Romantika Mahasiswa

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Minggu (13/09/2026) – Artikel berjudul “Romantika Mahasiswa” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Masa kuliah kami dimulai dengan dompet lebih tipis dari buku pedoman akademik, tetapi kepala lebih berisik daripada pengeras suara rektorat.

Uang makan dihitung seperti anggaran negara. Telur menjadi ukuran kesejahteraan. Mi instan menjadi agama bersama: satu bungkus untuk lima orang adalah latihan demokrasi.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Tengah malam kami merebusnya di tempat kos atau markas kampus sambil membicarakan filsafat, cinta, revolusi, dan masa depan bangsa meski rekening sendiri belum jelas masa depannya.

Kami miskin uang, tetapi kaya teman dan gagasan. Kalau konsumsi tersedia, acara besar; kalau tidak, gerakan intelektual. Kalau honor tulisan cair: kutraktir makan bersama, bak memenangkan tender kehidupan.

Dari keterbatasan tumbuh kreativitas dan kecurigaan: kepada aturan kampus yang meminta mahasiswa kritis tetapi menyediakan formulir kritik; kepada mimbar akademik yang dibatasi “ketertiban”; kepada negara yang bicara tentang generasi muda tetapi lupa bahwa mereka juga perlu makan.

Maka kami membuat forum tanpa jadwal, membaca buku tanpa rekomendasi, dan bertanya agar otak tidak disubsidi kurikulum.

Kami menertawakan negara. Kekuasaan terlalu besar untuk dibiarkan tanpa humor; tawa setidaknya bisa membuat ketakutan kehilangan wibawa.

Seorang kawan mentraktir dengan uang terakhirnya. “Ini bukan traktir,” katanya, “investasi sosial.” Kami tertawa, berbagi kudapan sederhana, dan malam itu tak seorang pun merasa miskin.

Kami pernah membicarakan keadilan sambil menghitung helai mi di mangkuk. Itulah ironi masa muda: ingin menyelamatkan dunia ketika uang makan sendiri harus diselamatkan.

Lepas kuliah, teman-teman pergi: bekerja di kantor yang dulu kami kritik, mengenal target, cicilan, dan “sesuai kebijakan perusahaan”. Kami berubah, tetapi kebiasaan bertanya sebelum percaya tetap tinggal.

Kami pernah miskin, tetapi tidak pernah merasa kekurangan dunia. Teman menjadi perpustakaan, diskusi menjadi sekolah, dan kebersamaan menjadi kemewahan.

Barangkali itulah kekayaan pertama kami: hidup tak harus menunggu mapan untuk berarti. Revolusi kecil cukup dimulai dengan lima mahasiswa, sachet kopi, kepala gaduh, dan keberanian untuk tidak ikut diam.

***

Judul: Romantika Mahasiswa
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *