MajmusSunda News, Jawa Barat, Sabtu (05/09/2026) – Setelah menelusuri jejak sejarah dari masa Kerajaan Sunda hingga Kerajaan Pajajaran, saatnya merangkai seluruh bukti menjadi satu benang merah yang koheren. Bagian penutup ini merangkum bagaimana sumber-sumber primer yang berbeda saling menguatkan satu sama lain.
Merangkai Lima Sumber Primer
- Situs Gunung Padang sebagai Cagar Budaya
Secara geografis, Kabupaten Cianjur berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor, pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Kedekatan wilayah ini membuka kemungkinan besar adanya keterkaitan historis antara Situs Gunung Padang dan Kerajaan Sunda-Pajajaran, mengikuti prinsip kesinambungan sejarah sejak fase awal pembentukan Kerajaan Sunda.

- Prasasti Kebantenan
Nama-nama tempat dan batas wilayah yang tercantum dalam prasasti ini memungkinkan disusunnya toponimi sederhana, yang selanjutnya bisa menjadi bahan kajian ilmiah lebih lanjut termasuk penelusuran lokasi Gunung Samaya yang diduga merujuk pada Gunung Padang.
- Prasasti Batu Tulis
Terdapat dugaan koherensi kuat antara Prasasti Kebantenan dan Prasasti Batu Tulis, khususnya pada penyebutan elemen gunungan, ngabalay, Sanghyang Telaga Rena, samida, dan Panca Pandawa. Kesamaan elemen ini mengindikasikan bahwa kedua prasasti merujuk pada wilayah yang sama dalam lingkup Kerajaan Pajajaran, memunculkan tafsir tentang “Janji Setia (Samaya) rakyat Sunda terhadap Tritangtu di Buana”.
- Fragmen Carita Parahyangan
Penyebutan Kadatuan dengan lima nama Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati menunjukkan lokasi pusat kerajaan. Nama-nama ini memiliki makna berbeda dari kisah Legenda Pandawa Lima yang umum dikenal, namun diduga memiliki koherensi dengan frasa “Panca Pandawa” yang juga muncul di Prasasti Batu Tulis.
- Naskah Bujangga Manik
Penyebutan “Gunung Ratu” dalam naskah ini memiliki relevansi dengan Pelabuhan Ratu. Dalam literasi sejarah, kata “Ratu” bermakna “Raja”. Gunung Ratu dan Pelabuhan Ratu berada dalam satu lingkup wilayah Sundasembawa sebagai kawasan penting kerajaan, yang dalam Prasasti Kebantenan disebut sebagai “Devasasana Sanggar Kami Ratu”.
Simbolisme yang Konsisten
Salah satu kekuatan kajian ini terletak pada konsistensi simbolisme yang muncul di berbagai sumber independen:
- Sosok Bima konsisten muncul sebagai simbol kekuatan dan pondasi, bukan sekadar tokoh pewayangan biasa.
- Lima Kadatuan (Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati) dimaknai sebagai simbol kedaulatan Kerajaan Sunda sebagai kerajaan agraris, dengan Bima sebagai simbol kekuatan/pondasi utama.
- Tritangtu di Buana, yang merujuk pada tatanan Prabu, Rama, Resi dalam struktur kepemimpinan Kerajaan Pajajaran, dimanifestasikan melalui keberadaan Gunung Samaya sebagai simbol janji setia rakyat Sunda.
Pertimbangan Geografis: Mengapa Sundasembawa, Bukan Bogor?
Ada satu pertanyaan lanjutan yang menarik untuk dijawab: mengapa Maharaja Tarusbawa memilih membangun kembali pusat pemerintahannya di wilayah Sundasembawa, dan bukan di wilayah yang kelak menjadi Bogor? Berikut kutipan langsung dari kajian Dendi Hadidi mengenai dugaan tersebut:
Dugaan mengapa Maharaja Tarusbawa memilih untuk membangun kembali pemerintahan di wilayah Sundasembawa yang sekarang Kabupaten Cianjur Selatan:
➢ Karena wilayah tersebut Bekas/Urut Kadatuan para leluhurnya sesuai kutipan pada Naskah Carita Parahyangan
➢ Gunung Gede-Pangrango berfungsi sebagai benteng alamiah, karena jika Kadatuan dibangun di kota Bogor akan sangat rentan terjadinya gesekan antar pasukan. Secara territory Bogor dan Sunda Kelapa juga Bekasi berbatasan langsung (Secara territorial terlalu terbuka). Dikhawatirkan terjadinya gesekan antara pasukan Sriwijaya dan Pasukan Kerajaan Sunda. Dapat kita simpulkan tidak mungkin Maharaja Tarusbawa mendirikan Kadatuan di Kota Bogor.

Kesimpulan Sementara
Berdasarkan seluruh rangkaian bukti di atas, kajian ini mengajukan sebuah alur historis sebagai berikut:
- Sundapura merupakan ibu kota awal Kerajaan Tarumanagara.
- Sundasembawa merupakan ibu kota Kerajaan Sunda (dengan toponimi Dayeuhan Sundasembawa) setelah Tarumanagara mendapat tekanan dari Sriwijaya.
- Kerajaan Sunda menjadikan situs ini sebagai Kadatuan, dengan lima Sri Kadatuan: Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati.
- Kerajaan Pajajaran, sebagai penerus penyatuan Sunda-Galuh, mengalihfungsikan Kadatuan tersebut menjadi Kabuyutan—dikenal juga sebagai Gunung Samaya, Bale Pamunjungan Kiara Hyang, atau Gunung Ratu.
Dengan demikian, hipotesis akhir kajian ini menyatakan bahwa Situs Gunung Padang di Cianjur merupakan peninggalan Kadatuan Kerajaan Sunda yang kemudian dialihfungsikan menjadi Kabuyutan pada saat Kerajaan Pajajaran berdiri.
Bukan Titik Akhir, Melainkan Titik Awal
Sekali lagi perlu ditegaskan, kajian ini tidak dimaksudkan untuk mendahului atau menetapkan kesimpulan final mengenai sejarah Situs Gunung Padang. Tulisan ini disusun sebagai bahan masukan dan kontribusi pemikiran bagi para peneliti, akademisi, arkeolog, sejarawan, dan pemangku kebijakan, agar proses penelitian dan pengkajian Situs Gunung Padang dapat terus berkembang berdasarkan bukti-bukti ilmiah di masa mendatang.
Karya ini didedikasikan bagi para leluhur Sunda, sebagai penghormatan atas perjuangan mereka menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kesundaan dari generasi ke generasi warisan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa.
Ditulis berdasarkan kajian mandiri “Gunung Padang: Kadatuan yang Menjadi Kabuyutan” oleh Dendi Hadidi.
***
Judul: Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan (Bagian 5: Analisis & Kesimpulan)
Penulis: Dendi Hadidi
Editor: Raka Alvaro Triputra












