MajmusSunda News, Sabtu (05/09/2026) – Artikel berjudul “Haluan Direktif” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Sungguh menyenangkan bisa berbagi pikiran cara membangun Indonesia dengan para bupati/walikota dalam program Lemhannas (04/09/26).
Kuingatkan bahwa sebuah bahtera negara takkan karam hanya karena kurang adidaya atau sumberdaya, melainkan karena terjerumus salah urus.

Salah satu sebab salah urus itu karena manusia mengabaikan hakikat kemanusiaannya. Bahwa di antara kelebihan manusia dari hewan adalah kemampuannya menjelajahi waktu (time travel): mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan.
Agar negara berjalan ke arah benar, kebijakan negara tak boleh terjebak dalam rutinitas jangka pendek. Penyelenggara dan warga negara harus mengingat pelajaran dari masa lalu dan merencanakan arah perjalanannya ke depan. Cara mudah membunuh suatu bangsa adalah dengan menghapus memori dan visi perjuangan bersamanya.
Di atas jalur sejarah bersama, arah negara dituntun oleh haluan berencana nan menyeluruh berlandaskan nilai dan aturan dasar negara.
Bila Pancasila berisi falsafah dasar, konstitusi mengandung aturan dasar, haluan negara memberi arahan dasar. Kaidah Pancasila dan konstitusi takkan bisa dijalankan secara benar tanpa prinsip-prinsip direktif yang tepat.
Di tingkat lokal, haluan direktif itu penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi daerah. Indonesia yang begitu luas dan kompleks tak mungkin menganut prinsip one size fits all untuk segala urusan.
Mengembaralah ke seluruh penjuru bumi. Perhatikan tanda-tanda kejatuhan kuasa di segala mancanegara. Kapal kekuasaan yang dikemudikan tanpa konsepsi dan direksi akan tersesat menuju lembah kebinasaan.
Dalam menyusun dan menjalankan haluan negara, anak-anak negeri harus menyalakan cinta negeri di hati. Mereka bukan cuma penduduk bak penghuni hotel yang menumpang tidur, tanpa merasa memiliki dan merawat. Mereka adalah warga negara peduli sebagai pandu pejuang keselamatan dan kemajuan negara.
Manakala saat ini terdapat tanda-tanda negara berjalan salah arah, pandu pejuang harus merasa terpanggil untuk mengembalikannya ke jalan yang benar dengan mamancangkan kembali marka-marka haluan negara.
***
Judul: Haluan Direktif
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












