Mencintai Pertanian, Memuliakan Petani

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Selasa (29/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Mencintai Pertanian, Memuliakan Petani” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Pernyataan “Mencintai Pertanian, Memuliakan Petani” muncul sebagai bentuk kritik sosial, kesadaran budaya, sekaligus arah kebijakan strategis untuk merespons paradoks besar di Indonesia: negara agraris yang kebutuhan pangannya sangat tinggi, namun profesi petaninya sering kali terpinggirkan dan identik dengan kemiskinan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Ungkapan ini memuat dua pilar pemikiran yang mendalam, yaitu hubungan manusia dengan sektor pangan (alam) dan hubungan negara/masyarakat dengan pelaku utamanya (manusia):
1. Esensi “Mencintai Pertanian” (Sektor Eksistensial). Mengacu pada pidato historis Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa “Pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa” dan “Petani adalah Penyangga Tatanan Nasional Indonesia”.

Mencintai pertanian berarti menyadari bahwa sektor ini bukan sekadar urusan bisnis atau ladang lumpur, melainkan jantung pertahanan nasional yang menjaga kedaulatan pangan agar bangsa tidak bergantung pada impor. Kemudian, sektor ini menuntut perhatian generasi muda untuk beralih ke pertanian modern (smart farming). Mencintai pertanian berarti merawat tanah, air, dan ekologi demi masa depan, bukan mengeksploitasinya hingga rusak.

2. Esensi “Memuliakan Petani” (Kemanusiaan & Keadilan Ekonomi). Selama berpuluh-puluh tahun, profesi petani kerap dianggap sebagai pekerjaan strata bawah, melelahkan, dan tidak menjanjinkan masa depan. Ungkapan “memuliakan” hadir untuk membalikkan sudut pandang tersebut: petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memberi makan seluruh isi negeri. Tanpa kerja keras mereka di bawah terik matahari, tidak akan ada makanan di meja makan perkotaan.

Memuliakan petani tidak boleh berhenti pada retorika dan pujian semata. Wujud nyata dari memuliakan mereka adalah memberikan hak-hak ekonomi yang adil, seperti:Jaminan stabilitas harga jual gabah/hasil panen agar petani tidak merugi saat panen raya.Kemudahan akses pupuk bersubsidi dan teknologi pertanian. Perlindungan lahan melalui reforma agraria agar petani gurem tidak kehilangan ruang produksinya.

Mengapa ungkapan Ini mengemuka kuat sekarang? Ungkapan ini semakin masif digaungkan belakangan ini terutama di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang gencar mengejar target Swasembada Pangan karena adanya ancaman krisis regenerasi petani. Mayoritas petani Indonesia saat ini berada di usia tua, sementara generasi muda enggan turun ke sawah karena melihat nasib kesejahteraan petani yang belum mapan.

Oleh karena itu, kalimat ini dijadikan sebagai tagline moral sekaligus pengingat bagi pengambil kebijakan: kita tidak akan pernah bisa mencapai swasembada pangan (mencintai pertanian) jika kesejahteraan dan martabat orang yang mencangkul tanahnya tidak pernah diperbaiki (memuliakan petani).

Di sisi lain, ungkapan “Mencintai Pertanian, Memuliakan Petani”, juga merupakan sebuah manifesto etis dan spiritual yang menempatkan sektor agraria bukan sekadar sebagai lahan bisnis atau urusan perut, melainkan sebagai jantung peradaban dan tolok ukur martabat suatu bangsa.
Di balik kalimat ringkas ini, terkandung nilai-nilai filosofis yang sangat mendalam:

Pertama, Nilai Teologis dan Kosmologis (Eco-Spiritualism). Mencintai pertanian merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap alam semesta. Pertanian adalah ruang dialog suci antara manusia, tanah, air, dan matahari. Mencintai pertanian berarti memahami hukum alam (sunnatullah) bahwa apa yang kita tanam, rawat, dan jaga dengan kasih sayang akan mengalirkan berkah kehidupan.

Sedangkan memuliakan petani adalah co-creator atau perpanjangan tangan Tuhan di bumi untuk merawat kehidupan. Melalui peluh mereka, sebutir benih diubah menjadi makanan yang menghidupkan jutaan manusia. Memuliakan petani berarti mengakui kesucian tugas mereka yang memberi napas bagi keberlangsungan umat manusia.

Kedua, Nilai Keadilan Eksistensial (Restorative Justice). Filsafat ini menggugat ketimpangan modernitas yang sering kali menempatkan profesi kerah putih di atas segalanya, sementara mereka yang bekerja di lumpur dipandang sebelah mata. Ada kontradiksi moral yang berat ketika “orang yang menumbuhkan makanan justru menjadi orang yang paling kelaparan.”Ungkapan ini menuntut pembalikan logika: petani tidak boleh diletakkan di kasta sosial terendah. Memuliakan mereka berarti memberikan hak ekonomi yang Adil dan Beradab, memastikan mereka mendapat keuntungan pertama dari hasil bumi, dan memperlakukan profesi ini dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya.

Kwtiga, Filsafat Kedaulatan Kebangsaan (Sovereignty). Nilai ini berakar kuat pada pemikiran proklamator kita, Bung Karno, yang menyatakan bahwa “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa.” Sebuah bangsa tidak akan pernah bisa berdiri tegak (berdaulat) jika perut rakyatnya digantungkan pada belas kasihan impor negara lain.Mencintai pertanian dan memuliakan petani adalah fondasi dari nasionalisme sejati. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang menghargai tanah airnya sendiri dan menjaga para pahlawan pangannya (petani) agar tetap sejahtera dan bangga mengolah bumi pertiwi.

Keempat, Nilai keberlanjutan antar generasi (Sustenance). Ungkapan ini adalah seruan moral untuk masa depan. Jika kita tidak mencintai pertanian, tanah-tanah subur akan habis disemen menjadi gedung dan beton. Jika kita tidak memuliakan petani, generasi muda akan menolak turun ke sawah (krisis regenerasi). Filosofi ini mengingatkan bahwa merawat pertanian dan petaninya adalah cara kita menjamin masa depan anak-cucu kita agar tidak lahir di bumi yang mandul dan kelaparan.

Secara singkat, ungkapan ini mengajarkan kita untuk kembali ke akar (back to roots). Bahwa kemajuan teknologi secanggih apa pun di sebuah negara akan kehilangan maknanya jika bangsa tersebut lupa cara menghormati tanah yang membesarkannya dan manusia yang memberi makan rakyatnya.

Semoga jadi percik permenungan bersama ! (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Mencintai Pertanian, Memuliakan Petani
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *