Menjaga Lintasan Gemerlap Zamrud Khatulistiwa – Singgasana Para Dewata

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Senin (28/09/2026) – Artikel Berjudul “Menjaga Lintasan Gemerlap Zamrud Khatulistiwa – Singgasana Para Dewata” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM. Finance, GM. HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor Bid. Kemahasiswaan & Alumni, Wakil Rektor Bid. Sumberdaya dan Legal.

Dalam Pustakawarna yang dibuat dan disusun oleh N.A. Douwes Dekker, berjudul Tanah Air Kita, dia menyebutkan dan menggambarkan dengan bangga, Zamrud Khatulistiwa itulah julukan Indonesia, rangkaian pulau besar dan pulau kecil seluruh Nusantara ini. Silih berganti bukit dan pegunungan, tegak berdiri dan gagah perkasa, berselendang rimba raya yang hijau kemilau, selang-seling jurang dan lembah yang hebat-hebat, itulah corak istimewa alam Khatulistiwa, mendapat julukan yang menggema dan membahana sepanjang masa, Kalung Ratna Mutu Manikam.

Manusia modern sekarang terlampau banyak hidup dalam alam Streamline dan produksi, yang penuh dengan benih-benih pertikaian dan persengketaan. Sebab hutan belukar itu bukan saja menyediakan kayu dan hasil hutan lainnya, amat penting artinya guna melindungi hidup manusia atau masyarakat itu sendiri.

Tapi sekarang, terjadi krisis kelola yang salah dan tumpang tindih, berdampak mendalam dengan ketidakmampuan dalam mengelola Lingkungan Hidup, sehingga timbul Bencana banjir, Tanah longsor dan Kebakaran Hutan. Pengelolaan sanitasi lingkungan juga lemah, sehingga muncul berbagai wabah penyakit. Di tiap pulau, setiap tahun tidak kurang dari ribuan ton tanah subur hilang, dihanyutkan air (erosi). Itulah akibat penebangan pohon-pohon secara brutal dan sewenang-wenang, pemusnahan hutan yang akibatnya amat teramat sangat mengkhawatirkan.

Untuk itu, patutlah orang-orang insyaf dan menghormati kebesaran alam yang dianugerahkan untuk Tanah Air kita Nusantara Indonesia ini. Berbanggalah kita pada Ki Hadjar Dewantara yang telah menyematkan nama tersebut, yang berarti Nusa, Pulau, beribu-ribu yang kecil-kecil, berpuluh-puluh yang besar-besar, terpisah yang satu daripada yang lainnya.

Juga berbanggalah kita menjadi Putra Indonesia, Putra Nusantara yang mendunia. Kita harus sadar, Indonesia ini Negara Raksasa, tetapi menata kehidupannya seakan-akan masih baru, apalagi setelah Reformasi, yang sedang berebut dan mempertahankan Integritas Politiknya yang bersikap bebas-aktif di dalam pergolakan Dunia yang berputar pada tatanan Jahiliyah Modern, ke dalam pun harus diketemukan sesuatu rumusan guna memecahkan berbagai fenomena yang sangat bertumpuk-tumpuk tanpa solusi.

Untuk itulah semua aparatur Negara harus selalu ingat pada rakyat dan masyarakatnya, karena sesuatu Bangsa yang memang Hidup, membangun buat hari kemudian. Jangan dibiarkan korupsi merajalela, masih terasa sebagai Window dressing, karena masih kokohnya praktik-praktik KKN dan penegakan hukum yang salah, seperti di bidang ekonomi sama sekali tidak ada reformasi, karena masih dikuasai oleh pola pemikiran menaikkan pajak rakyat, dan orientasi pada utang luar Negeri, dan dominasi peran para Pengusaha serta penerapan konsep tengkulak pada kebijakan pemerintah, telah menggerus kebijakan publik.

Untuk menjaga Zamrud Khatulistiwa ini, yang dibutuhkan saat sekarang adalah kepemimpinan yang memahami masalah dan mampu memberikan Direction yang jelas terhadap semua unsur pelayanan publik. Jangan memakai konsep Leadership Mandor, yang hanya menegur setelah terjadi kesalahan. Lakukan sosialisasi kekuatan moral dan Cinta Tanah Air pada semua lapisan masyarakat dari level bawah sampai pada Pejabat Tinggi. Tidak perlu dengan Jargon-jargon yang aneh-aneh, pakailah bahasa rakyat, teriakkanlah seperti:

“Untuk mengembangkan Jiwamu, Kenalilah lebih dulu JIWA TANAH AIRMU.”

Faktor Sosial budaya, terbelenggu ambisi dan kepentingan kelompok, mengalahkan moral dan akal sehat, menghancurkan Human Capital, dampaknya masyarakat apatis dan masa bodoh, untuk menyerap nilai-nilai kebenaran, memunculkan Symbolisme sebagai taktik strategi untuk bersaing tetapi bukan Substansi, akhirnya yang menang adalah Money Politic dan Social Engineering.

Pengembangan pendidikan tidak diorientasikan, untuk membangun Kesadaran dan Watak yang memandang Rasionalitas dan Moralitas secara seimbang, diikuti sistem politik yang memasuki fase membahayakan, tidak lagi dilandasi prinsip-prinsip demokrasi yang benar serta Checks and Balances, selalu bertentangan dengan hakikat dan tujuannya.

Ekonomi tetap menggantungkan pada hutang, menyebabkan pendapatan Negara dirongrong pembayaran hutang dan bunganya, di samping tidak sepadan dalam merumuskan dan melaksanakan ekonomi makro.

Diharapkan nanti perbaikan utama Ekonomi Negara, bisa memakmurkan dan mensejahterakan Masyarakat, sehingga tumbuh kebanggaan terhadap Negara, juga pemikiran bahwa Negaranya dapat dianggap sebagai tiang utama Perekonomian Bangsa dan Negara.

Ex me Ipsa Renata Sum.

***

Judul: Peran Besar Human Resources Management – Dalam Tumbuh Kembangnya Organisasi/Perusahaan Menjadi Unggulan
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *