Wisatabumi Nusantara Seri #48: “Bandung Selatan, Dipahat di Antara Menara Alam dan Dapur Api – Hidrotermal Kini, Indah di Kala Siang maupun di Waktu Malam”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Senin (10/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-48 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Bandung Selatan yang memadukan jajaran gunung api, manifestasi panas bumi, hutan alami, perkebunan, hingga hulu Sungai Citarum. Melalui perspektif geologi, geowisata, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas Kawah Putih, Wayang Windu, Kamojang, Rengganis, Gunung Tilu, Kampung Adat Cikondang, Situ Cileunca, dan Situ Cisanti sebagai bagian penting dari benteng hidrologi Tatar Sunda.

SINOPSIS: Esai ini membedah fondasi geologi, kekayaan hayati, dan sosiokultural kawasan dataran tinggi Bandung Selatan sebagai benteng hidrologi hulu yang tangguh. Melalui kacamata geoliterasi, diuraikan kontras bentang alam antara menara alam jajaran gunung api yang sudah padam dengan dapur api manifestasi panas bumi aktif sebagai pusat mineralisasi hidrotermal, labirin sabuk hijau perkebunan teh dan kopi legendaris, kearifan hulu sungai purba Citarum di Kertasari, dan sumber air Situ Cileunca di Pangalengan, respons budaya masyarakat adat dalam merawat kesucian hutan titipan, cagar alam, hingga PLTP. Sebuah kawasan yang indah, baik di kala siang maupun di waktu malam. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk membangun kesadaran geowisata mandiri berbasis komunitas demi menjaga kedaulatan lingkungan serta keselamatan Tatar Sunda.

1. Teater Dataran Tinggi Vulkanik dan Menara Alam yang Sedang Istirahat

Bentang alam tatar Bandung Selatan menyuguhkan simfoni keragaman bumi yang luar biasa melalui morfologi dataran tinggi bergelombang masif pada ketinggian 1.000 hingga 2.400 meter di atas permukaan laut. Lanskap wilayah ini dikepung secara melingkar oleh benteng raksasa hijau jajaran gunung api Kuarter purba yang telah padam atau kini sedang beristirahat, bertindak kokoh sebagai menara alam pelindung hidrologi utama. Jajaran menara penahan air ini dipimpin oleh kemegahan bentuk tubuh Gunung Tilu di sisi barat, jajaran dataran tinggi Kertasari, hingga barisan Pegunungan Malabar tua yang menjulang tinggi mengawal sisi timur laut. Sasis morfologi benteng hijau ini membentuk Cekungan Ciwidey, Pangalengan, dan koridor lembah atas Kertasari yang berudara sejuk, sebuah koridor spasial indah tempat pelapukan tanah subur yang sejak abad ke-19 telah dikembangkan sebagai sabuk agraris andalan Tatar Priangan. Posisi geografis menara-menara alam raksasa hijau ini bertindak sebagai gerbang ekologis terpenting yang secara fisik mengunci stabilitas iklim mikro wilayah perkotaan metropolitan di dataran bawah. Dari Kertasari melalui Samarang akan tembus ke Gunung Papandayan di wilayah Garut.

2. Dapur Api dan Hidrotermal Kini: Kawah Putih, Wayang Windu, Kamojang hingga Rengganis

Panggung dapur api aktif bawah permukaan yang terpahat nyata di permukaan tanah pegunungan, eksistensinya dipahami secara mendalam sebagai tungku kimiawi bawah permukaan raksasa tempat berlangsungnya proses mineralisasi hidrotermal, di mana fluida panas bumi yang kaya unsur kimia aktif bekerja memasak dan mengubah batuan samping menjadi zona alterasi batuan ubahan yang kaya akan endapan mineral baru. Identifikasi lapangan dipimpin oleh keunikan Kawah Putih di Gunung Patuha, sebuah pusat erupsi magmatik purba yang menyisakan danau kawah asam raksasa berwujud air hijau keputihan yang kaya akan kandungan endapan belerang, gipsum, dan silika sinter. Aktivitas dapur api vulkanik ini bersanding lurus dengan melimpahnya energi fluida hidrotermal aktif di kawasan panas bumi Wayang Windu dan Kamojang di sebelah timurnya. Selain itu, terdapat gejala hidrotermal permukaan dengan fenomena mata air panas, uap panas, dan semburan lumpur alami seperti Kawah Cimanggu, Cibolang, Cihuni, dan Rengganis.

Wisatabumi Nusantara
Foto: Hteragram/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

3. Megabiodiversitas: Hutan Alami, Rasamala, Saninten, Bambu El-el, dan Ragam Fauna

Kekayaan sasis alam berupa tanah andosol hasil pelapukan material vulkanik tua yang subur tersebut secara paralel melahirkan hamparan kekayaan hayati (biodiversity) dataran tinggi yang menempatkan wilayah selatan sebagai suaka megabiodiversitas terpenting. Selain hutan alami, yang sebagian di antaranya, seperti di Gunung Tilu, telah menjadi cagar alam, dengan menara tanaman keras khas hutan primer sekelas pohon Rasamala dan Saninten, sabuk hijau ini diperkuat secara fisis oleh keberadaan rumpun bambu El-el (Schizostachyum elatum) yang merupakan vegetasi endemik, berpadu harmonis sebagai pengikat peresapan air tanah hulu. Komunitas tumbuhan alami penahan longsor lereng terjal ini bersanding dengan vegetasi buatan produktif berupa perkebunan teh dan kopi. Akar-akar tanaman keras ini bekerja sebagai jangkar biologi alami, meredam laju limpasan air hujan, sekaligus menjaga suplai oksigen bersih. Ekosistem hutan titipan yang sunyi ini bertindak pula sebagai ruang suaka aman bagi kelestarian kawanan satwa endemik dilindungi, mulai dari koloni owa jawa di tajuk pohon tinggi, kelihaian gerak lutung dan rusa, hingga jelajah elang jawa yang memantau pergerakan rimba; bersanding dengan peternakan sapi di tepian Situ Cileunca.

4. Kampung Adat Cikondang, Cisanti Hulu Citarum, Cagar Alam, Perkebunan Teh dan Kopi, serta PLTP: Lanskap yang Indah Siang dan Malam

Seluruh jalinan alam tersebut pada akhirnya mengkristal menjadi dimensi sosiokultural (cultural diversity) luhur, yang menyajikan harmoni lanskap terintegrasi yang tetap indah siang dan malam, sebagaimana dapat disaksikan dari Wayang Windu Sky View, sekitar 8 km di tenggara Kota Pangalengan. Di hamparan permukaan bumi Bandung Selatan, ada denyut kehidupan tradisional Kampung Adat Cikondang di Lamajang yang disiplin memegang teguh hukum adat melestarikan hutan lindung Leuweung Geledegan. Sabuk hijau alami ini dilestarikan melalui cagar alam berpadu dengan kebun teh yang legendaris, di antaranya warisan administratur kelas dunia A.E.R. Bosscha di Malabar, dan perkebunan kopi yang terkenal di dunia sebagai Java Preanger (Arabica Malabar Mountain), dengan julukan terkenalnya “A Cup of Java”, lanskap yang menyejukkan mata di kala siang, seperti dapat dilihat dari Cukul diawali dengan ngintip sunrise atau dari Gardu Pandang Giri Mukti (Bosscha View). Memasuki waktu malam, giliran gemerlap lampu operasional dan deru sunyi menara Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang menerangi perbukitan, menegaskan sinergi agung antara kearifan lokal masa lalu dengan teknologi energi bersih modern. Hubungan timbal balik ini menciptakan bentang budaya yang megah, di mana pasokan listrik hijau bersanding lurus dengan pusaka air Situ Cileunca penyedia air baku regional, dan keasrian Situ Cisanti Kertasari sebagai titik nol kilometer hulu Sungai Citarum, membuktikan bahwa peradaban hulu selalu seirama dalam menjaga kesucian alam penopang peradaban hilir.

5. Ikhtiar Geoliterasi dan Maklumat Pertahanan Hulu Citarum Kertasari

Oleh karena itu, menikmati eksotisme bentang alam hijau Bandung Selatan melalui gerakan geowisata populer berbasis geoliterasi wajib diarahkan menjadi maklumat bela negara ekologis yang sejati. Setiap pejalan diajak untuk sadar membaca untaian sejarah bumi melalui singkapan kawah hidrotermal, semburan uap Kamojang sasis barat, dan jernihnya mata air Situ Cisanti Kertasari, sekaligus aktif menghidupkan ekonomi kreatif komunitas peternak sapi perah dan petani teh lokal. Pesan geowisata yang teramat mendesak untuk dibawa pulang adalah menghentikan alih fungsi lahan hutan lindung lereng atas menjadi kawasan wisata komersial buatan yang merusak pori-pori tanah penyerap air dan menjaga kemurnian setiap tetes aliran air yang mengalir menuju jaringan utama Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu. Merawat kelestarian benteng hulu ini adalah wujud nyata kecintaan generasi masa depan dalam merawat keutuhan alam Zamrud Khatulistiwa demi tegaknya martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia!

#GeowisataNusantara #BumiBandungSelatan #DapurApiMenaraAlam #MineralisasiHidrotermal #KawahPutihPatuha #WayangWinduGeothermal #HuluCitarumCisanti #KecamatanKertasari #KamojangSasisBarat #CagarAlamGunungTilu #PerkebunanTehMalabar #KampungAdatCikondang #BelaNegaraEkologis

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #48: “Bandung Selatan, Dipahat di Antara Menara Alam dan Dapur Api – Hidrotermal Kini, Indah di Kala Siang maupun di Waktu Malam”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *