GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-59: “Fajar Tertulis Sabuk Utara: Melacak Nama ‘Tangkubanparahu’ dalam Naskah Abad Kelima Belas dan Evolusi Simbol Sosial Cerita Rakyat, Sangkuriang”

Oleh: Oman Abdurahman

Naskah

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan historiografi sastra klasik Sunda purba, pelacakan toponimi geografi kuno, serta korelasi sains mitologi geologi (geomythology) yang menakar kronologi sejarah cerita rakyat regional melalui kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan posisi penting Naskah Bujanggamanik abad kelima belas sebagai dokumen tertulis pertama yang mencatat nama fisik gunung, analisis hipotesis ilmiah mengenai peran pengembaraan Bujanggamanik ke wilayah timur dalam menyintesiskan nama Sungging Perbangkara serta Wayungyang ke dalam Legenda Sangkuriang, asimilasi budaya dalam struktur cerita rakyat yang menempatkan tokoh babi hutan sebagai simbol representasi masyarakat bawah, enkripsi memori kolektif leluhur sepanjang evolusi Gunung Sunda purba, hingga epilog kebangsaan berupa manifesto kedaulatan kebudayaan demi menegakkan kedaulatan sains lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Fajar Tertulis Sastra Klasik Pasundan: Penelusuran Jaringan Naskah Bujanggamanik Abad Kelima Belas

Membedah lembaran awal literasi kebumian di Tatar Sunda menuntut ketajaman filologi yang mendalam untuk melacak kapan pertama kali nama bentang alam ikonik sabuk utara muncul dalam tradisi tertulis. Melalui pisau analisis geoliterasi kritis, ingatan kolektif masyarakat sering kali keliru mengira bahwa nama geografi Tangkubanparahu baru dibukukan oleh para orientalis Barat pada abad ke-19. Fakta dokumentasi sejarah membuktikan secara autentik bahwa Naskah Bujanggamanik dari abad kelima belas Masehi bertindak sebagai dokumen tertulis perdana yang mencatat nama fisik gunung api berkerucut terpancung tersebut secara eksplisit. Kehadiran dokumen prakolonial yang kini tersimpan di Universitas Oxford ini menjadi bukti empiris bahwa masyarakat Sunda klasik telah memiliki peradaban literasi geografi yang mandiri untuk merekam identitas spasial rupa bumi, meletakkan tiang pancang utama sebelum khazanah cerita rakyat lokal mulai disalin secara masif pada fase-fase peradaban berikutnya.

2. Hipotesis Ksatria Pengembaraan Timur: Argumen Awang H. Satyana Mengenai Asimilasi Kosakata Istilah Luar Daerah

Munculnya nama fisik gunung tanpa narasi pembendungan danau di dalam naskah abad kelima belas tersebut melahirkan ruang diskusi hidro-vulkanologi yang luas mengenai asal-usul sejati struktur Legenda Sangkuriang. Dalam peta pemikiran mitologi geologi (geomythology), pakar ilmu kebumian senior Awang H. Satyana mengajukan tesis ilmiah dengan berargumen bahwa pangeran kelana Bujanggamanik menyintesiskan cerita tersebut menggunakan elemen kebudayaan luar yang ditemuinya saat berjalan kaki menjelajahi wilayah timur Pulau Jawa hingga Bali. Tesis ini diperkuat oleh kehadiran nama-nama bernuansa timur dalam struktur cerita, seperti “Raja Sungging Perbangkara” serta babi hutan “Wayungyang”. Hal ini dipandang sebagai bukti linguistik bahwa sang pangeran mengadopsi kosakata spiritualitas wilayah timur untuk membungkus enkripsi data bencana geologi berupa penyumbatan sungai oleh lava di hulu sabuk Pasundan. Integrasi teoretis ini menyingkap tabir literasi masa lalu, menunjukkan bagaimana seorang intelektual mampu merajut memori ekologis lokal menggunakan unsur kebudayaan Nusantara lintas wilayah.

3. Dinamika Narasi Budaya Orisinal: Asimilasi Struktur Cerita Purba Sungging Perbangkara dan Wayungyang sebagai Simbol Sosial

Struktur isi dokumen cerita rakyat yang kemudian diwariskan secara lisan serta disalin pada abad-abad berikutnya menyajikan jalinan fabel dan romansa purba yang corak sosiokulturalnya sangat kontras jika dibandingkan dengan versi dongeng modern saat ini. Dalam lembaran teks lamanya, silsilah tokoh tidak dimulai dari drama instan, melainkan dirajut melalui benturan kelas antara figur penguasa menara gading, Raja Sungging Perbangkara, dan entitas babi hutan bernama Wayungyang. Konseptualisasi budaya kuno ini menempatkan tokoh “Wayungyang”, demikian juga nama “Si Tumang”, suami Dayangsumbi yang dilambangkan sebagai anjing, sebagai simbol representasi kelas masyarakat bawah yang hidup dengan bekerja keras di bentang hulu. Hal ini memperlihatkan bagaimana dinamika peradaban sejarah lahir dari interaksi kelompok elite dengan rakyat jelata penjaga lapisan tanah. Penelusuran teks orisinal ini membebaskan benak pembaca dari dramatisasi cerita rekaan baru yang dangkal, membawa kita kembali pada makna orisinal, ketika pusaka sastra hulu menjadi cermin keadilan sosial serta keselarasan hidup manusia bersama ekosistem gunung api.

4. Jembatan Memori Kolektif: Warisan Berita Lama Para Leluhur Lintas Evolusi Gunung Sunda Purba

Meskipun kristalisasi salinan teks tertulis secara formal baru terwujud pada rentang abad keenam belas Masehi, realitas tersebut sama sekali tidak menggugurkan nilai keilmuan isi ceritanya sebagai wadah perekam sejarah bumi purba. Tradisi tutur komunal yang dirajut sejak masa Bujanggamanik bertindak sebagai jembatan transmisi memori yang mengunci rekaman fenomena dinamika letusan gunung purba serta sumbatan lava di hulu ke dalam ingatan kolektif generasi berikutnya selama puluhan ribu tahun. Melalui kacamata mitologi geologi, karya sastra tradisional Sunda tetap dipandang mengandung enkripsi berita lama yang diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur prasejarah yang menyaksikan langsung fase akhir evolusi Gunung Sunda purba serta kelahiran Danau Bandung. Hal ini menunjukkan potensi tradisi sastra lokal dalam mengemas ingatan tentang dinamika fisik bumi ke dalam untaian cerita rakyat puitis yang dapat dikaji melalui pendekatan geologi dan sejarah.

5. Epilog Geowisata: Refleksi Geoliterasi, Keseimbangan Analisis Kebudayaan, dan Daulat Sains Lingkungan NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis melalui catatan sejarah awal mula Legenda Sangkuriang membawa kita pada satu kesimpulan etis mengenai pentingnya belajar dari kekuatan serta kelemahan sebuah mitos bumi. Kekuatan Legenda Sangkuriang terletak pada kejeniusan spasial serta kesebangunan urutan waktu peristiwanya dengan catatan ilmiah geologi bawah tanah, sedangkan kelemahannya bertumpu pada nalar mistis berupa penyerahan tugas kepada makhluk halus serta dramatisasi romansa hasrat sedarah yang kurang rasional jika ditafsirkan secara harfiah. Membedah secara seimbang kekuatan data empiris batuan dan kelemahan struktur cerita rakyat merupakan bentuk tanggung jawab intelektual untuk membangun fondasi gerakan literasi sains warga yang tangguh serta bijaksana. Mengintegrasikan konsep ekowisata cagar budaya sastra dengan parameter mitigasi bencana Badan Geologi merupakan wujud perlindungan ruang hidup yang hakiki. Mari jaga warisan pemikiran Bujanggamanik serta ketegasan moral hukum adat demi menegakkan martabat kedaulatan kebudayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah perubahan zaman!

#GeowisataNusantara #SeriBS-59 #CatatanLegendaSangkuriang #NaskahBujanggamanik #TeoriAwangHSatyana #AsimilasiBudayaTimur #SunggingPerbangkara #WayungyangBabiHutan #FajarTertulisTangkubanparahu #EvolusiGunungSunda #DanauBandungPurba #SimbolMasyarakatBawah #AmengLayaranPajajaran #ToponimiJawaPurba #GeomythologyIndonesia #BelaNegaraIntelektual #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-59: “Fajar Tertulis Sabuk Utara: Melacak Nama ‘Tangkubanparahu’ dalam Naskah Abad Kelima Belas dan Evolusi Simbol Sosial Cerita Rakyat, Sangkuriang”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *