Dosa

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Kamis (08/10/2026) – Artikel berjudul “Dosa” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Barangkali salah satu hal yang membuat manusia tetap manusia adalah kemampuannya untuk merasa bersalah.

Kita melakukan sesuatu yang kita tahu tidak patut, lalu sesuatu di dalam diri bergetar. Kita malu. Kita berharap tak ada yang melihat. Perasaan itu hadir bahkan sebelum orang lain menghakimi sebelum pengadilan, sebelum hukuman.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Dosa, pada mulanya, bukan sekadar hukuman yang datang dari luar. Ia adalah peristiwa batin: ketika jiwa tahu bahwa dirinya telah menyimpang.

Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad ﷺ merumuskannya dengan sangat tajam:

“Dosa adalah sesuatu yang mengusik dalam dadamu, dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim 2553).

Di situlah dosa pertama-tama bersemayam: sebagai getar jiwa.

Ada sesuatu yang berdesir ketika tangan melakukan yang tak patut, lidah mengkhianati kebenaran, atau kehormatan orang lain diinjak demi kepentingan diri. Kita merasa bersalah. Kita merasa malu. Itulah hati yang masih hidup.

Tetapi manusia dapat membungkamnya.

Mula-mula ia berdosa, lalu mencari pembenaran. Mengulanginya, lalu menyebutnya kebiasaan. Hingga yang salah terasa biasa dan yang tercela terasa wajar.

Kepongahan yang dipelihara dan kedurjanaan yang terus dibenarkan perlahan menggerogoti lentera batin. Cahaya hati surut, suara nurani mengecil, sampai manusia mengalami kematian rasa:

mata masih melihat, tetapi tak mengenali kebenaran; telinga masih mendengar, tetapi tak menangkap nasihat; hati masih berdetak, tetapi tak lagi merasa bahwa dirinya telah salah.

Dalam bahasa wahyu, Allah menutup pendengaran, penglihatan, dan hati mereka.

Dan ada ironi yang menarik: manusia adalah satu-satunya primata yang diketahui mampu menunjukkan visible blushing wajah yang tampak memerah ketika malu atau tersipu.

Seolah tubuh memiliki bahasa kejujuran sendiri. Ketika mulut berusaha menyembunyikan, wajah kadang masih mengaku: aku malu.

Tetapi apa yang terjadi ketika rasa malu itu sendiri telah mati?

Kamera menyorot. Borgol terpasang. Pakaian pesakitan dikenakan. Nama disebut di hadapan jutaan mata. Namun wajah tetap tenang. Tidak merah. Tidak menunduk. Tidak tampak terusik.

Tentu, wajah bukan ukuran pasti rasa bersalah. Tetapi ada ironi yang sulit diabaikan: seseorang dapat melakukan sesuatu yang tercela di hadapan publik, bahkan telah dinyatakan bersalah, namun tidak lagi menunjukkan tanda-tanda malu yang semestinya menyertai perbuatannya.

Seolah-olah kejahatannya masih hidup, tetapi rasa malunya telah mati.

Kita melihat ironi serupa dalam berbagai perkara korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan: kejahatan yang dipoles menjadi prosedur, gratifikasi yang dinormalisasi, dan penyalahgunaan jabatan yang dianggap bagian dari permainan.

Pada titik itu, persoalannya menjadi lebih dalam daripada hukuman.

Masyarakat tidak hanya rusak ketika banyak orang melakukan dosa, tetapi ketika orang yang melakukan dosa tidak lagi merasa bahwa ia sedang melakukan dosa.

Ketika rasa malu dianggap kelemahan, penyesalan dianggap kekalahan, dan permintaan maaf menjadi strategi.

Maka dosa tak lagi terasa sebagai luka.

Ia berubah menjadi kulit.

Dan ketika kulit telah mati rasa, luka sedalam apa pun tak lagi terasa.

Mungkin itulah azab yang paling mengerikan:

bukan ketika manusia menangis karena dosanya, melainkan ketika ia tak lagi mampu menangis atas sesuatu yang seharusnya membuatnya menangis.

Sebab selama dosa masih mengusik dada, masih ada cahaya. Tetapi ketika dada tak lagi bergetar, wajah tak lagi malu, dan hati tak lagi merasa bersalah, sesungguhnya ia telah mati sebelum kematian datang.

Tubuhnya masih berjalan, suaranya masih terdengar, namanya masih dipanggil tetapi manusia di dalam dirinya telah lebih dahulu dikuburkan.

***

Judul: Dosa
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *