MajmusSunda News, Senin (19/10/2026) – Artikel berjudul “Kasih Melampaui Sekat” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak cukup dijelaskan oleh teori atau perdebatan agama. Kita baru sungguh memahaminya ketika tubuh melemah, sakit membuat kita rapuh, dan seseorang datang membawa pertolongan, penghiburan, atau sekadar kesediaan untuk menemani.

Setiap kali saya berulang tahun atau mengalami kekurangan gizi, Bhikkhu Dammasubbo dan rekan-rekan Buddhis datang membawa puja, makanan, dan penghiburan.
Ketika saya diketahui sakit, rekan-rekan muda Kristen dari Surabaya menjadi orang-orang pertama yang mengantar saya ke laboratorium dan membantu mencari akses ke rumah sakit.
Rekan-rekan perempuan Kristen dari kawasan Kelapa Gading memberikan fasilitas klinik untuk membantu mencegah percepatan penurunan fungsi organ tubuh saya.
Sementara itu, sahabat-sahabat Muslim dari Nurcholish Madjid Society dan Dompet Dhuafa memberikan perhatian besar dalam proses pengobatan saya.
Di tengah kerapuhan, mereka hadir bukan karena kesamaan iman, melainkan karena kepedulian terhadap sesama manusia. Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal yang sederhana, tetapi mendalam: orang baik ada di semua agama.
Tentu saja, tidak semua orang baik atau buruk ditentukan oleh agama yang dianutnya. Setiap tradisi memiliki orang-orang yang memuliakan kehidupan, tetapi juga bisa dihuni mereka yang terjebak dalam kesombongan dan kebencian. Agama dapat menjadi mata air kebajikan, tetapi manusia juga bisa mengubahnya menjadi tembok pemisah.
Bukankah penyakit tidak bertanya tentang agama sebelum memasuki tubuh manusia? Bukankah rasa lapar tidak memeriksa suku sebelum menggerogoti perut? Penderitaan tidak mengenal sekat identitas, dan kasih sayang tidak seharusnya dibatasi olehnya.
Saya tidak perlu menjadi Buddhis untuk tersentuh oleh welas asih seorang bhikkhu. Saya tidak perlu memeluk agama Kristen untuk mengenang ketulusan pertolongan sahabat-sahabat Kristen. Saya tidak harus memiliki keyakinan yang sama dengan rekan-rekan Muslim untuk merasakan kepedulian mereka.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa kita tidak harus sepakat tentang segala sesuatu untuk dapat saling menolong. Menghormati perbedaan bukan berarti menghapus keyakinan masing-masing, melainkan menolak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berpaling dari penderitaan sesama.
Barangkali, ukuran terdalam dari keberagamaan bukanlah seberapa keras seseorang menyatakan kebenaran agamanya, melainkan seberapa nyata ia menghadirkan kasih sayang yang diajarkan oleh keyakinannya.
Saya ingin terus belajar meneruskan kebaikan yang pernah saya terima, tanpa terlebih dahulu bertanya tentang agama atau suku seseorang.
Sebab, kita mungkin berbeda dalam doa, tetapi tetap bisa bergandengan tangan dalam duka. Kita mungkin menempuh jalan spiritual yang berlainan, tetapi tetap berjalan bersama ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
Orang baik ada di semua agama. Dan kebaikan, ketika sungguh-sungguh diwujudkan, selalu menemukan jalan untuk melampaui sekat-sekat yang memisahkan manusia.
Di dunia yang saya impikan, manusia tidak harus menjadi serupa untuk bisa menjadi saudara.
***
Judul: Kasih Melampaui Sekat
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












