MajmusSunda News, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026) -Kampung Pojok Desa Cintabodas (dulu Desa Bongas), Kecamatan Culamega (dulu Kecamatan Bantarkalong), Kabupaten Tasikmalaya, (Tasikmalaya selatan/Tasela) sempat menorehkan tapak lacak atau jejak perjuangan dan perjalanan Gubernur Sewaka saat mengendalikan Pemerintahan Darurat Jawa Barat di pengungsian (1947).
Kampung Pojok lokasinya bisa dikatakan sangat tersembunyi dan dimungkinkan aman Sewaka menggelar pertemuan rahasia menggelar rapat dengan beberapa perangkat pegawai sipil Jawa Barat, TNI dan unsur perjuangan penting lainnya. karena saat itu Pemerintahan Darurat Jawa Barat di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, masih Kecamatan Culamega, kondisinya sudah sangat genting tercium oleh mata-mata Belanda yang sudah menguasai Jawa Barat.
Gubernur Sewaka mencari tempat yang aman selain Lebaksiuh, dan memastikan Kampung Pojok menjadi tempat rapat akbar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Pertemuan Rahasia Gubernur selama di Kampung Pojok menjadi ingatan kolektif yang tidak terputus dari lintas generasi sejak Gubernur Sewaka menginjakkan kakinya di Kampung Pojok. Hingga sekarang warga Kampung Pojok masih mengingat dan terus menjadi cerita yang tidak pernah putus.
Hj Darmi usianya kini sekitar 80 tahun masih jumeneng menuturkan dari Ibunya Sapsah saat Gubernur Sewaka bersama rombongannya datang pertama di Kampung Pojok menggelar rapat di rumah ibunya dijadikan bale pertemuan rahasia.
Darmi mengatakan kendati saat itu usianya baru 4 tahun, namun ia masih mengingat dan mendengarkan cerita Gubernur Sewaka dari ibunya, bahwa rumahnya dijadikan tempat rapat oleh Gubernur Sewaka dan para pejuang.

Dikutip dari buku Bergerilya Bersama Sewaka: Mengenang Jejak Sang Penyelamat Jawa Barat ditulis Agung Ilham Setiadi, Darmi menceritakan saat Gubernur Sewaka bersama rombongan datang menempati rumah ibunya.
Saat itu imbuh Darmi, ada tiga rumah yang ditempati rombongan Gubernur Sewaka yaitu rumah milik Sudinta, Sarnawi dan Sapsah. Ketiga rumah tersebut ditutup lampit (kere/anyaman bambu) agar kedap suara.
Demi keamanan Letkol Sutoko memerintahkan kepada Kopral Udis untuk merobohkan Jembatan Cijalu yang merupakan akses menuju Lebaksiuh
“Saat itu ibu saya untuk sementara pindah ke dekat sawah sebelah Barat. Rumah ibu saat itu dilapisi lampit agar kedap suara dibuat dari bahan bambu,” tutur Darmi saat ditemui di rumahnya di Kampung Pojok, Selasa, (8/9/2026).
Tidak hanya Ibu Sapsah yang mengetahui kedatangan Gubernur Sewaka tutur Darmi, seperti Ma Ocih dan Aki Jeje juga yang lainnya kerap menceritakan kedatangan Gubernur Sewaka dan rombongan ke Kampung Pojok.
“Saat itu Gubernur Sewaka datang dengan ditandu, digotong menggunakan bambu dari Curugtelu berarak-arakan sambil membawa perabotan seperti piring dan yang lainnya,” kata Ocih seperti yang ditulis dalam laman buku Bergerilya Bersama Sewaka.

Ocih menambahkan saat Gubernur Sewaka datang ke Kampung Pojok usianya sekitar 15 tahun. Ia mengatakan rapat tersebut digelar selama tiga hari. Namun Gubernur Sewaka menginap di tempat itu selama seminggu lamanya.
Saksi lainnya Jeje menambahkan,rapat yang digelar di rumah Sapsah betul-bentul sangat rahasia. Warga setempat tidak banyak yang tahu tentang kegiatan tersebut
Bahkan kata Jeje lagi, setingkat Kepala Dusun yang Habal saat itu ditugaskan menjaga Kampung Pojok bersama warganya seperti Sudinta, Sukarta, Mahrodi, Inding dan yang lainnya tidak mengetahui ada Gubernur Sewaka di rumah Sapsah.
“Mereka berpratoli sambil belajar baris berbaris ala Nipon, sambil menyanyikan lagu Nipon,” kenang Jeje
Ia mengaku sempat menuliskan kisah Gubernur Sewaka dan Letkol Sutoko saat berada di Kampung Pojok. Namun sayang tutur Jeje, naskah bersama rumahnya terbakar saat Kampung Pojok mengalami kebakaran.
Hj Darmi saat ngobrol di rumah yang dulu ditinggal Sapsah dan dijadikan tempat pertemuan rahasia oleh Gubernur Sewaka. Kini rumah Sapsah ditempati cucunya Rini anaknya Darmi yang bungsu. Sedangkan Darmi tinggal sendiri di belakan rumah Rini.
“Rumah yang ditempati sekarang dibangun berkat bantuan dari Kodim Tasikmalaya melalui Koramil Kecamatan Bantarkalong,” kata Darmi diamini oleh anak-anaknya.

Upun Sarpuloh membenarkan cerita Gubernur Sewaka sempat tinggal di Kampung Pojok memang sudah menjadi cerita yang sangat melekat di kalangan warga Kampung Pojok terutama dikalangan keluaranya sendiri (Sapsah)
“Ibu Darmi kerap menceritakan hari-hari saat Gubernur Sewaka bersama rombongan datang ke Kampung Pojok dari nenek saya sendiri Sapsah dan rumah nenek yang dulu dijadikan tempat pertemuan rahasia, kini sudah berubah ditempat oleh adik saya yang bungsu,” kata Upun.
Hal yang sama dituturkan Ela Hayati, anak Darmi yang ke 3, Ia menuturkan Ibunya Darmi kerap menceritakan perjalanan Gubernur Sewa dan rombong sempat tinggal di rumah ibunya.
“Ibu Darmi kerap menceritakan saat hari-hari Gubernur Sewaka datang ke Kampung Pojok dan menempati rumah nenek Sapsah. Bahkan Ibu Darmi sangat hapal sekali ceritanya dari ibunya,” kata Ela.
Sedangkan Rini anak bungsu Darmi menuturkan Ibunya paling sering menceritakan datangnya Gubernur Sewaka datang ke Kampung Pojok dan menempati rumah ibunya.
“Sering sekali menceritakan Gubernur Sewaka sempat tinggal di rumah ibunya,” kata Rini singkat
Kepala Desa Cintabodas Cecep Gunawan membenarkan Kampung Pojok salah satu kampung yang sempat menorehkan sejarah karena tahun 1947 Gubernur Sewaka sempat menginjakkan kaki di Kampung Pojok saat mengungsi dan mendirikan Pemeritahan Darurat di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, bertetangga dengan Desa Cintabodas.
“Kampung Pojok dikalangan warga memang sudah sangat melegenda yang berkaitan dengan Gubenrbur Sewaka, dan hingga kini cerita turun temurun lewat keluarga Hj Darmi dari Ibunya Sapsah hingga ke anak cucunya. Tak heran jika warga Kampung Pojok sangat mengetahui sejarah Sewaka,” kata Cecep.
Ditempat berbeda Camat Culamega H Uu Saepul Uyun S.Sos menjelaskan Gubernur Sewaka sempat singgah di
secara detail dan konprehensif harus tersampaikan dan catatannya sejarah itu tidak boleh hilang dan harus tersampaikan kepada masyarakat.

“Jika saja Kampung Pojok sempat menjadi perjalanan sejarah Gubernur Sewaka saat mengungsi dan mengendalikan Pemerintahan Jawa Barat dari Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung dan sempat singgah di Kampung Pojok Desa Cintabodas, tentu saja ini harus tersampaikan kepada masyarakat,” kata Uu.
Sejatinya saat itu Gubernur Sewaka harus mengikuti Presiden Sukarno ke Yogyakarta. Namun Gubernur Sewaka lebih memilih berjuang dengan warga Jawa Barat dan mengungsi di sebuah kampung nu jauh di sana Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung masih di Kecamatan Culamega (dulu Kecamatan Bantarkalong).
Di Kampung Lebaksiuh Gubernur Sewaka dengan membawa keluarga dan perangkat Pemerintahan Jawa Barat mengendalikan Pemerintahan Darurat. Dari Lebaksiuh menuju Kampung Pojok berjarak sekitar 2 KM lebih.
Baru merdeka duta tahun (1947) Gubernur Sewaka harus mengungsi mengendalikan Pemerintahan Darurat di pengungsian Kampung Lebaksiuh, Desa Cipicung, Kecamatan Culamega. Padahal oleh Presiden Sukarano Sewaka sudah disiapkan kereta istimewa untuk bergabung di Yogyakarta karena Jawa Barat sudah dikuasai Belanda dan Ibukota Pemerintah RI harus pindah ke Yogyakarta.
Namun Sewaka menolak dengan tegas lebih memilih berjuang dengan warga Tasikmalaya di wilayah selatan (Tasikmalaya selatan) dengan membawa keluarga dan rombongan dari pegawai sipil, TNI ada juga dari Kantor Berita Antara.
“Saya tidak mungkin meninggalkan rakyat Jawa Barat pada saat keadaan sesulit ini, ” ucap Sewaka seperti tertulis dalam memoarnya Tjurat Tjaret Sewaka dari Jaman ke Jaman












