkembangan positif perdagangan sektor pertanian di mana nilai ekspor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun, sementara angka impor berhasil ditekan turun sebesar Rp41 triliun. Hal ini menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian negara.
-Fokus pada kesejahteraan petani. Gestur ini juga menjadi bentuk dukungan penuh Presiden terhadap langkah-langkah strategis Kementerian Pertanian dalam mengupayakan stabilitas harga dan program konkrit yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani di lapangan.
Di sisi lain, gambaran pembangunan pangan dan pertanian di Indonesia saat ini menunjukkan pencapaian kemandirian (swasembada) yang signifikan namun tetap dibayangi oleh tantangan struktural yang nyata di lapangan. Berdasarkan data resmi pemerintah dan evaluasi dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, berikut adalah potret utama sektor pertanian Indonesia:
1. Pencapaian Strategis dan Rekor Nasional. Indonesia telah secara resmi mengumumkan pencapaian swasembada pangan. Arah kebijakan berfokus penuh pada penghentian impor beras umum untuk konsumsi. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang mencetak rekor tertinggi hingga menembus 4,56 juta ton. Total potensi beras nasional aman karena ditopang oleh tanaman yang siap panen (standing crop) serta persediaan di masyarakat.
Nilai Tukar Petani (NTP) melesat naik mencapai angka 131. Lonjakan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen serta menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah. Penting juga disampaikan, Produk Domestik Bruro (PDB) sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif. Nilai ekspor produk pertanian melonjak secara signifikan sebesar Rp166 triliun, di saat angka impor berhasil ditekan turun.
2. Arah Kebijakan dan Transformasi Modern. Pemerintah berfokus pada intensifikasi pertanian dan optimalisasi lahan rawa mineral non-gambut (ditargetkan hingga 2 juta hektare). Kementerian Pertanian menegaskan berkomitmen penuh tidak akan membuka hutan primer demi menjaga kelestarian lingkungan. Regenerasi dan Keterlibatan Anak Muda. Mulai digalakkan program masif untuk melibatkan generasi muda dan mahasiswa dalam ekosistem pertanian modern yang berbasis mekanisasi serta adopsi teknologi.
3. Tantangan Nyata yang Masih Dihadapi. Meskipun indikator makro dan stok pangan di atas kertas menunjukkan keberhasilan besar, keberlanjutan swasembada ini masih menghadapi beberapa kendala di lapangan:
Ancaman iklim ekstrem. Perubahan cuaca memicu risiko alih fungsi lahan dan fluktuasi produksi pangan musiman. Stabilitas harga di tingkat pasar. Masyarakat di berbagai daerah masih menyoroti dan mengeluhkan harga beberapa kebutuhan pokok seperti beras, jagung, ayam, dan telur yang dinilai belum sepenuhnya stabil secara merata. Ketergantungan komoditas lain. Indonesia dilaporkan belum mencapai swasembada penuh untuk komoditas daging, dan pemerintah masih menargetkan kemandirian sektor tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Sebetulnya, banyak Menteri di Kabinet Merah Putih yang berprestasi dan berkinerja cukup baik. Namun tidak semuanya memperoleh acungan jempol Presiden. Menteri Pertanian Amran Sulaiman sendiri layak memperoleh acungan jempol, karena salah satunya mampu mewujudkan swasembada pangan, lebih cepat dari yang ditargetkan selama ini.
Semoga ke depan akan lebih banyak Menteri yang mendapat acungan jempol dari Presiden Prabowo. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Jempol Presiden Untuk Mentan
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












