MajmusSunda News, Jum’at (21/08/2026) – Artikel berjudul “Mimbar dan Kehormatan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Di atas mimbar, kata-kata menemukan ruangnya,
didengar oleh banyak hati,
ditimbang oleh banyak pikiran.
Karena itu, setiap ucapan semestinya tahu
kapan harus tegas, kapan harus teduh,
dan kapan sebaiknya berhenti.

Ada kata yang singkat, namun tinggal di hati;
ada pula yang panjang berputar-putar,
hingga maksudnya sendiri perlahan kehilangan arah.
Sebab kata-kata bukan hanya untuk didengar,
melainkan juga untuk dipertanggungjawabkan.
Mimbar bukan sekadar tempat berbicara.
Di sanalah seseorang mempertaruhkan kehormatannya:
pada cara ia memilih kata,
menyikapi perbedaan,
menahan amarah,
dan menghormati mereka yang mendengar.
Kadang, semakin panjang sebuah nasihat,
semakin sulit membedakan
mana yang hendak menuntun,
dan mana yang sekadar ingin diluapkan.
Ketegasan yang kehilangan teduhnya
bisa terdengar seperti kemarahan;
pidato yang ingin menyentuh
justru dapat membuat orang merasa iba pada pembicara.
Barangkali publik tidak selalu membutuhkan
suara yang paling keras atau pidato terpanjang.
Mereka hanya ingin pulang membawa
sedikit kejernihan, sedikit keteduhan,
dan satu alasan untuk tetap percaya.
Sebab ketika mikrofon akhirnya diletakkan
dan tepuk tangan perlahan reda,
yang tersisa bukan panjangnya pidato,
melainkan apa yang tinggal dalam ingatan:
apakah hati mereka tersentuh,
pikiran mereka tercerahkan,
atau hanya tersisa rasa iba—
“Sayang sekali, begitu banyak kata yang terucap,
namun hanya sedikit yang membekas di hati.”
***
Judul: Mimbar dan Kehormatan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












