Paul dan Rapat yang Tidak Pernah Memadamkan Api

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Kamis (22/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Paul dan Rapat yang Tidak Pernah Memadamkan Api” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN Tahun 2023-2026.

1. UNDANGAN RAPAT

Pagi itu Sungai Kapuas mengalir seperti biasa.

Ia tidak pernah ikut rapat.

Itulah kelebihan sungai.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Arie/MMSN)

Sungai tidak mengenal notulen, disposisi, surat edaran, berita acara, atau rapat koordinasi.

Kalau airnya naik, ia naik.

Kalau surut, ia surut.

Kalau hutan di hulunya terbakar, ia tidak membuat konferensi pers. Ia membawa lumpur, abu, dan cerita itu ke hilir.

Paul duduk di tepian sungai di Sintang.

Sudah puluhan tahun ia tinggal di sana.

Orang-orang Sintang sudah tidak lagi bertanya mengapa seorang Amerika memilih tinggal di pedalaman Kalimantan.

Mereka lebih sering bertanya:

“Paul, kau sudah makan?”

Bagi Paul, pertanyaan itu jauh lebih penting daripada pertanyaan:

“Paul, apa pendapatmu tentang globalisasi?”

Hari itu Paul mendapat undangan rapat.

Judulnya panjang sekali.

RAPAT KOORDINASI TERPADU PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DALAM RANGKA PENGUATAN SINERGI LINTAS SEKTOR.

Paul membaca judul itu tiga kali.

Kemudian ia bertanya kepada istrinya:

“Apakah kalau judul rapatnya semakin panjang, apinya semakin kecil?”

Istrinya menjawab:

“Tidak tahu.”

Paul mengangguk.

“Berarti kita harus pergi.”

2. RUANG RAPAT

Di dalam ruangan sudah berkumpul banyak orang.

Ada pemerintah.

Ada perusahaan.

Ada aparat.

Ada akademisi.

Ada tokoh masyarakat.

Ada lembaga swadaya masyarakat.

Ada orang yang membawa laptop.

Ada orang yang membawa map.

Ada orang yang membawa data.

Dan tentu saja ada orang yang membawa PowerPoint.

Paul memperhatikan layar.

Slide pertama:

KARHUTLA: ANCAMAN SERIUS TERHADAP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN.

Slide kedua:

DATA TITIK PANAS.

Slide ketiga:

PETA RAWAN KARHUTLA.

Slide keempat:

STRATEGI PENCEGAHAN.

Slide kelima:

STRATEGI PENANGGULANGAN.

Slide keenam:

STRATEGI KOORDINASI.

Paul mengangkat tangan.

“Boleh saya bertanya?”

Moderator mempersilakan.

“Semua strategi ini sangat bagus,” kata Paul. “Tapi saya mempunyai satu pertanyaan sederhana.”

Ruangan menjadi hening.

“Di mana koperasinya?”

Beberapa orang saling memandang.

Seorang pejabat menjawab:

“Koperasi?”

“Ya.”

“Ini rapat karhutla, Paul.”

“Saya tahu.”

“Lalu apa hubungan koperasi dengan kebakaran hutan?”

Paul tersenyum.

“Justru itu pertanyaan saya.”

3. API TIDAK MENGENAL BATAS ADMINISTRASI

Paul berdiri.

Ia mengambil spidol.

Di papan tulis ia menggambar sebuah kotak.

“Ini perusahaan.”

Kemudian menggambar kotak kedua.

“Ini desa.”

Kotak ketiga.

“Ini kawasan hutan.”

Kotak keempat.

“Ini perkebunan.”

Kotak kelima.

“Ini sungai.”

Lalu ia menggambar garis berkelok-kelok yang melewati semuanya.

“Ini air.”

Kemudian ia menggambar asap.

“Asap.”

Tidak ada yang tertawa.

Paul melanjutkan.

“Sekarang kita lihat api.”

Ia membuat garis merah yang menyeberangi semua kotak.

“Api tidak tahu bahwa di sini batas desa.”

Ia menunjuk garis pertama.

“Api juga tidak tahu bahwa di sini batas perusahaan.”

Ia menunjuk garis kedua.

“Api tidak membaca peta administrasi.”

Kemudian Paul meletakkan spidol.

“Kalau begitu, mengapa organisasi kita mengelola api dengan cara yang mengikuti batas administrasi?”

Seorang akademisi mengangguk.

Seorang pejabat mencatat.

Seorang perwakilan perusahaan menatap meja.

Paul melanjutkan:

“Masalahnya bukan kita tidak mempunyai organisasi. Kita mempunyai terlalu banyak organisasi.”

Ruangan mulai terasa panas.

Padahal pendingin udara bekerja dengan baik.

4. KOPERASI YANG SELAMA INI KITA SALAH PAHAMI

“Dalam pemahaman sederhana,” kata Paul, “koperasi sering dianggap sebagai organisasi ekonomi anggotanya.”

“Benar,” kata seseorang.

“Anggota membeli barang bersama.”

“Benar.”

“Menjual hasil bersama.”

“Benar.”

“Menabung bersama.”

“Benar.”

Paul mengangguk.

“Bagus.”

Ia berhenti.

“Tetapi kalau kita berhenti sampai di situ, kita belum melihat koperasi.”

Semua kembali diam.

“Karena koperasi sebenarnya adalah cara manusia membangun kapasitas bertindak bersama.”

Paul menulis:

INDIVIDU → KELOMPOK → KAPASITAS BERSAMA → TINDAKAN

“Kalau satu petani melihat asap,” katanya, “apa yang dapat ia lakukan?”

“Melapor.”

“Bagus.”

“Memadamkan.”

“Kalau api kecil.”

“Ya.”

“Kalau api besar?”

Tidak ada jawaban.

Paul menulis lagi:

ASAP → INFORMASI → KOORDINASI → TINDAKAN

“Masalah karhutla,” katanya, “sering bukan karena tidak ada orang yang melihat api.”

“Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah seseorang melihat api.”

Ia menoleh.

“Siapa yang menerima informasi?”

“Siapa yang datang?”

“Siapa yang membawa alat?”

“Siapa yang mempunyai kendaraan?”

“Siapa yang mengetahui sumber air?”

“Siapa yang mempunyai kewenangan?”

“Siapa yang membayar?”

“Siapa yang bertanggung jawab?”

Pertanyaan-pertanyaan itu jatuh satu per satu seperti batu ke dalam Sungai Kapuas.

5. KOPERASI SEBAGAI INFRASTRUKTUR SOSIAL

Paul kemudian bercerita tentang sebuah desa yang pernah ia kunjungi.

Di sana masyarakat membentuk koperasi.

Awalnya sederhana.

Mereka mengumpulkan uang.

Kemudian membeli peralatan.

Membuat kelompok pemantau.

Membuat daftar lokasi rawan.

Menyimpan nomor telepon.

Membuat jadwal patroli.

Menentukan siapa yang bertugas menghubungi siapa.

Mereka bahkan mengetahui di mana sumber air terdekat.

Tidak ada gedung megah.

Tidak ada logo besar.

Tidak ada rapat hotel.

Tetapi ada satu hal yang sangat penting:

mereka saling mengenal.

Paul menulis di papan:

TRUST

“Kepercayaan,” katanya.

“Kalau seseorang melihat asap dan menelepon saya, saya percaya bahwa informasi itu penting.”

“Kalau saya mengatakan akan datang, dia percaya saya datang.”

“Kalau koperasi mengatakan dana darurat tersedia, anggota percaya dana itu benar-benar ada.”

“Kalau masyarakat mengatakan lokasi api berada di sana, pemerintah tidak menganggap informasi itu sebagai suara yang tidak penting hanya karena datang dari desa.”

Paul tersenyum.

“Ini bukan teori koperasi.”

“Ini teori kehidupan.”

6. LIMA ORANG DAN SATU API

Paul kemudian membuat sebuah contoh.

“Bayangkan ada lima orang.”

Orang pertama melihat asap.

Orang kedua mempunyai sepeda motor.

Orang ketiga memiliki pompa air.

Orang keempat tahu jalan menuju lokasi.

Orang kelima mempunyai hubungan dengan petugas pemadam.

“Kalau kelima orang itu bekerja sendiri-sendiri?”

Tidak ada yang menjawab.

“Lima kemampuan.”

Ia menulis:

1 + 1 + 1 + 1 + 1 = 5

Kemudian ia menghapus angka lima.

Ia menggantinya dengan:

1 × 1 × 1 × 1 × 1 = 1

“Karena kemampuan yang tidak terhubung sering kali hanya menghasilkan kemampuan individual.”

Lalu ia menulis:

N × α → Q

“Dalam Koperasi Kuantum,” katanya, “jumlah orang penting. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kapasitas kelembagaan mengubah jumlah orang menjadi kemampuan bertindak.”

“N adalah jumlah anggota.”

“Alpha adalah kapasitas kelembagaan.”

“Q adalah nilai atau kemampuan kolektif yang dihasilkan.”

Seorang peserta rapat bertanya:

“Jadi koperasi bisa memadamkan kebakaran?”

Paul menggeleng.

“Bukan itu maksud saya.”

Ia menatap peserta tersebut.

“Koperasi bukan pengganti pemadam kebakaran profesional.”

“Koperasi adalah cara membuat masyarakat tidak menjadi penonton ketika sistem menghadapi risiko.”

7. RAPAT MULAI BERUBAH

Seorang pejabat yang sejak tadi diam bertanya:

“Kalau begitu, apa yang harus dilakukan?”

Paul menjawab:

“Jangan mulai dengan membentuk koperasi baru.”

Semua terdiam.

“Mulailah dengan bertanya: apa yang harus dilakukan?”

Ia menulis:

1. MENCEGAH

2. MENDETEKSI

3. MELAPORKAN

4. MERESPONS

5. MEMULIHKAN

“Setelah itu,” katanya, “kita tanyakan organisasi apa yang diperlukan.”

Bukan sebaliknya.

“Kalau koperasi memang sesuai, gunakan koperasi.”

“Kalau pemerintah harus bertindak, pemerintah bertindak.”

“Kalau perusahaan mempunyai kewajiban, perusahaan memenuhi kewajibannya.”

“Kalau pemadam profesional diperlukan, panggil pemadam profesional.”

“Kalau penegakan hukum diperlukan, tegakkan hukum.”

Paul menatap seluruh ruangan.

“Jangan menjadikan koperasi sebagai alasan untuk memindahkan kewajiban negara atau perusahaan kepada masyarakat.”

Ruangan kembali diam.

Kali ini diamnya lebih serius.

8. KETIKA KOPERASI MENJADI SEKATn BAKAR

Paul mengambil spidol lagi.

Ia menggambar dua wilayah.

Di antara keduanya ia menggambar garis.

“Ini sekat bakar.”

Kemudian ia menghapus garis itu.

“Sekarang bayangkan sekat bakar sosial.”

Ia menulis:

KEPERCAYAAN

INFORMASI

ATURAN BERSAMA

KEWAJIBAN

CADANGAN

RESPONS CEPAT

“Api fisik dapat dicegah dengan sekat fisik.”

“Tetapi risiko sosial membutuhkan sekat sosial.”

“Kalau masyarakat tidak saling percaya, informasi terlambat.”

“Kalau informasi terlambat, api membesar.”

“Kalau tanggung jawab tidak jelas, semua orang mencari orang lain.”

“Kalau dana pencegahan tidak tersedia, kita menunggu bencana.”

“Dan setelah bencana datang, kita mengadakan rapat.”

Paul berhenti.

Seorang peserta tersenyum.

Paul berkata:

“Rapat adalah teknologi yang sangat hebat.”

“Bisa menghasilkan banyak dokumen.”

“Tetapi sayangnya, api tidak takut kepada dokumen.”

Beberapa orang tertawa.

Kali ini semua tertawa.

9. PAUL DAN SUNGAI KAPUAS

Malamnya Paul kembali ke sungai.

Ia duduk di perahu kecil.

Kapuas mengalir gelap.

Di kejauhan tampak cahaya.

Paul bertanya kepada seorang kawan:

“Itu cahaya apa?”

“Entah.”

Mereka diam.

Beberapa menit kemudian kawan itu berkata:

“Mungkin rumah.”

Paul menggeleng.

“Semoga.”

Ia tahu, di musim tertentu, cahaya kecil di kejauhan dapat berarti banyak hal.

Bisa lampu rumah.

Bisa kendaraan.

Bisa pembukaan lahan.

Bisa api.

Dan kalau api, ia bisa menjadi sangat besar.

Paul melihat air Kapuas.

Ia teringat Amerika.

Di negeri tempat ia dilahirkan, orang sering berbicara tentang individual freedom.

Di Indonesia, ia belajar tentang gotong royong.

Ia tidak menganggap salah satu harus membunuh yang lain.

Ia justru melihat kemungkinan yang lebih menarik.

Kebebasan membutuhkan tanggung jawab.

Kebersamaan membutuhkan otonomi.

Dan keduanya membutuhkan kepercayaan.

Ia tersenyum.

“Barangkali,” katanya kepada Sungai Kapuas, “koperasi adalah salah satu cara manusia belajar menjadi bebas tanpa menjadi sendirian.”

Sungai tentu saja tidak menjawab.

Tetapi terus mengalir.

10. PAGI BERIKUTNYA

Keesokan harinya rapat itu menghasilkan sesuatu.

Bukan hanya berita acara.

Bukan hanya daftar hadir.

Bukan hanya rekomendasi.

Mereka sepakat membuat Kelompok Koperasi Pencegahan Karhutla sebagai proyek percontohan di beberapa desa.

Tugasnya bukan menjadi pemadam kebakaran.

Tugasnya adalah membangun kapasitas sebelum kebakaran terjadi.

Mereka menyusun peta risiko.

Membuat jaringan informasi.

Membangun dana cadangan.

Menentukan jalur komunikasi.

Mencatat sumber air.

Menyusun jadwal pemantauan.

Melatih anggota.

Dan, yang paling penting, membuat kesepakatan:

tidak menunggu api menjadi besar untuk mulai bekerja.

Paul membaca dokumen itu.

Ia bertanya:

“Siapa yang bertanggung jawab?”

Nama-nama ditulis.

“Siapa yang membiayai?”

Sumber dana ditulis.

“Siapa yang mengevaluasi?”

Ditulis.

“Kalau gagal?”

Semua terdiam.

Paul tersenyum.

“Nah.”

“Sekarang kita benar-benar mulai membangun organisasi.”

11. EPILOG: API YANG TIDAK MASUK AGENDA

Beberapa minggu kemudian, sebuah titik api muncul.

Kecil.

Sangat kecil.

Seorang anggota koperasi melihat asap.

Ia menelepon.

Informasi diteruskan.

Orang kedua bergerak.

Orang ketiga membawa pompa.

Orang keempat menunjukkan jalan.

Petugas datang.

Api dipadamkan sebelum menjadi besar.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada berita nasional.

Tidak ada pejabat yang diwawancarai televisi.

Tidak ada spanduk.

Tidak ada penghargaan.

Hanya satu hal yang terjadi:

hutan tidak terbakar.

Paul mendengar kabar itu di warung kopi.

Ia tersenyum.

“Berarti koperasi berhasil?”

Temannya menggeleng.

“Belum tentu.”

Paul tertawa.

“Bagus.”

“Mengapa bagus?”

“Karena kalau kita mulai merasa berhasil hanya karena satu api berhasil dipadamkan, kita akan lupa bahwa tugas sebenarnya adalah membuat sistem mampu mencegah api berikutnya.”

Ia melihat Sungai Kapuas.

Air terus bergerak.

Hutan terus bernapas.

Desa terus hidup.

Dan Paul akhirnya memahami sesuatu yang sederhana:

Peradaban tidak selalu terlihat ketika manusia membangun sesuatu.

Kadang-kadang peradaban justru terlihat ketika manusia berhasil mencegah sesuatu yang buruk terjadi.

Dan mungkin itulah bentuk koperasi yang paling sunyi:

bukan ketika semua orang berkumpul untuk memadamkan api,

melainkan ketika semua orang bekerja bersama sehingga api tidak pernah menjadi kebakaran.

Bersambung ke Cerpen #9.

***

Judul: Paul dan Rapat yang Tidak Pernah Memadamkan Api
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *