What Is Love

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kamis (10/09/2026) – Tulisan ini terinspirasi dari sebuah film tentang kehidupan keluarga mafia Sisilia yang keras, brutal, dan hidup dalam dunia kekuasaan yang tidak mengenal belas kasihan. Saya tidak bermaksud mengulas film itu. Ia hanya menjadi pintu kecil menuju sebuah pertanyaan yang jauh melampaui sebuah film, bahkan melampaui segala kisah tentang lelaki dan perempuan, yaitu sebuah pertanyaan ; what is love.

Dalam cerita itu, seorang pewaris keluarga mafia diminta ayahnya mendapatkan keturunan dari seorang perempuan yang cerdas. Ia kemudian bertemu dengan seorang dokter muda, perempuan ber-IQ tinggi, berpendirian kuat, dan memiliki dunia kehidupan yang hampir sepenuhnya berseberangan dengan dirinya. Ia memandang mafia sebagai kejahatan yang tidak dapat dibenarkan. Namun kisah itu membawa keduanya pada sebuah perjalanan yang tidak sederhana.

Pada awal perjumpaan, sang dokter tidak melihat seorang lelaki yang sedang mencintainya. Ia melihat seorang mafia. Ia melihat nama keluarga, kekuasaan, kekerasan, dan dunia yang secara moral ingin ia jauhi. Penilaiannya bukan tanpa alasan. Ada prinsip yang membuatnya berdiri pada jarak yang tegas. Tetapi manusia tidak selalu selesai hanya dengan apa yang tampak dari luar. Perlahan ia melihat sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh sebuah nama. Ia melihat lelaki yang memperhatikannya, yang berusaha mendekatinya, yang memperlakukannya dengan cara yang membuat jarak perlahan menyempit. Ia mulai melihat manusia di balik identitas yang selama ini membuatnya menolak.

Di situlah cinta memperlihatkan sisi yang sangat halus. Cinta tidak serta-merta menghapus perbedaan, apalagi membenarkan segala sesuatu yang dilakukan seseorang. Ia membuat pandangan menjadi lebih utuh. Sang dokter tetap dapat menolak dunia mafia, tetapi ia tidak lagi mampu menyamakan seluruh diri lelaki itu dengan dunia yang melahirkannya. Ada seorang manusia di sana, dengan sisi yang tidak tertangkap oleh penilaian pertama. Ketika seseorang mulai dilihat sebagai manusia, bukan sekadar sebagai label, sesuatu yang semula tertutup perlahan terbuka. Pernikahan mereka kemudian bukan sekadar hasil dari sebuah rencana keluarga. Di dalam perjalanan itu, cinta tumbuh dengan caranya sendiri, perlahan, hampir tanpa suara.

Cinta juga tidak selalu datang dalam bentuk perasaan yang besar. Ia dapat tumbuh dari perhatian yang berulang, percakapan yang semakin terbuka, dari kebiasaan saling menunggu, dari rasa nyaman yang mula-mula tidak direncanakan. Seseorang yang semula hanya hadir sebagai orang lain perlahan memperoleh tempat dalam ruang batin. Tidak ada satu tanggal yang dapat ditetapkan sebagai hari ketika cinta mulai tumbuh. Ia hadir melalui banyak hal kecil yang baru terasa maknanya ketika seseorang mulai sulit membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran orang tersebut. Dari pengalaman sederhana tentang dua manusia inilah pertanyaan itu kemudian bergerak lebih jauh. Jika cinta dapat membuat manusia melihat seseorang melampaui nama, masa lalu, dan segala sesuatu yang melekat padanya, bagaimana manusia melihat cinta Tuhan yang tidak hadir melalui wajah dan tubuh seorang manusia?
___
Pertanyaan itu membawa kita ke wilayah yang lebih sunyi. Kita dapat merasakan cinta seseorang melalui perhatian, kelembutan, kesetiaan, atau sekadar kehadiran yang membuat hati tenang. Cinta sendiri tidak terlihat. Yang tampak adalah jejaknya dalam cara seseorang memperlakukan orang yang dicintainya. Lalu bagaimana dengan cinta Tuhan kepada manusia? Ia tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Ada pertemuan yang mengubah arah hidup, ada perpisahan yang membuat pandangan menjadi lebih jernih, ada kegagalan yang membawa seseorang melihat dirinya sendiri, dan ada keberhasilan yang justru menguji cara seseorang memandang dunia. Tidak seluruhnya mudah dibaca ketika sedang dijalani.

Seorang dokter dalam kisah itu membutuhkan perjalanan untuk melihat bahwa lelaki yang berada di hadapannya tidak berhenti pada identitas yang ia bawa. Ia melihat lebih dalam, lalu menemukan manusia. Dalam kehidupan ruhani, pengalaman manusia pun memiliki ruang yang serupa. Kita sering memandang diri melalui dosa, kesalahan, kekurangan, masa lalu, dan penilaian orang lain. Semua itu terasa begitu dekat, seolah menjadi keseluruhan diri. Padahal manusia selalu lebih luas daripada satu bagian dari perjalanan hidupnya. Ada seluruh perjalanan yang diketahui Tuhan, termasuk langkah-langkah kecil yang tidak pernah diketahui siapa pun, saat seseorang diam-diam berusaha kembali. Bisa jadi yang perlu berubah bukan cara Tuhan memandang manusia, melainkan kemampuan manusia membaca cara Tuhan memandang dirinya.

Maka what is love tidak perlu dipaksa menemukan sebuah jawaban. Dalam cinta manusia, kita mengenal seseorang sedikit demi sedikit sampai sesuatu yang dahulu tertutup menjadi terlihat. Dalam perjalanan kepada Tuhan, ada pula saat ketika manusia menoleh kepada hidupnya sendiri dan mulai melihat jejak-jejak yang dahulu luput dari perhatian. Ada pertemuan, perpisahan, kesempatan, kehilangan, keberhasilan, dan jalan yang pernah terbuka maupun tertutup. Semuanya meninggalkan sesuatu dalam diri. Cinta Tuhan tidak selalu hadir untuk membuat hidup sebagaimana yang kita inginkan. Ia dapat hadir sebagai sesuatu yang membuat kita perlahan melihat hidup dengan pandangan yang berbeda. Dan di suatu ruang yang sangat sunyi, pertanyaan what is love tidak lagi sekadar terdengar sebagai pertanyaan tentang siapa yang kita cintai, tetapi tentang bagaimana kita mengenali bahwa diri kita pun sedang berada di dalam cinta yang jauh lebih luas daripada kemampuan kita untuk memahaminya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: What Is Love
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *