Kemerosotan Pemimpin

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Rabu (12/08/2026)  Artikel berjudul “Kemerosotan Pemimpin” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, republik ini mula-mula dibangun oleh manusia yang menjadikan pengetahuan, integritas, dan kesederhanaan sebagai tiang pengabdian. Dari reruntuhan kolonialisme, mereka melahirkan Pancasila, Konstitusi, persatuan, serta martabat Indonesia di panggung dunia.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Mereka berbeda pandangan, tetapi yang dipertarungkan terutama gagasan, bukan pembagian kekuasaan. Conflict of ideas lebih kuat daripada conflict of interests. Mereka boleh berbeda jalan, tetapi tetap dipersatukan oleh satu cakrawala: Indonesia.

Kini hukum itu seperti berbalik. Ketika zaman menuntut kapasitas yang semakin tinggi, mutu kepemimpinan justru merosot. Janji berlari lebih cepat daripada kemampuan; citra lebih subur daripada kompetensi. Dahulu kebodohan adalah musuh politik, kini kedalaman berpikir justru kerap menjadi gangguan bagi kenyamanan kekuasaan.

Regresi ini bukan sekadar kegagalan individu, melainkan buah ekosistem yang melemah: pendidikan kehilangan daya pembentukan watak, kaderisasi politik meredup, sementara demokrasi lebih menghargai elektabilitas daripada kapasitas.

Dari sanalah lahir pemimpin plastik: ketika isi tak cukup, kemasan diperindah; ketika kemampuan belum terbentuk, citra diperbesar. Ia mencintai kilau emas sepuhan, tetapi asing terhadap nur emas murni sibuk mengelola kesan, namun gagal memikul amanat.

Yang paling berbahaya adalah ketika mediokritas menjadi kebiasaan. Standar diturunkan perlahan hingga bangsa kehilangan kemampuan membedakan keunggulan sejati dari sekadar gemerlap. Kemerosotan pun berubah dari penyimpangan menjadi sistem.

Maka Indonesia tidak kekurangan politisi, melainkan kekurangan negarawan: manusia yang mampu berpikir melampaui diri, kelompok, dan musim politiknya. Republik hanya akan pulih ketika kapasitas, integritas, dan kedalaman kembali menjadi ukuran kepemimpinan agar besarnya amanat sejarah tidak dipikul oleh manusia yang hanya pandai tampil, tetapi tidak sanggup menuntun.

***

Judul: Kemerosotan Pemimpin
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *