MajmusSunda News, Jum’at (28/08/2026) – Artikel berjudul “Jiwa Agama” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kemarin (27/08/26) saya mendapat kehormatan memberikan pembekalan kepada para mahasiswa baru UIN Syarif Hidayatullah. Perjumpaan itu seketika mengingatkan saya pada arti penting jiwa agama bagi pertumbuhan peradaban.

Wajah peradaban adalah cermin jiwa budaya yang menghidupinya. Dan dalam masyarakat religius, jiwa budaya tak pernah sepenuhnya terlepas dari jiwa agama—dari cara manusia memaknai Tuhan, menghayati iman, dan menghadirkan nilai-Nya dalam kehidupan.
Agama bukan sekadar jalan menuju langit. Ia juga tenaga yang membentuk bumi: menempa watak, menumbuhkan etos, membangun kepercayaan, dan memberi arah bagi perjalanan bangsa. Dari iman yang hidup, lahir kecintaan pada ilmu, kejujuran dalam bekerja, keberanian menegakkan keadilan, dan kesediaan mengabdi melampaui kepentingan diri.
Namun agama dapat kehilangan daya peradabannya ketika berhenti pada seremoni. Rumah ibadah kian megah, tetapi tradisi ilmu kian rapuh. Ayat kian fasih dilafalkan, tetapi etika publik kian gagap diwujudkan. Nama Tuhan kian sering disebut, tetapi amanah kian mudah dikhianati.
Jangan-jangan yang kian subur adalah simbol agama, sementara jiwa agama justru mengering.
Padahal iman yang hidup membuat tangan enggan mengambil yang bukan haknya, hati gelisah melihat ketidakadilan, dan akal tak henti mencari ilmu. Ia mengubah doa menjadi etos, kesalehan menjadi keadilan, dan kecintaan kepada Tuhan menjadi pengabdian kepada manusia.
Di situlah agama menjadi jiwa budaya: ketika ia tidak hanya memenuhi rumah ibadah, tetapi menerangi ruang kelas dengan ilmu, ruang kerja dengan amanah, pasar dengan kejujuran, dan kekuasaan dengan tanggung jawab.
Peradaban tidak lahir dari banyaknya seremoni, melainkan dari nilai yang menjelma menjadi watak. Sebuah bangsa boleh memiliki gedung tinggi, ekonomi besar, dan teknologi canggih; tetapi tanpa jiwa yang luhur, semuanya hanyalah tubuh tanpa ruh.
Pada akhirnya, ukuran religiusitas bukan seberapa sering nama Tuhan disebut, melainkan seberapa dalam nilai ketuhanan berdenyut dalam kehidupan.
Peradaban adalah tubuh; jiwa agama adalah ruh yang memberinya arah.
***
Judul: Jiwa Agama
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












