MajmusSunda News, Senin (05/10/2026) – Artikel berjudul “Kritik Lipstik” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Ada orang yang begitu lantang mengkritik pemerintah, menyoal akuntabilitas, transparansi, buruknya tata kelola.
Tetapi ketika berhadapan dengan MBG, KDMP, atau kebijakan lain, ia baca sebagai pilihan sosialistik, tiba-tiba pisau kritiknya tumpul.

Tak peduli apakah desainnya benar-benar koheren dengan pijakan sosialisme yang ia yakini.
Cukup karena ia mengenali label “sosial” di sana, maka kritik terhadap perencanaan, tata kelola, dan problem implementasinya dianggap sebagai sikap yang keliru.
Di situlah persoalannya: ideologi berubah dari alat untuk menguji kebijakan
menjadi alasan untuk membenarkannya.
Ia bukan lagi bertanya, “Apakah kebijakan ini sungguh mencerminkan prinsip yang kita yakini?”
Melainkan, “Mengapa harus mengkritik, jika tangan kekuasaan sedang merangkul kita?”
Maka kritik pun kehilangan konsistensinya: prinsip yang semestinya menguji kebijakan
justru dipaksa membenarkannya.
Yang lebih menyedihkan, ketika inkonsistensi itu datang dari mereka yang seharusnya menjadi penjaga moral.
Tokoh agama mestinya berdiri sedikit menjauh dari kekuasaan, bukan untuk memusuhinya, melainkan agar tetap mampu berkata: ini benar, ini salah.
Sebab kekuasaan membutuhkan cermin,
bukan pengeras suara.
Namun cermin yang terlalu lama berada di ruang kekuasaan bisa kehilangan fungsinya yang semestinya memantulkan kenyataan
pelan-pelan hanya memantulkan apa yang ingin dilihat penguasa.
Dan godaan kekuasaan memang tak selalu berupa uang. Kadang ia datang sebagai penghormatan, atau sekadar perasaan bahwa diri kita akhirnya dianggap penting.
Tak ada yang salah dengan ambisi kekuasaan. Yang berbahaya bukan keinginan untuk meraihnya,
melainkan ketika demi kekuasaan seseorang mulai rikuh berkata tidak.
Sebab semakin dekat seseorang dengan kekuasaan, semakin dibutuhkan keberanian moral untuk tetap kritis tetap mampu berkata benar ketika benar dan salah ketika salah, bahkan kepada tangan yang sedang merangkulnya.
Kritik tanpa konsistensi hanyalah fanatisme
yang mengenakan pakaian intelektual.
Agama tanpa keberanian moral mudah berubah menjadi dekorasi kekuasaan.
Indah dipandang,
sering dikutip,
tetapi tak lagi berfungsi sebagai cermin.
***
Judul: Kritik Lipstik
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












