MajmusSunda News, Minggu (23/08/2026) – Artikel berjudul “Spiritualitas Karya” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Ada tangan yang bekerja,
namun sesungguhnya ada jiwa
yang sedang menyalakan seberkas cahaya
di ruang-ruang gelap yang tak bernama.

Kita mengira sedang menulis,
melukis, membangun, mencipta
padahal mungkin semesta
sedang menitipkan sebuah suara
melalui tubuh kita.
Maka biarlah karya
lahir bukan dari haus akan pujian,
melainkan dari sumur yang dalam,
tempat sunyi, doa, dan kerinduan
bertemu tanpa suara.
Sebab tak semua benih
ditakdirkan melihat musim panen.
Ada yang tumbuh menjadi teduh
bagi pejalan yang tak pernah kita kenal,
ada yang gugur di tanah
dan menjadi kesuburan bagi kehidupan lain.
Jangan takut bila namamu
tak tertulis di dinding zaman.
Bukankah angin tak pernah meminta
daun mengingat dari mana ia datang?
Kerjakan saja dengan seluruh cinta,
seperti sungai yang menyerahkan dirinya
kepada laut tanpa menagih nama.
Seperti matahari yang setiap pagi
membakar dirinya sendiri
agar dunia memiliki terang.
Sebab karya yang sejati
barangkali bukan yang paling tinggi menjulang,
melainkan yang paling dalam berakar
yang setelah selesai diciptakan
masih menyisakan cahaya
di dalam hati orang lain.
Dan bila suatu hari
tangan kita tak lagi sanggup mencipta,
semoga yang tertinggal bukan hanya karya,
melainkan jejak keheningan
yang pernah kita tanam:
bahwa kita pernah hadir,
pernah mencintai kehidupan,
dan melalui apa pun yang kita kerjakan,
pernah mencoba
mengembalikan sedikit cahaya
kepada dunia.
***
Judul: Spiritualitas Karya
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












