MajmusSunda News, Rabu (02/09/2026) – Artikel berjudul “Berdamai dengan Sakit” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Hidup akan menjadi melelahkan jika setiap suapan harus diadili, setiap tegukan dihitung risikonya, dan setiap kenikmatan dicurigai dampaknya bagi tubuh.
Kita bisa begitu sibuk menjaga kesehatan hingga lupa bahwa hidup juga membutuhkan spontanitas: menikmati makanan dan minuman lezat tanpa dihantui kecemasan. Sebab manusia bukan hanya tubuh; ia juga ingin merasakan, mengenang, dan memberi arti.

Menjaga kesehatan adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan. Kita merawat tubuh karena ia adalah rumah tempat kesadaran kita berdiam untuk sementara.
Namun penyakit tetap dapat datang tanpa bertanya apakah pemilik rumah telah hidup dengan baik—karena genetik, lingkungan, atau sebab yang tak selalu dapat dijelaskan.
Di situlah kita berhadapan dengan batas pengetahuan. Kita hidup di antara ikhtiar dan misteri: melakukan yang terbaik, lalu menerima bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya milik kita.
Karena itu, jagalah kesehatan tanpa menjadi cemas, berhati-hatilah tanpa hidup dalam ketakutan, dan nikmatilah kehidupan tanpa menjadi ceroboh. Kehidupan bukanlah mesin sebab-akibat yang menjanjikan bahwa orang yang hidup baik akan terbebas dari penderitaan.
Ketika penyakit atau kejutan yang tak diharapkan datang, mungkin kita tak perlu selalu bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Barangkali lebih bermakna bertanya: “Apa yang masih dapat kulakukan dengan keadaan ini?”
Kita tak selalu dapat memilih apa yang terjadi, tetapi masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana menyikapinya. Tubuh bisa melemah, langkah melambat, dunia menyempit tetapi kasih sayang dapat menguat, kebijaksanaan bertambah, dan batin justru menjadi lebih luas.
Hidup terlalu berharga untuk hanya dijalani sebagai usaha menghindari kematian. Hidup adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya di antara kelahiran dan kematian, dengan segala ketidakpastian, kehilangan, keajaiban, penyakit, cinta, tawa, dan air mata yang menyertainya.
Maka berikhtiarlah dan berharaplah panjang umur, tetapi jangan menunda kebahagiaan. Menjadi bahagia bukan berarti senantiasa berhasil mengendalikan kehidupan, melainkan juga berdamai dengan ketidakpastian—lalu tetap memilih untuk mencintainya.
***
Judul: Berdamai dengan Sakit
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












