Pertolongan Allah Begitu Dekat, Sedekat Tongkat di Tangan Nabi Musa

Oleh: Kang Eep

MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (13/07/2026) – Ada saat dalam hidup ketika masalah terasa begitu besar sampai kita tidak lagi mampu membayangkan jalan keluarnya. Utang menumpuk, usaha seret, pekerjaan belum ada, kesehatan terganggu, atau persoalan keluarga datang bersamaan. Kita berdoa, tetapi dalam hati tetap bertanya: *bagaimana mungkin semua ini bisa selesai?*

Padahal jika Allah Mahakuasa, apa susahnya membelah laut?

Kisah Nabi Musa memberi pelajaran yang sangat sederhana tetapi dalam. Ketika Musa dan kaumnya terdesak, di depan terbentang laut, sementara Fir’aun dan pasukannya mengejar dari belakang. Secara perhitungan manusia, tidak ada jalan.

Tetapi Allah tidak menyuruh Musa membelah laut. Allah juga tidak memintanya mencari kapal, membuat jembatan, atau memikirkan bagaimana air sebanyak itu bisa terpisah.

Musa hanya diperintahkan memukulkan tongkatnya.

Tongkat itu bukan benda baru. Sudah lama berada di tangan Musa, dibawa ke mana-mana, digunakan untuk bertumpu dan membantu pekerjaannya. Benda yang sehari-hari tampak biasa saja.

Namun ketika Allah berkehendak, tongkat yang biasa itu menjadi jalan datangnya pertolongan yang luar biasa.

Ada pelajaran penting yang bisa kita ambil: *Musa tidak diminta mengerjakan bagian Allah. Musa hanya diminta mengerjakan bagiannya sendiri.*

Memukulkan tongkat adalah bagian Musa. Membelah laut adalah bagian Allah.

Sering kali kita justru terbalik. Kita tidak hanya memikirkan apa yang bisa kita kerjakan hari ini, tetapi juga ingin tahu seluruh jalan penyelesaiannya. Kita ingin tahu dari mana uang akan datang, siapa yang akan menolong, kapan masalah selesai, dan bagaimana semuanya akan berakhir.

Karena tidak menemukan jawabannya, kita lalu merasa tidak ada jalan.

Padahal mungkin Allah tidak meminta kita mengetahui seluruh jalan. Kita hanya diminta melakukan langkah yang memang berada dalam kemampuan kita.

Pola seperti ini juga muncul dalam kisah lain. Maryam diperintahkan menggoyangkan pohon kurma dalam keadaan lemah setelah melahirkan. Nabi Ayyub diperintahkan menghentakkan kakinya sebelum Allah menghadirkan air sebagai bagian dari pertolongan-Nya. Tindakan mereka sederhana, bahkan tampak tidak sebanding dengan persoalan yang dihadapi. Tetapi tetap ada bagian manusia yang harus dikerjakan.

Itulah ikhtiar.

Ikhtiar bukan berarti manusia menentukan hasil. Tawakal juga bukan berarti diam menunggu pertolongan jatuh dari langit. Kita mengambil sebab yang tersedia, mengerjakan apa yang mampu dikerjakan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Maka ketika menghadapi masalah besar, mungkin pertanyaannya tidak perlu selalu, “Bagaimana saya menyelesaikan semua ini?*

Coba ganti dengan pertanyaan yang lebih sederhana:

*“Apa tongkat yang sedang ada di tangan saya?”*

Tongkat itu bisa berupa kemampuan yang sudah kita miliki, pekerjaan kecil yang bisa dimulai, satu produk yang bisa dijual, satu orang yang bisa dihubungi, satu proposal yang bisa dikirim, satu keputusan yang selama ini ditunda, atau satu kebiasaan baik yang perlu dihidupkan kembali.

Jangan meremehkannya hanya karena terlihat kecil. Tongkat Musa pun sangat kecil dibandingkan dengan Laut Merah.

Tentu ikhtiar bukan transaksi yang memaksa Allah memberi hasil persis seperti yang kita inginkan. Kita tidak pernah tahu dari pintu mana pertolongan akan datang. Bisa melalui jalan yang sedang kita tempuh, bisa pula melalui jalan lain yang sama sekali tidak pernah kita perhitungkan.

Yang penting, jangan mengambil alih pekerjaan Allah.

Kita tidak harus tahu bagaimana laut akan terbelah. Kita hanya perlu mengenali apa yang sudah ada di tangan, lalu menggunakannya sebaik mungkin.

Sebab boleh jadi pertolongan Allah yang kita kira masih jauh sebenarnya sedang dimulai dari sesuatu yang sangat dekat.

*Sedekat tongkat di tangan Nabi Musa.*

Wallahu alam bishawab

Salam, Kang Eep

***

Judul: Pertolongan Allah Begitu Dekat, Sedekat Tongkat di Tangan Nabi Musa
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *