MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (12/09/2026) – Memahami Spektrum Hubungan Manusia dengan Artificial Intelligence
Kehadiran Artificial Intelligence atau AI sedang mengubah cara manusia bekerja, belajar, mencipta, mengambil keputusan, bahkan mendefinisikan kembali makna kompetensi.
Namun, ketika AI semakin kuat, persoalan yang muncul ternyata bukan hanya persoalan teknologi.
Persoalan yang lebih mendasar adalah: bagaimana manusia memosisikan dirinya terhadap AI?
Ada manusia yang segera memanfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan dan meningkatkan kualitas. Ada yang merasa AI adalah ancaman dan saingan. Ada pula yang belum menguasai AI, tetapi justru merendahkan orang yang menggunakannya.
Dari sinilah muncul sebuah fenomena yang menarik untuk disebut:
AI SHAMING
AI Shaming adalah kecenderungan untuk merendahkan, menyalahkan, atau mempermalukan penggunaan AI—sering kali bukan karena benar-benar memahami AI, tetapi karena adanya ketidaktahuan, ketakutan, rasa terancam, atau kebutuhan untuk mempertahankan identitas dan harga diri.
Misalnya:
“Kalau pakai AI berarti tidak pintar.”
“Itu bukan karya manusia.”
“AI hanya membuat orang malas berpikir.”
Pernyataan tersebut tentu tidak selalu salah. AI memang dapat disalahgunakan dan dapat membuat manusia menjadi terlalu bergantung.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika penolakan terhadap AI muncul bukan dari pemahaman, melainkan dari ketakutan dan ketidakmampuan.
MANUSIA TIDAK HANYA TERBAGI MENJADI “BISA” ATAU “TIDAK BISA” AI
Pada awalnya, kita mungkin melihat hanya tiga kelompok.
Pertama, manusia yang menguasai AI sehingga pekerjaannya menjadi lebih cepat, lebih produktif, dan berkualitas.
Kedua, manusia yang tidak menguasai AI sehingga melihat AI sebagai saingan.
Ketiga, manusia yang tidak menguasai AI lalu melakukan AI Shaming.
Tetapi jika kita melihatnya lebih dalam, pembagian tersebut masih terlalu sederhana.
Sebab, ada orang yang belum menguasai AI tetapi sangat terbuka untuk belajar.
Ada pula orang yang sangat menguasai AI tetapi justru menjadi terlalu bergantung kepadanya.
Karena itu, hubungan manusia dengan AI lebih tepat dipahami melalui dua dimensi:
AI COMPETENCE — seberapa mampu manusia memahami dan menggunakan AI.
dan
AI ATTITUDE — bagaimana sikap manusia terhadap AI.
Dari kedua dimensi tersebut, lahirlah sebuah Human–AI Relationship Matrix.
HUMAN–AI RELATIONSHIP MATRIX
Pada kompetensi AI yang rendah dan sikap yang resistif, lahirlah:
AI SHAMING
Tidak mahir, tetapi menolak.
Manusia belum memahami AI, tetapi sudah memberikan penilaian negatif terhadap AI maupun penggunanya.
Di sini persoalannya bukan semata-mata teknologi.
Ada kemungkinan terdapat:
- fear of obsolescence — takut menjadi tidak relevan,
- competence threat — merasa kemampuan dirinya terancam,
- identity protection — mempertahankan identitas sebagai orang yang kompeten,
atau bahkan moral superiority — merasa cara lama lebih “murni” atau lebih bermartabat.
Pada kompetensi rendah tetapi sikap positif, muncul:
AI CURIOUS
Belum mahir, tetapi terbuka.
Ini justru merupakan kelompok yang sangat potensial.
Mereka mungkin berkata:
“Saya belum bisa, tetapi saya ingin belajar.”
Mereka bertanya.
Mereka mencoba.
Mereka bereksperimen.
Mereka tidak malu mengatakan belum tahu.
AI Curious adalah titik awal menuju transformasi.
Karena dalam era AI, ketidaktahuan bukan masalah terbesar. Yang berbahaya adalah ketidaktahuan yang disertai penolakan untuk belajar.
Pada kompetensi tinggi tetapi sikap masih defensif, muncul:
AI CONTROLLING
Mahir, tetapi masih melihat AI sebagai ancaman atau rival.
Kelompok ini menarik.
Mereka sebenarnya mampu menggunakan AI. Namun, AI belum dipandang sebagai partner.
Mindset-nya masih:
“AI harus tetap berada di bawah kendali saya.”
Tentu manusia memang harus tetap memegang kendali, terutama dalam hal nilai, etika, tanggung jawab, dan keputusan.
Namun, masalah muncul ketika “kendali” berubah menjadi ketakutan terhadap AI sehingga potensi AI tidak pernah benar-benar dimanfaatkan.
Dan pada kompetensi tinggi serta sikap kolaboratif, kita menemukan:
AI AUGMENTED
Manusia yang menggunakan AI untuk memperbesar kapasitas dirinya.
AI bukan pengganti manusia.
AI bukan pula sekadar alat.
AI menjadi mitra berpikir dan bekerja.
Manusia menggunakan AI untuk:
Think → Create → Analyze → Decide → Execute → Learn
Tetapi manusia tetap memegang:
Purpose → Values → Judgment → Responsibility
Inilah hubungan yang lebih sehat.
Bukan:
“Human versus AI”
melainkan:
“Human + AI”
TETAPI ADA SATU RISIKO DI SISI LAIN
Jika AI Shaming merupakan kondisi ketika manusia menolak AI karena tidak mampu, ada kondisi sebaliknya yang tidak kalah berbahaya:
AI DEPENDENCY
Manusia sangat mahir menggunakan AI, tetapi kehilangan kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara mandiri.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi:
“Apakah kamu bisa menggunakan AI?”
melainkan:
“Apakah kamu masih mampu berpikir ketika AI tidak tersedia?”
Karena itu, manusia ideal di era AI bukan manusia yang paling bergantung pada AI.
Bukan pula manusia yang paling keras menolak AI.
Tetapi manusia yang mampu mengatakan:
“Dengan AI saya menjadi lebih mampu, tetapi tanpa AI saya tetap mampu.”
MENGAPA AI SHAMING TERJADI?
AI Shaming dapat muncul dari beberapa lapisan persoalan.
Pertama: Fear.
Takut pekerjaan hilang.
Takut kompetensi menjadi tidak relevan.
Takut tertinggal.
Kedua: Insecurity.
AI tiba-tiba mampu melakukan sesuatu yang selama ini menjadi sumber kebanggaan seseorang.
Ketiga: Lack of Literacy.
Belum memahami bagaimana AI bekerja, tetapi sudah mengambil kesimpulan tentang AI.
Keempat: Identity Threat.
Jika seseorang selama ini membangun identitas:
“Saya ahli karena saya bisa melakukan X.”
lalu AI dapat melakukan X dengan cepat, maka yang terasa terancam bukan hanya pekerjaannya.
Identitas dirinya ikut terguncang.
Kelima: Bad Experience.
Pernah mendapatkan jawaban AI yang salah atau buruk, kemudian menyimpulkan bahwa seluruh AI tidak berguna.
Keenam: Resistance to Change.
Manusia secara alami cenderung nyaman dengan sesuatu yang sudah dikenalnya.
MAKA AI SHAMING SEBENARNYA HANYA GEJALA
AI Shaming bukanlah “penyakit”-nya.
Ia adalah symptom.
Di baliknya bisa terdapat rangkaian:
Fear → Threat → Insecurity → Resistance → Shaming
Karena itu, melawan AI Shaming dengan mengatakan:
“Kamu harus belajar AI!”
belum tentu efektif.
Yang diperlukan adalah perjalanan perubahan:
AWARENESS
Menyadari perubahan.
↓
ACCEPTANCE
Menerima bahwa AI merupakan bagian dari realitas baru.
↓
AI APPRENTICESHIP
Belajar dan bereksperimen.
↓
APPLICATION
Menggunakan AI dalam pekerjaan nyata.
↓
AUGMENTATION
Menggunakan AI untuk memperbesar kemampuan manusia.
↓
COLLABORATION
Manusia dan AI bekerja bersama dengan pembagian peran yang sehat.
DARI AI SHAMING MENUJU AI AUGMENTATION
Dengan demikian, tujuan pendidikan AI sebenarnya tidak cukup hanya:
“Membuat manusia bisa menggunakan AI.”
Tujuannya harus lebih tinggi:
“Membangun manusia yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemanusiaannya.”
Karena AI dapat memberikan kecepatan.
AI dapat memberikan kapasitas.
AI dapat memberikan akses pengetahuan.
AI dapat memperbesar produktivitas.
Tetapi manusia tetap harus memberikan:
makna, nilai, empati, kebijaksanaan, keberanian, tanggung jawab, dan tujuan.
Maka masa depan bukan milik manusia yang menolak AI.
Bukan pula milik manusia yang menyerahkan semuanya kepada AI.
Masa depan adalah milik manusia yang mampu berkolaborasi secara cerdas dengan AI.
THE CORE MESSAGE
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting di era AI bukan:
“Apakah AI akan menggantikan manusia?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Manusia seperti apa yang akan lahir setelah AI hadir?”
Apakah manusia menjadi AI Shamer yang takut dan menolak?
Menjadi AI Resistant yang bertahan dengan cara lama?
Menjadi AI Curious yang mau belajar?
Menjadi AI Assisted yang mulai memanfaatkan?
Menjadi AI Augmented yang kapasitasnya diperbesar?
Atau mencapai AI Collaborative, ketika manusia dan AI bekerja bersama secara produktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab?
Dan satu peringatan harus selalu dijaga:
“Jangan sampai kita begitu takut terhadap AI sehingga menolak kemajuan.
Tetapi jangan pula begitu kagum kepada AI sehingga menyerahkan kemampuan berpikir kita kepadanya.”
TEKNOLOGI HARUS MEMBESARKAN MANUSIA, BUKAN MENGECILKAN MANUSIA.
Human + AI = A Brighter Tomorrow.
Ingin lebih memastikan posisi Anda ada di mana? Hubungi 081280931023.

Judul: Dari AI Shaming Menuju Human–AI Collaboration
Penulis: Asep Chaeruloh
Editor: Parkah












