Doa Peluh

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Minggu (06/09/2026)  Artikel berjudul “Doa Peluh” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Setiap keringat adalah
sejenis doa yang jatuh dari tubuh
diam, asin,
namun jujur.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Ia tidak meminta apa-apa
selain ruang
untuk melepaskan
yang terlalu lama kita pendam.

Maka berlarilah.

Biarkan kaki mengusir
gelisah dari dada.
Biarkan napas memecah
sunyi yang berdesakan di kepala.
Biarkan peluh melepas
beban yang tak sanggup dijelaskan kata-kata.

Sebab tubuh kadang tahu
apa yang tak mampu diucapkan jiwa.

Ia tahu kapan kita lelah
berpura-pura kuat,
kapan hati terlalu penuh.

Maka ia mengajak kita bergerak.

Satu langkah.
Satu napas.
Satu detak.

Dan tiba-tiba,
hidup terasa mungkin lagi.

Bukan karena masalah selesai,
melainkan karena sesaat
kita berhenti memandang hidup
sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Kita hanya menjalaninya.

Di lintasan,
tak ada masa lalu yang dikejar,
tak ada masa depan yang dipaksa datang.

Hanya tubuh
dan detik yang berlangsung.

Mungkin itulah sebabnya
olahraga menjadi penghiburan:
ia mengembalikan kita
kepada tempat
di mana hidup sungguh terjadi
saat ini.

Kita tidak selalu bergerak
untuk menjadi lebih kuat.

Kadang agar kesedihan
punya jalan keluar.

Kadang kita berlari
bukan menuju garis akhir,
tetapi menjauh sebentar
dari diri yang terlalu lama
kita bebani.

Dan ketika akhirnya berhenti,
dada masih naik turun,
peluh membasahi wajah,

kita menemukan
sesuatu yang sederhana:
kita masih ada.

Masih bernapas.
Masih berdetak.
Masih sanggup mengambil
satu langkah lagi.

Barangkali itu cukup
untuk hari ini.

Sebab kesehatan
bukan hanya tubuh yang kuat.

Kesehatan adalah
ketika tubuh dan jiwa
berhenti saling memusuhi.

Ketika kita tak lagi
memaksa tubuh sempurna,
melainkan berterima kasih
karena ia setia membawa kita
melewati hari-hari berat.

Jadi, bergeraklah.

Tidak untuk mengalahkan usia.
Tidak untuk menaklukkan tubuh.
Tidak untuk membuktikan apa-apa
kepada dunia.

Bergeraklah
sebagai sebuah pengakuan:

bahwa hidup,
meski sering melukai,
masih pantas dijalani.

Dan mungkin,
di antara satu langkah
dan langkah berikutnya,

kita akan mengerti
yang sedang kita selamatkan
bukan hanya tubuh,
melainkan jiwa
yang diam-diam
meminta kita
untuk tetap hidup.

***

Judul: Doa Peluh
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *