MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (12/10/2026) – Ada pertanyaan dalam Al-Qur’an yang tidak mengetuk pintu rumah, melainkan mengetuk ruang terdalam dalam diri manusia. Ia tidak datang dengan suara keras, tetapi justru karena kelembutannya, kita kerap terlambat menyadari betapa jauh pertanyaan itu menjangkau. Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16: _Alam ya’ni lilladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillahi wa ma nazala minal-haqqi_ — “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan apa yang telah diturunkan-Nya berupa kebenaran?” Pertanyaan itu seperti mengetuk pintu hati yang telah lama menjalani perjalanan.
Pertanyaan itu terasa berbeda ketika usia telah berada di seputar 60 tahun. Kita telah menyaksikan banyak hal, melewati berbagai keadaan, mengenal keberhasilan dan kegagalan, serta menyimpan pengalaman yang tak seluruhnya dapat diceritakan. Tahun demi tahun telah mengajarkan banyak hal kepada pikiran. Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri, apakah perjalanan yang panjang itu juga telah membuat hati semakin lembut?
Usia dapat menambah pengetahuan, kedudukan, dan pengalaman. Kita semakin pandai membaca perilaku manusia, memahami peristiwa, bahkan menjelaskan persoalan kehidupan dengan bahasa yang meyakinkan. Akan tetapi, hati memiliki perjalanannya sendiri. Ia dapat menjadi lapang oleh keikhlasan, tetapi dapat pula mengeras karena kebiasaan merasa benar. Kita bisa terbiasa menyebut nama Allah tanpa selalu merasakan kedalaman maknanya, bahkan terbiasa beribadah tanpa menyadari betapa kita masih membutuhkan pertolongan-Nya.
Di sinilah pertanyaan ayat dari surah Al-Hadid menemukan tempatnya. Allah tidak sedang meminta kita menghitung berapa lama telah hidup atau berapa banyak amal yang telah dikerjakan. Pertanyaan-Nya mengarahkan perhatian kepada keadaan hati ketika mengingat-Nya. Perjalanan iman bukan sekadar bertambahnya tahun atau bertambahnya pengetahuan tentang agama. Ada kerendahan hati yang harus terus tumbuh, ada kesombongan yang harus luruh, dan ada kesadaran tentang kelemahan diri yang perlu tetap terpelihara.
Kedewasaan rohani tidak selalu ditandai oleh banyaknya kata tentang Tuhan. Ia dapat hadir dalam kesediaan mendengarkan orang lain, keberanian mengakui kekeliruan, ketulusan meminta maaf, serta kemampuan menahan diri ketika memiliki kuasa untuk menyakiti. Dzikir menemukan jejaknya dalam perilaku. Doa menemukan maknanya dalam cara kita memperlakukan sesama. Iman memperoleh kedalamannya ketika hati yang mengingat Allah ikut membimbing ucapan, tindakan, dan keputusan.
Di usia yang berada di seputar 60 tahun, barangkali kita mulai memandang hidup dengan ukuran yang berbeda. Banyak hal yang dahulu terasa penting perlahan kehilangan kilaunya. Pengakuan, kedudukan, pujian, bahkan berbagai pencapaian yang pernah dikejar dengan sungguh-sungguh, pada waktunya terasa seperti bagian dari perjalanan yang telah lewat. Yang tersisa justru pertanyaan yang lebih sederhana dan lebih dalam, sudahkah semua yang kita cari membawa kita mendekat kepada-Nya?
Lalu, apalagi yang kita cari? Bukankah ilmu telah kita kejar, pengalaman telah kita kumpulkan, pengabdian telah kita jalani, dan dunia telah memperlihatkan banyak wajahnya? Allah melanjutkan firman-Nya masih dalam QS. Al-Hadid ayat 16: _Wa la yakunu kalladzina utul-kitaba min qablu fathala ‘alaihimul-amadu faqasat qulubuhum, wa katsirum minhum fasiqun_ — “Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.”
Ayat itu terasa semakin dalam ketika kita menyadari bahwa perjalanan waktu bukan dengan sendirinya membuat hati menjadi lembut. Maka, di seputar 60 tahun ini, apalagi yang kita cari selain hati yang semakin tunduk, ilmu yang semakin menjadi cahaya, dan kehidupan yang semakin dekat kepada-Nya? Semoga ketika pertanyaan itu kembali terdengar, hati kita mampu menjawabnya dengan lirih, “Ya Allah, mungkin inilah waktunya.”
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Apakah Belum Tiba Waktunya?: Tentang Usia, Iman, dan Hati yang Kembali Tersentuh
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












