MajmusSunda News – Bandung, Senin (17/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-51 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Karst Citatah atau Karst Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat yang memadukan fondasi geologi, kekayaan geoarkeologi, nilai ekologis, serta potensi wisata dan pendidikan. Melalui perspektif geoliterasi, seri ini mengulas untaian bukit kapur penyusun Formasi Rajamandala, jalinan Sesar Cimandiri, hingga situs hunian prasejarah Gua Pawon yang bernilai sains tinggi di tengah ancaman kerusakan akibat industri ekstraktif pertambangan. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk membangun komitmen konservasi berbasis komunitas demi menyelamatkan warisan bumi dan kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
SINOPSIS: Esai ini membedah fondasi geologi, kekayaan geoarkeologi, dan nilai ekologis kawasan bentang alam Karst Citatah atau Karst Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat. Melalui kacamata geoliterasi, diuraikan untaian bukit kapur penyusun Formasi Rajamandala, jalinan Sesar Cimandiri, hingga situs hunian prasejarah Gua Pawon yang bernilai sains tinggi di tengah ancaman kerusakan industri ekstraktif pertambangan. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk membangun komitmen konservasi mutlak berbasis komunitas demi menyelamatkan warisan bumi dan kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Foto: Ocyid X/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
1. Penanda Sampai ke Bandung dari Barat, Terumbu, Bukit-bukit yang Tersisa, dan Lima Sanghyang
Evolusi bentang alam kawasan ini ditandai oleh perbukitan karst yang sejak dulu menjadi landmark spasial monumental sekaligus penanda utama bahwa telah sampai ke tatar Bandung Raya dari arah barat. Menara kapur alami dari Padalarang hingga pelosok Rajamandala, sekitar 25 km, yang masih tersisa di kiri jalan raya adalah Gunung Hawu, Pasir Pabeasan, Pasir Lampegan, Pasir Bojong Honje, Pasir Karimbi Kare’es, Gunung Manik, Gunung Bende, Pasir Batununggal, Bukit Sanghyang Lawang, Gunung Guha, dan Gunung Leuweung Hideung; sedangkan yang berderet di kanan jalan adalah Pasir Kamuning, Gunung Karang, Gunung Bengkung, Karang Panganten, Pasir Pawon, Gunung Masigit, dan Pasir Bancana, dengan ketinggian antara 400 hingga 908 m dpl.
Fondasi batugamping penyusun karst itu adalah Formasi Rajamandala berumur Oligo-Miosen, sekitar 25 sampai 28 juta tahun yang lalu, yang sejatinya dahulu diendapkan di lingkungan terumbu, baik berupa intinya, yaitu dominasi kerangka biota laut dangkal yang tumbuh, maupun tepinya berupa klastik berlapis, semuanya berbahan kalsit. Karst ini juga seolah dijaga oleh lima “Sanghyang” atau kawasan karst yang tererosi atau terbelah oleh arus Sungai Citarum sehingga meninggalkan jejak berupa leuwi atau bagian sungai yang terdalam, gua, dan bentang alam pahatan air, atau sungai bawah tanah. Kelimanya, jauh ke pelosok dari jalan raya, berturut-turut dari yang paling dekat adalah Sanghyang Lawang, Sanghyang Kenit, Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Heuleut.
2. Tektonik Mengangkat Endapan Laut ke Dataran Tinggi, Gunung Api yang Tak Jadi, Marmer, dan Sumber Air Masyarakat
Proses dinamis Bumi berupa gaya tektonik regional telah mengangkat endapan laut itu menjadi kapur daratan di dataran tinggi, yang terus berlanjut berupa sesar dan perlipatan. Buktinya dapat dilihat di Karang Panganten berupa cermin sesar dan breksi sesar yang merupakan bagian dari fenomena skala regional, Sesar Cimandiri. Demikian kayanya Karst Citatah, sampai fenomena vulkanik pun ada di sana berupa intrusi batuan beku andesit terisolasi yang diidentifikasi sebagai struktur gunung api yang tak jadi di Cicocok. Panas dari intrusi tersebut mengubah batuan sedimen kapur di sekitarnya menjadi komoditas Marmer Citatah bernilai ekonomi sangat tinggi.
Ketika marmer asli yang sangat terbatas ini habis, masyarakat pun membuat marmer imitasi dengan menambang dan menggosok batu gamping setempat. Ini mungkin menjadi awal dari penghancuran kawasan karst di sana, selain kebutuhan akan kapur. Padahal, di balik nilai ekstraktifnya, perbukitan karst ini, sebagaimana karst lainnya, menyimpan fungsi ekologis yang sangat penting, yaitu sumber air dan penjamin hajat hidup serta kebutuhan domestik masyarakat setempat. Di Cinyocok, puluhan selang mengambil air dari sebuah bendung kecil tempat air keluar dari karst. Di kawasan Desa Gunungmasigit, puluhan mata air keluar dari batu gamping karst menjadi sumber air bersih bagi warganya, yang kini banyak terancam oleh penambangan.
3. Biodiversity, Hidrotermal Non-Vulkanik, dan Ikon “Manusia Pawon”
Kombinasi fondasi abiotik dan stabilitas mikroklimatnya telah memicu berkembangnya pilar biotik berupa ekosistem karst yang khas. Sabuk hijau permukaannya didominasi oleh spesies vegetasi pencinta kalsium (kalsifit) berakar kuat sebagai pengikat tebing terjal, seperti pohon jati, jambu biji, sawo Belanda, dan lainnya; serta biota gua dan karst yang khas yang masih bertahan dari kerusakan lingkungan akibat penambangan batu kapur. Demikian pula biota perairan Sungai Citarum yang masih resisten terhadap pencemaran, seperti hampal, lalawak, senggal, dan tagih.
Di kawasan karst ini juga ditemukan mata air panas alami yang tidak berbau belerang, tentu saja merupakan gejala hidrotermal non-vulkanik, yaitu di Cipanas, kaki Gunung Tikukur, Desa Rajamandala Kulon, akibat deep circulation dan adanya zona sesar. Ikon yang paling terkenal di dunia sains, khususnya geoarkeologi, adalah Manusia Pawon dan lingkungannya. Situs Gua Pawon yang terdapat di Pasir Pawon menyimpan fosil manusia tersebut. Hasil riset terkait terakhir sudah menemukan tujuh kerangka manusia purba dari tujuh lapisan berbeda dengan kisaran umur 5.600 sampai 11.000 tahun yang lalu. Situs hunian purba terpenting di tatar Sunda ini juga menyimpan bukti autentik peradaban berupa artefak batu, sisa alat serpih, hingga temuan fosil gigi vertebrata berupa fragmen mamalia darat dan primata purba, sisa buruan.
4. Wisata Populer, High Altitude Tourism, Pendidikan dan Penelitian: Dari Stone Garden hingga Terumbu Pabeasan
Kawasan Citatah juga sudah lama dikenal oleh masyarakat luas karena wisata populer berupa taman batu kapur yang panoramik, yang dikenal sebagai Stone Garden. Karena mudah diakses, kawasan karst ini juga terkenal dengan olahraga panjat tebing, di mana lokasinya diberi nama “tebing” dan ketinggiannya, seperti “Tebing 125” (Pasir Pabeasan, 125 m), “Tebing 90” (Karang Panganten, 90 m), dan “Tebing 48” (Bukit Puncak Manik, 48 m) yang menjadi tempat latihan Kopassus.
Wisata petualangan atau High-Altitude Tourism kini populer di sana, seperti rappelling dari atas jembatan di kaki Gunung Masigit atau hammocking dan webbing di Karang Hawu. Jauh sebelum itu, pada 1982–1983, kawasan yang mendapat julukan sebagai “singkapan batuan kapur terbaik di Indonesia” ini telah menjadi lokasi kuliah lapangan dan penelitian Pertamina di bawah bimbingan “Bapak Geologi Migas Indonesia”, almarhum R.P. Koesoemadinata, dengan konsentrasi di terumbu Pasir Pabeasan.
Sejak saat itu, Karst Citatah seolah wajib menjadi lokasi ekskursi para mahasiswa geologi dan menjadi objek banyak penelitian perorangan maupun perusahaan. Sejak 2020-an, peran kawasan karst itu bertambah dengan berdirinya kampus lapangan Geominerba di Bukit Pasir Honje. PEP Bandung juga menjadikan pemetaan kawasan tersebut sebagai program tahunan untuk setiap angkatan sehingga menjadi sarana edukasi yang penting. Dari puncak Pasir Honje, di kompleks kampus lapangan itu, pemandangan lepas ke utara memperlihatkan bentang alam karst yang ikonik, di mana deretan Karang Panganten–Pasir Pawon–Gunung Masigit–Pasir Bancana yang sedang dirusak tampak jelas.
5. Epilog: Seruan Konservasi di Tengah Realitas Bukit yang Hilang, Pengrusakan yang Tengah Berlangsung, dan Ancaman Kemusnahan Total
Letaknya yang sangat dekat dengan kota besar dan pusat-pusat pendidikan tinggi geologi, aksesnya yang sangat mudah karena dilalui jalan provinsi Bandung–Cianjur, serta kandungannya yang multi-nilai, mulai dari sains seperti geologi, arkeologi, dan biologi; edukasi; hingga ekonomi berkelanjutan, seperti sumber air masyarakat, pariwisata umum dan khusus, atau seperti sering dikatakan, arsip bentang alam dan geologi karst yang penting di Bandung Raya dan sekitarnya, bahkan di Indonesia, menjadikannya bak mutiara.
Namun, seluruh warisan multi-nilai dan memori antropologi ini berada di ujung tanduk akibat terjangan ancaman kerusakan masif bermotif antropogenik ekstraktif dari aktivitas industri pertambangan kapur komersial. Dentuman peledakan dinamit secara serakah dan raungan mesin berat para penambang telah meremukkan tubuh-tubuh bukit kapur legendaris, menghancurkan integritas cagar budaya, mengubur situs arkeologi prasejarah, serta merusak jalur pipa sungai bawah tanah secara permanen.
Apalagi satu bukit, yaitu Gunung Leuit di dekat Gunung Masigit, kini telah hilang dan Pasir Bancana sedang menghadapi bencana serta kemungkinan hilang akibat penambangan kapur yang tak terkendali dan pengrusakan hampir di seluruh bentang alam penting ini. Maka, kewajiban geoliterasi geowisata di sana tiada lain adalah menyerukan konservasi, alias penghentian modus penambangan apa pun di seluruh kawasan Karst Citatah yang sangat penting itu.
#GeowisataNusantara #Seri51_KarstCitatah #MutiaraGeologiCitatah #FormasiRajamandalaOligoMiosen #SitusGuaPawonPurba #ManusiaPawonCitatah #SesarCimandiriRegional #StoneGardenPadalarang #TerumbuPasirPabeasan #SeruanKonservasiKarst #KedaulatanLingkunganNKRI

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #51: “Karst Citatah: Mutiara di Tepian Bandung Raya yang Rusak Berat”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












