Nurani di Zaman Gelap

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Jum’at (16/10/2026) – Artikel berjudul “Nurani di Zaman Gelap” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kita hidup di zaman ketika kebohongan pandai menyamar menjadi kebenaran, ketika ketidakadilan duduk di singgasana dan meminta dihormati, ketika orang-orang belajar menundukkan kepala bukan karena hormat, melainkan takut kehilangan apa yang mereka punya.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di zaman seperti ini, yang paling berbahaya bukanlah gelapnya dunia, melainkan ketika manusia mulai menganggap gelap sebagai cahaya, lalu mencurigai siapa pun yang berani menyalakan pelita.

Tak semua pertempuran harus dimenangkan dengan menghunus pedang, tak setiap kebenaran harus diteriakkan di tengah kerumunan.

Ada saatnya kita mesti berdiri, ada saatnya kita harus bertahan, ada saatnya menyelamatkan nyala kecil di dalam dada menjadi lebih penting daripada membakar diri demi menerangi mereka yang sengaja memejamkan mata.

Keberanian bukan selalu tentang melawan tanpa gentar, melainkan mengetahui apa yang tak boleh kita khianati, bahkan ketika dunia menawarkan seribu alasan untuk menyerah.

Namun, berhati-hatilah: gelap punya cara paling licik untuk menang. Ia tak selalu membunuh orang baik; terkadang, ia hanya membuat mereka lelah, kecewa, lalu perlahan menyerupai apa yang dahulu mereka tentang.

Jangan sampai luka mengajarimu melukai, jangan sampai kebencian mengubahmu menjadi cermin dari segala yang kau lawan.

Sebab, ketika kau menggunakan racun untuk membasmi racun, belum tentu dunia menjadi lebih bersih; bisa jadi, kau hanya sedang memperpanjang rantai yang sama.

Maka, berjalanlah meski jalan belum terang. Jaga akalmu agar tak dibeli ketakutan, jaga suaramu agar tak disewa kepentingan, dan jaga nuranimu agar tak menjadi barang murah di pasar kekuasaan.

Kita mungkin tak sanggup mengusir seluruh gelap, tak mampu menyelamatkan semua orang, tak sempat menyaksikan fajar yang kita nantikan.

Tetapi setidaknya, jangan menjadi tangan yang menambah kegelapan, jangan menjadi lidah yang memuliakan dusta, jangan menjadi jiwa yang menyerah sebelum waktunya.

Sebab dalam zaman ketika kegelapan berkuasa, kemenangan pertama manusia bukanlah menaklukkan dunia, melainkan menolak membiarkan dunia menaklukkan nuraninya.

***

Judul: Nurani di Zaman Gelap
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *