GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-55: “Legenda Sangkuriang Dikomentari Ilmuwan Geologi, van Bemmelen, 1949”

Oleh: Oman Abdurahman

Sangkuriang

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan kosmologi cerita rakyat, irisan sains kebumian modern, dan metamorfosis kultural yang mengunci eksistensi Legenda Sangkuriang melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan ringkasan narasi dogma tutur lokal mengenai ambisi pembendungan sungai purba bersanding asal-usul toponimi jajaran pegunungan, pemetaan parameter subdisiplin keilmuan mitologi geologi sebagai perekam bencana alam masa lalu, penelaahan klasik komparasi vulkanologi kataklimik Gunung Sunda dalam karya monumental van Bemmelen tahun seribu sembilan ratus empat puluh sembilan, rekonstruksi kronostratigrafi evolusi Cekungan Bandung berdasarkan buku ilmiah komprehensif van Dam tahun dua ribu empat, hingga epilog berupa pelestarian warisan budaya luhur dalam industri kreatif seni sandiwara, novel, dan sinema kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Fosil Budaya Tutur Tatar Sunda: Ringkasan Kosmologi Legenda Sangkuriang dan Ambisi Malam Pembendungan

Membaca lembaran mitologi lokal di Tatar Sunda mengarahkan perhatian geoliterasi kritis kita pada salah satu cerita rakyat paling legendaris yang melekat kuat di raga alam Cekungan Bandung, yaitu kisah atau legenda Sangkuriang. Kisah pusaka ini mengisahkan tentang pengembaraan seorang pemuda ksatria bertangan sakti bernama Sangkuriang yang secara tidak sengaja jatuh hati kepada ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi, yang memiliki rahasia awet muda dari para dewa. Guna menggagalkan ambisi pernikahan sedarah tersebut, Dayang Sumbi mengajukan persyaratan fisis yang teramat kaku, yakni membangun sebuah danau raksasa bersanding perahu besar dalam waktu satu malam dengan cara membendung aliran deras Sungai Citarum. Ketika fajar menyingsing akibat tipu daya fajar buatan, Sangkuriang yang gagal menyelesaikan tugasnya mengamuk hebat, menendang perahu kayu raksasa buatan para makhluk halus hingga tertelungkup menjadi Gunung Tangkubanparahu. Dikisahkan secara turun-temurun bahwa bahan baku pohon raksasa untuk merakit perahu tersebut diambil dari poros timur yang sisa tebangan batangnya membeku menjadi Gunung Bukittunggul, sementara ranting-ranting atau rangrang pohonnya dibuang secara lateral ke poros barat hingga menumpuk menjadi punggungan bergerigi Gunung Burangrang.

2. Irisan Sains dan Teologi Kebumian: Subdisiplin Mitologi Geologi dan Batasan Parameter Dorothy Vitaliano

Untaian cerita tutur tersebut mencapai puncak kedudukan ilmiah tertinggi ketika dibedah melintasi cabang keilmuan mutakhir yang dikenal sebagai mitologi geologi (geomythology), sebuah subdisiplin baru kebumian yang awalnya dicetuskan secara resmi oleh ahli geologi Amerika Serikat bernama Dorothy Vitaliano. Menurut rumusan Dorothy Vitaliano, sebuah mitos hanya dapat diklasifikasikan secara sah ke dalam domain mitologi geologi apabila cerita rakyat kuno tersebut memiliki kesamaan yang mutlak dengan sains dalam hal tata urutan waktu kejadian, letak geografis, serta garis besar skema peristiwa sains dengan alur cerita itu. Prinsip keilmuan ini menegaskan bahwa segala bentuk dongeng atau mitos fiktif yang bertentangan secara frontal dengan kaidah hukum alam dan logika empiris geologi akan langsung dicabut keluar dari subdisiplin ini karena dianggap sebagai narasi absurd yang tidak valid. Kisah Sangkuriang memenuhi seluruh parameter ketat mitologi geologi tersebut karena kronologi pembendungan air dan kelahiran menara api baru di dalam cerita terbukti seirama dengan rekam jejak dinamika geologi Cekungan Bandung.

3. Legenda Sangkuriang Disitir oleh van Bemmelen dalam Buku Ilmiahnya, 1949

Otoritas sains di balik Legenda Sangkuriang pertama kali diangkat ke panggung geologi internasional secara formal melalui mahakarya ahli geologi legendaris berkebangsaan Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, dalam buku monumentalnya tahun seribu sembilan ratus empat puluh sembilan yang bertajuk “Geologi Indonesia” (The Geology of Indonesia). Melalui ketelitian analisis lapangan, van Bemmelen membuktikan secara ksatria bahwa kisah Sangkuriang merupakan ingatan kolektif samar dari keturunan manusia purba yang menyaksikan langsung bencana kataklimik meletus dan runtuhnya Gunung Sunda purba pada kurun waktu Pleistosen. Letusan kolosal yang menyemburkan jutaan meter kubik material piroklastik tersebut memicu amblesnya tubuh gunung membentuk kaldera runtuhan raksasa, yang material longsoran massalnya menyumbat palung Sungai Citarum di celah Padalarang hingga melahirkan Danau Bandung Purba. Van Bemmelen menegaskan bahwa lahirnya kerucut baru Gunung Tangkubanparahu pascabencana bertindak sebagai sasis empiris di balik metafora perahu terbalik Sangkuriang.

4. Kronostratigrafi Mangkuk Pasundan: Evolusi Kuarter Akhir Cekungan Bandung dalam Buku Ilmiah van Dam 2004

Pembuktian atas kebenaran kronologi purba Tatar Sunda bagian tengah menemukan jangkar sains modernnya melintasi data geologi bawah tanah komprehensif yang dibukukan oleh ilmuwan Belanda, Rein van Dam bersama tim lintas disiplin pada tahun dua ribu empat dengan judul “Evolusi Kuarter Akhir Cekungan Bandung” (The Late Quaternary Evolution of the Bandung Basin). Meskipun buku ilmiah eksak ini murni menyajikan data pengeboran sedimen tanpa menyitir teks Legenda Sangkuriang secara langsung, para ahli geoliterasi nasional secara jenius menemukan bahwa temuan penanggalan karbon van Dam secara radikal mengonfirmasi skema fase pembendungan ganda yang membentuk Danau Bandung Barat, sedangkan aliran lava efusif masif dari fase awal pertumbuhan Gunung Tangkubanparahu membendung Danau Bandung Timur. Rekonstruksi lapisan tanah bawah permukaan ini membuktikan secara empiris bahwa genangan air raksasa tersebut mulai surut dan bobol menembus cadas pejal celah Curug Jompong belasan ribu tahun lalu pada periode yang beririsan langsung dengan fajar hunian manusia prasejarah. Melalui kacamata geoliterasi kritis, buku penelitian geologi struktur tanah ini bertindak sebagai sasis hukum geokronologi terkuat yang melegitimasi bahwa skema ruang dan tata urutan waktu dalam mitologi lokal seirama dengan cerita bumi yang nyata.

5. Epilog Kultural: Metamorfosis Seni Industri Kreatif, Tafsir Hermeneutika, dan Manifesto Daulat Sastra Lingkungan NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri jalinan sains dan mitologi membawa kita pada satu kesimpulan etis mengenai pentingnya merawat pusaka cerita rakyat ini agar tidak mandek ditelan modernisasi zaman. Kisah Sangkuriang telah mengalami metamorfosis kultural yang teramat anggun, hidup berselubung kreativitas anak bangsa melintasi gubahan novel sastra bertaraf tinggi, pementasan sandiwara panggung rakyat yang memikat jiwa, hingga adaptasi sinema film layar lebar modern kedaulatan bangsa. Di samping wilayah seni pertunjukan tersebut, teks pusaka tutur Sunda ini juga dibedah secara kuat oleh para ahli tafsir hermeneutika sebagai dokumen simbolik yang kaya akan kode filsafat eksistensialisme manusia, membuka tabir pembacaan makna tersembunyi mengenai hubungan teologis antara kesucian raga ibu bumi dengan ego hasrat manusia yang merusak ruang alam. Mengembangkan kosmologi Sangkuriang dari pendangkalan makna bersanding melindunginya dari klaim budaya luar adalah tindakan bela negara budaya yang absolut demi mempertahankan hak intelektual generasi penerus. Mengintegrasikan konsep geowisata sastra lingkungan berbasis digital merupakan tindakan nyata pertahanan ruang hidup. Merawat kemurnian sejarah pemikiran purba ini adalah janji suci kita bersama demi membentengi martabat tertinggi kedaulatan kebudayaan sains Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!

#GeowisataNusantara #SeriBS-55 #MitologiSainsSangkuriang #GeomythologyIndonesia #VanBemmelen1949 #ReinVanDam2004 #DanauBandungPurba #EvolusiCekunganBandung #GunungTangkubanparahu #DorothyVitaliano #CeritaRakyatSunda #BelaNegaraBudaya #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis #SastraLingkungan #SejarahBumiPasundan #TafsirHermeneutika

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-55: “Legenda Sangkuriang Dikomentari Ilmuwan Geologi, van Bemmelen, 1949”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *