MajmusSunda News, Kamis (22/10/2026) – Waktu saya masih kelas 1 SD, sekitar tahun 1970-an, buku pelajaran membaca memperkenalkan sebuah pantun yang disebut pantun jenaka. Saya masih mengingat bunyinya, “Di sini kosong di sana kosong, tak ada batang tembakau. Bukan saya berkata bohong, ada katak memikul kerbau.” Sebagai anak kecil, saya menikmati kelucuannya tanpa perlu memikirkan apa yang membuat seekor katak sanggup memikul kerbau. Bertahun-tahun kemudian, ketika menyaksikan perkembangan dunia akademik, saya justru menemukan sebuah keadaan yang mengingatkan saya pada pantun itu. Kali ini bukan katak dan kerbau yang membuat saya tersenyum, melainkan manusia terpelajar yang hidup di tengah kecerdasan buatan.
Bayangkan sebuah perkuliahan. Seorang dosen meminta bantuan AI untuk menyusun soal, merancang kasus, atau menyiapkan tugas mahasiswa. Mahasiswa menerima soal itu, kemudian membuka AI untuk mencari jawaban yang dianggap paling tepat. Ketika tugas dikumpulkan, sang dosen kembali menggunakan AI untuk membantu membaca, mengevaluasi, atau memberikan penilaian. Soal dibuat dengan AI, jawaban dirumuskan dengan AI, lalu jawaban itu dinilai dengan AI. Seluruh proses tampak berlangsung efisien, bahkan modern. Namun, di tengah kesibukan tersebut, muncul sebuah pertanyaan jenaka yang sekaligus serius, di manakah sebenarnya proses berpikir yang hendak kita tumbuhkan melalui pendidikan?
Saya tidak sedang mempersoalkan penggunaan AI dalam pendidikan. Teknologi ini memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membantu manusia memahami konsep, mengembangkan gagasan, membandingkan teori, dan membuka kemungkinan pemecahan masalah. Seorang dosen dapat memanfaatkannya untuk memperkaya metode pengajaran, sedangkan mahasiswa dapat menggunakannya untuk menguji pemahaman dan memperluas cakrawala pengetahuan. Dalam pengertian ini, AI dapat menjadi instrumen pembelajaran yang bernilai. Persoalannya muncul ketika kemudahan menggunakan teknologi berubah menjadi ketergantungan, ketika manusia menyerahkan bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan juga tanggung jawab intelektual yang seharusnya dijalankan oleh dirinya sendiri.
Dunia akademik sesungguhnya bukan sekadar tempat memproduksi soal, mengumpulkan jawaban, dan memberikan nilai. Pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan manusia untuk bertanya, menalar, memeriksa bukti, mempertimbangkan argumen, dan mengambil kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Nilai akademik seharusnya menjadi petunjuk tentang proses dan capaian belajar, bukan sekadar angka yang dihasilkan dari suatu prosedur. Jika semua pihak menggunakan AI tanpa kejelasan mengenai tujuan, batas, dan tanggung jawab penggunaannya, kita berisiko menciptakan kesibukan akademik yang tampak produktif, tetapi miskin kesempatan untuk mengetahui apa yang sungguh-sungguh dipahami oleh mahasiswa.
Di sinilah ironi itu menjadi menarik. Dosen ingin mengetahui kemampuan mahasiswa, tetapi soal yang diberikan mungkin tidak dirancang untuk membedakan pemahaman manusia dari keluaran mesin. Mahasiswa ingin memperoleh hasil yang baik, tetapi jawaban yang diserahkan belum tentu mencerminkan kemampuan dirinya. Dosen kemudian menilai jawaban tersebut dengan bantuan mesin, seolah-olah persoalan pembelajaran dapat diselesaikan hanya dengan mempercepat proses evaluasi. Ketiganya tampak menjalankan peran masing-masing, tetapi tujuan pendidikan justru berpotensi menjauh dari perhatian. Kita seperti menyelenggarakan pertandingan untuk menguji kemampuan berlari, sementara pelari, pencatat waktu, dan juri sama-sama sibuk mengoperasikan kendaraan.
Ada pula hal lain yang sesekali membuat saya tersenyum. Dunia akademik mengenal jenjang pendidikan, mulai dari sarjana, magister, hingga doktor, lengkap dengan gelar yang melekat di belakang nama. Semakin tinggi jenjangnya, semakin besar pula harapan kita terhadap kedalaman ilmu, ketajaman nalar, dan kemandirian berpikir pemiliknya. Namun, di tengah kemajuan teknologi, sesekali terlintas pertanyaan jenaka, apakah bertambahnya gelar selalu seiring dengan bertambahnya kemampuan berpikir mandiri, atau jangan-jangan urusan merumuskan pertanyaan, menyusun jawaban, hingga menilai pemikiran pun akhirnya sama-sama diserahkan kepada mesin? Tentu saja, gelar akademik tetap memiliki makna sebagai pengakuan atas proses pendidikan dan pencapaian ilmiah. Hanya saja, gelar yang tinggi semestinya membuat seseorang semakin mampu menggunakan akalnya, bukan semakin nyaman meminjamkan pekerjaan berpikirnya kepada teknologi.
Dalam perspektif etika akademik, pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang menggunakan AI dan siapa yang tidak. Pertanyaannya ialah apakah penggunaannya jujur, transparan, relevan dengan tujuan pembelajaran, dan tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab. Dosen perlu memastikan bahwa rancangan tugas benar-benar menguji kompetensi yang hendak dicapai. Mahasiswa perlu memahami bahwa bantuan teknologi tidak menghapus kewajiban untuk menguasai materi dan mempertanggungjawabkan jawabannya. Sementara itu, penilaian perlu didasarkan pada bukti yang memadai, bukan semata-mata pada kemudahan mesin menghasilkan kesimpulan. AI boleh membantu proses akademik, tetapi keputusan akademik tetap memerlukan pertimbangan manusia yang memahami konteks, konsekuensi, dan keadilan.
Mungkin karena itulah saya kembali teringat pada pantun jenaka dari buku membaca masa kecil. Dulu, seekor katak yang memikul kerbau cukup membuat anak kelas 1 SD tersenyum. Kini, kita berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih canggih, tetapi berpotensi menghadirkan kelucuan yang serupa. Mesin membantu dosen membuat soal, mesin membantu mahasiswa menjawabnya, dan mesin kembali membantu dosen menilai jawaban itu. Teknologinya sungguh modern, perangkatnya semakin pintar, tetapi kita tetap perlu bertanya apakah kecerdasan manusia ikut berkembang sepadan dengan kecanggihan alat yang digunakannya. Jangan sampai akademika menjadi jenaka bukan karena kepiawaian kita memanfaatkan teknologi, melainkan karena kita lupa untuk apa pendidikan diselenggarakan.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Akademika Jenaka: Ketika Dosen, Mahasiswa, dan Mesin Saling Menguji
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












