Melalui Lirik Lagu Ritual Padi, Tim PKM-RSH UPI Ungkap Rahasia Ketahanan Pangan Kasepuhan Gelar Alam

Sumber: Dokumentasi pribadi (Prosesi Tradisi Ngunjal Kasepuhan Gelar Alam)

MajmusSunda News, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (11/09/2026) – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan riset lapangan di Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada 16–18 Juli 2026.

Riset bertajuk “Menjaga Bumi Lewat Seni: Peran Lagu Ritual Padi Kasepuhan Gelar Alam dalam Menjaga Ekologi dan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal” ini bertujuan mengungkap bagaimana seni ritual mampu menjaga kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Melalui penelitian tersebut, tim UPI menemukan kebaruan berupa kedudukan kawih (lagu) ritual padi yang berakar pada tiga pilar utama: performansi budaya aktif, indeksikalitas, dan partisipasi. Tokoh adat setempat, Ki Koyod, menegaskan bahwa kesenian yang ditampilkan merupakan kesenian Kahuripan, meliputi lisung, dogdog lojor, bende, jipeng, topeng, hingga angklung.

Ditinjau dari perspektif ekosofi dan kerangka ekolinguistik Stibbe (2015), riset ini mengidentifikasi lima pola eko-metafora yang mempersonifikasikan padi layaknya daur hidup manusia, yaitu:

    1. Padi sebagai bayi: diwakili oleh kawih Ayun Ambing.
    2. Padi sebagai pasangan: diwakili oleh Randa Ngendong
    3. Padi sebagai pengantin: diwakili oleh Hujan Palis
    4. Padi sebagai tamu agung: diwakili oleh Kembang Kelor
    5. Padi sebagai titipan Ilahi: diwakili oleh kidung jalan sorompodan

Seluruh dinamika ritual tersebut bermuara pada falsafah “mupusti pare, lain migusti”—sebuah poros ekosofi yang memandu masyarakat untuk memuliakan padi tanpa menuhankannya. Temuan ini membuktikan bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam di Kasepuhan Gelar Alam tidak dibangun melalui instruksi teknis yang kaku, melainkan lewat pembentukan moral kolektif yang ditanamkan secara turun-temurun melalui kesenian.

Riset tim PKM-RSH UPI di Kasepuhan Gelar Alam membuktikan bahwa kawih ritual padi bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sistem ekologi hidup yang menjaga hubungan manusia dengan alam. Temuan ini menegaskan bahwa solusi krisis lingkungan tidak selalu datang dari pendekatan teknis modern, tetapi juga dari warisan budaya yang telah teruji ratusan tahun.

Sumber: Dokumentassi pribadi

Bersama dengan penelitian ini, Tim Peneliti meyakini bisa memberikan kebaharuan yang berdampak untuk jangka panjang bagi masyarakat dan harapannya penelitian ini bisa menghantarkan menuju PIMNAS 2026.

 

Penulis: Dika FiharaEditor: Chye Retty Isnendes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *