MajmusSunda News – Bandung, Minggu (27/09/2026) – Drs. Rully H. Alfiady, Ketua Umum Pimpinan Pusat Angkatan Muda Siliwangi (PP AMS), menyampaikan paparan pada Forum Diskusi Sinergi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Jawa Barat dengan tema: “Merajut Kewaspadaan Dini Bersama Pemuda: Sinergi Deteksi dan Cegah Dini ATHG untuk Pembangunan Jawa Barat”, yang dilaksanakan oleh Badan Kesbangpol Jawa Barat, Sabtu, 26 September 2026, di Aula Kujang lantai 3, Gedung Twin Tower B, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Barat, Jl. Kolonel Masturi No. 11, Cipageran, Kota Cimahi.
Berikut rangkuman paparannya pada Forum Diskusi tersebut.
Menatap Masa Depan Jawa Barat, Mengapa Kita Harus Berhenti Menjadi “Pemadam Kebakaran” dalam Pembangunan
1. Jebakan Reaktivitas
Pemerintah kita sering kali terjebak dalam “Firefighter Syndrome”—sibuk menyiram air ke sana kemari saat api masalah sudah membubung tinggi, sementara fondasi bangunan sebenarnya sudah lama lapuk dimakan rayap birokrasi. Kita kerap terbuai oleh megahnya infrastruktur fisik yang terpampang di permukaan, namun mengabaikan kerentanan sistemik yang bersembunyi di baliknya. Begitu krisis meledak, semua pihak panik mencari solusi instan yang hanya bersifat kosmetik.
Pembangunan sejati bukan sekadar soal memacu angka pertumbuhan atau mendirikan deretan gedung pencakar langit. Esensinya terletak pada ketangguhan sistem dalam melakukan deteksi dini terhadap setiap potensi hambatan dan gangguan sebelum mereka bermutasi menjadi krisis yang melumpuhkan daerah. Kita harus berhenti menjadi pemadam kebakaran yang lelah dan mulai menjadi arsitek sistem yang proaktif.

2. Berhenti Menjadi Pemadam, Mulailah Menjadi Detektor
Visi pembangunan Jawa Barat yang berkelanjutan menuntut pergeseran paradigma dari reaktif ke proaktif melalui kerangka ATGH (Ancaman, Tantangan, Gangguan, dan Hambatan). Seorang birokrat masa kini tidak boleh hanya duduk manis menunggu laporan masalah di atas meja; mereka harus mampu mendiagnosis anomali sejak dini. Tanpa kemampuan deteksi, energi dan anggaran negara akan selalu terkuras habis untuk memadamkan “api” sosial dan ekonomi, alih-alih digunakan untuk lompatan inovasi.
Transformasi pola pikir ini adalah harga mati untuk memastikan visi pembangunan tetap berada pada jalurnya:
“Ubah mindset dari sekadar ‘Pemadam Kebakaran’ (reaktif) menjadi ‘Detektor’ (proaktif).”
3. Hambatan vs. Gangguan: Dua Penyakit dengan Dua Resep Berbeda
Dalam kerangka HAGAN, kita harus memiliki “ketajaman bedah” untuk membedakan jenis penyakit yang menyerang pembangunan. Mencampuradukkan keduanya hanya akan melahirkan kebijakan salah sasaran yang membuang-buang sumber daya.
| Kategori | Sifat | Fokus Solusi |
|---|---|---|
| Hambatan | Internal & Kronis: Faktor dari dalam yang memperlambat laju. | Reformasi birokrasi, tata kelola, & peningkatan kapasitas SDM. |
| Gangguan | Eksternal & Akut: Faktor luar yang merusak/menggagalkan hasil. | Pencegahan, deteksi dini, penegakan hukum tegas, & koordinasi. |
Kegagalan membedakan kedua hal ini berakibat fatal: kita mungkin mencoba menyelesaikan masalah penegakan hukum dengan pelatihan administratif, atau mencoba memberantas korupsi struktural hanya dengan slogan tanpa perbaikan sistemik.

4. Musuh dari Dalam: Dari Birokrasi Berbelit hingga Budaya “Ewuh Pakewuh”
Hambatan internal adalah “penyakit degeneratif” yang sering kali diabaikan karena dianggap lumrah. Berdasarkan diagnosis kritis, terdapat beberapa titik sumbatan utama:
- Disfungsi Struktural: Regulasi yang tumpang tindih dan ego sektoral antar-OPD sering kali membuat program pembangunan saling tumpang tindih. Anggaran pun habis tersedot untuk belanja rutin ketimbang belanja modal yang berdampak nyata.
- Krisis SDM (Low Skill, High Politic): Penempatan jabatan yang berbasis kedekatan politik ketimbang kompetensi menghasilkan birokrasi yang lamban dan gagap terhadap perubahan.
- Kesenjangan Infrastruktur & Geografis: Adanya digital gap dan hambatan logistik di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) menciptakan ketimpangan yang lebar antara kemajuan kota dan desa.
- Stagnasi Ekonomi: Ketergantungan pada satu sektor tunggal dan sulitnya UMKM untuk “naik kelas” menjadi beban bagi daya saing daerah.
- Barikade Kultural: Budaya ewuh pakewuh (sungkan) menjadi racun bagi inovasi. Ini melahirkan resistensi terhadap pembaruan dan membungkam kritik sehat yang sebenarnya dibutuhkan untuk perbaikan sistem.
- Apatisme Demokrasi: Musrenbang yang hanya menjadi ritual formalitas belaka telah membunuh partisipasi masyarakat, menjadikan pembangunan kehilangan akarnya pada kebutuhan rakyat.
5. Ancaman Baru di Era Digital: Judol, Pinjol, dan Serangan Siber
Selain hambatan internal, gangguan eksternal kini hadir dalam bentuk yang lebih senyap namun mematikan, terutama di ruang digital. Fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal bukan sekadar masalah sosial, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan ekonomi keluarga di Jawa Barat.
Kejahatan siber seperti doksing, scamming, hingga kebocoran data di Disdukcapil dan serangan ransomware pada rumah sakit membuktikan bahwa pertahanan kita masih sangat rapuh. Gangguan ini memiliki korelasi langsung terhadap produktivitas daerah.
Sebagai contoh, ambillah potret Kota Bandung. Isu sampah yang tak terkelola, kemacetan kronis, hingga praktik premanisme dan parkir liar bukanlah sekadar gangguan estetika kota. Ini adalah kebocoran ekonomi yang menurunkan efisiensi dan daya tarik investasi. Jika gangguan keamanan, polarisasi ideologi (hoaks/SARA menjelang Pilkada), dan krisis ekologi (abaikan daya dukung alam) ini tidak dideteksi dini, maka seluruh pencapaian pembangunan bisa musnah dalam sekejap.

6. Formula Pemuda: Empat Langkah Menjadi Pengawal Pembangunan
Generasi muda tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, melainkan harus menjadi aktor utama deteksi dini. Untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata, diperlukan gerakan yang terukur melalui Formula Deteksi Dini Pemuda:
- LIHAT: Mengasah kepekaan terhadap gejala anomali dan kejanggalan di sekitar kita.
- CATAT: Dokumentasikan setiap fakta secara objektif dengan dukungan data yang valid, bukan sekadar opini emosional.
- LAPOR: Gunakan kanal resmi pemerintah untuk menyuarakan temuan secara prosedural dan bertanggung jawab.
- KAWAL: Pastikan laporan tersebut tidak hanya berakhir di tumpukan berkas, tetapi benar-benar mendapatkan tindak lanjut yang tuntas.
Membangun Sistem yang Tangguh
Ke depan, akuntabilitas harus diposisikan jauh di atas besaran anggaran. Pembangunan Jawa Barat tidak boleh lagi hanya mengejar “papan skor” infrastruktur, melainkan harus fokus pada penguatan daya tahan sistemik dalam menghadapi berbagai dinamika ancaman.
“Pembangunan daerah bukan hanya soal membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun sebuah sistem yang tangguh untuk mencegah hambatan dan mendeteksi gangguan.”
Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita berperan sebagai detektor yang tajam di lingkungan kita sendiri, atau kita masih memilih diam sembari menunggu api membesar untuk memanggil pemadam kebakaran?
Judul: Catatan Kritis Drs. Rully H. Alfiady Ketua PP AMS dalam Upaya Deteksi Dini ATGH Pembangunan Daerah, disampaikan pada Forum Diskusi Sinergi FKDM Jawa Barat
Rangkuman: Asep Zaenal Mustofa
Editor: Parkah












