MajmusSunda News – Bandung, Senin (10/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-46 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Tasikmalaya Tengah yang menyimpan jejak vulkanisme bawah laut purba, benteng karst, mineralisasi hidrotermal, endapan mangan, hingga singkapan jasper aneka warna. Melalui perspektif geologi, geowisata, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas mozaik batuan purba, alur Sungai Cimedang, Karst Karangnunggal, kawasan Buniasih, serta kekayaan kultural Pamijahan sebagai bagian penting dari lanskap kebumian dan kehidupan masyarakat Tasikmalaya.
SINOPSIS: Esai makro lima paragraf ini membedah fondasi geologi wilayah Tasikmalaya Tengah melintasi hierarki jalur perjalanan dari arah kota yang didominasi oleh singkapan batuan purba sisa aktivitas vulkanisme bawah laut dan bentang alam karst pedalaman yang masif. Melalui kacamata geoliterasi ringkas, diuraikan pesona patahan vertikal air terjun di Jatiwaras, jejak bekas tambang emas di Salopa, cekungan danau tektonik Situ Denuh di Bojonggambir, kekayaan mineral mangan Karangnunggal, eksotisme alur Sungai Cimedang yang mengiris benteng kapur, hingga singkapan taman jasper aneka warna Buniasih. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk membangun kesadaran geowisata mandiri berbasis komunitas demi menjaga kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Mozaik Bentang Alam Pedalaman: Cerita Lanskap, Rajutan Hidrologi, dan Untaian Ragam Batuan
Bentang alam wilayah Tasikmalaya yang, dalam sebuah naskah kuno, disebut “mandala” Bagian Tengah menyuguhkan bentangan morfologi perbukitan bergelombang tua Pegunungan Selatan yang teramat dinamis, dengan drainase alami utama Sungai Ciwulan yang berhulu di lereng Gunung Cikuray dan Galunggung, mengalir tersembunyi jauh di dasar ngarai curam yang rimbun dan tidak tampak dari jalan raya. Perjalanan ini tidak akan ke Situ Denuh di Bojonggambir di sasis barat berupa amblesan blok batuan tektonik murni yang meruntuhkan lapisan sedimen Tersier menjadi cekungan cawan air terisolasi di atas bukit, tetapi langsung ke selatan, mengikuti jalan raya dari Kota Tasikmalaya ke arah pantai, dengan Sungai Cimedang yang bermuara ke Ciwulan tidak jauh dari pantai selatan, tampak sesekali di sebelah kiri jalan. Sepanjang rute perjalanan, pejalan akan menjumpai tiga kelompok batuan utama kasatmata, diawali oleh hamparan batuan sedimen laut purba berumur Miosen yang termineralisasi, antara lain di Salopa, berupa urat emas hidrotermal, bergradasi masuk menuju benteng masif formasi batu gamping kapur terumbu dengan endapan mangan di bawahnya di beberapa lokasi, dan memuncak eksotis pada singkapan blok batuan kersikan atau silika pekat kaya kandungan kuarsa sisa aktivitas magmatik masa lalu.
2. Laboratorium Mineralisasi Hidrotermal, Kartisifikasi, Pengendapan Mangan, Struktur dan Jejak Vulkanik Bawah Laut Purba
Zona ini dikontrol ketat oleh aktivitas tektonik intensif yang memicu proses mineralisasi hidrotermal pada lapisan batuan sedimen laut berumur Miosen, menghasilkan emas di Salopa dan undakan air terjun Curug Dengdeng setinggi puluhan meter di Cimedang. Bergerak menuju zona tengah, gaya tektonik tersebut menggeser kedudukan batuan sedimen laut menuju tatar Karangnunggal, di mana daya kikis mekanis secara fisis menggerus dan melarutkan dinding batu gamping kapur Formasi Kalipucang menjadi lembah ngarai terjal bersaput labirin goa dengan endapan mangan di dasarnya, yang terbentuk dari semburan fluida hidrotermal dasar samudra yang kaya logam oksida hitam; seiring waktu geologi, terjadi pendangkalan laut yang memicu pertumbuhan masif koloni terumbu karang purba, sehingga menimbun total lapisan mineral berharga tersebut di bawah tebalnya dinding cadas gamping keputihan Formasi Kalipucang. Dinamika geologi ini mencapai puncaknya di Pancatengah melalui singkapan masif cawan mineral kersikan purba Formasi Jampang. Proses pembekuan lava pijar dan semburan mata air panas dasar laut dalam jutaan tahun lalu sebelum pembentukan mangan tersebut mengendapkan silika pekat aneka warna, menghasilkan mahakarya alam berupa hamparan batuan jasper merah, kuning, dan cokelat pekat kasatmata yang membeku abadi di atas sasis lantai samudra purba.

3. Benteng Hayati Pedalaman: Ekosistem Cadas Kapur, Vegetasi Air, dan Rumah Manggu
Kekayaan alam berupa kesuburan tanah vulkanik tua, hamparan batuan silika, dan cawan hidrologi karst yang basah secara paralel melahirkan sabuk kekayaan biotik (biodiversity) pedalaman yang spesifik. Sektor perairan deras di sepanjang alur ngarai Sungai Cimedang dan jaringan muara Ciwulan bertindak sebagai rumah aman bagi kelestarian biota sungai berupa koloni ikan mas, nila, tawes, nilem, dan gabus endemik lokal penanda tingginya kemurnian pasokan air tawar. Karakter terisolasi pada lorong-lorong gelap sistem gua gamping Karangnunggal dan Bantarkalong juga berfungsi sebagai sasis pelindung alami bagi eksistensi biota karst yang unik, didominasi oleh koloni kelelawar pemakan serangga dan jangkrik gua berantena panjang penanda kesetimbangan rantai makanan bawah tanah. Sementara di sabuk agraris permukaan, kesuburan tanah hasil pelapukan batuan mineral purba tatar tengah melahirkan sentra perkebunan rakyat berupa komoditas buah Manggu atau Manggis (Garcinia mangostana) kualitas unggul bercita rasa manis-segar yang penanamannya konsisten mengunci pori-pori tanah dari ancaman longsor permukaan.
4. Raksasa Kultural Pegunungan: Karomah Pamijahan, Etos Penggali, dan Harmoni Kultural
Seluruh jalinan aset alam yang melimpah tersebut pada akhirnya membentuk cetak biru dimensi sosiokultural (cultural diversity) masyarakat Tasikmalaya Tengah yang berkarakter tangguh dan sarat nilai keluhuran luhur. Di bawah naungan sasis dinding gua batu gamping Bantarkalong, respons budaya spiritual mewujud secara agung melalui pusaka karomah Syekh Abdul Muhyi di Gua Safar Wadi, Pamijahan, abad ke-17 sebagai pusat penyebaran Islam bawah tanah yang kini menjadi lokomotif utama geowisata religi nasional. Karakter spiritual pemuliaan bumi ini bersanding lurus dengan ketangguhan fisik lapangan melalui eksistensi komunitas penggali mangan tradisional di Karangnunggal dan sekitarnya yang menembus lorong sempit perut bumi menggunakan alat sederhana demi menyambung denyut ekonomi komunal. Ragam aktivitas ekonomi kreatif berbasis batuan kelabu dan kearifan adat masyarakat pedalaman ini melatih kebiasaan warga untuk senantiasa menghormati kekuatan alam, menyadari bahwa geliat kemakmuran tatar tengah tidak akan pernah berjalan tanpa adanya kelestarian hutan rakyat dan perlindungan sirkular terhadap batas kekuatan ekosistem sekeliling mereka.
5. Epilog Ksatria Ekologis: Sabuk Hijau Sempadan, Kedaulatan Tambang, dan Maklumat Geoliterasi
Keterkaitan fisis antara kekayaan ekonomi pertambangan dengan tingkat kerentanan geologi menuntut adanya respons aksi mitigasi bencana berbasis ekosistem yang disiplin sebagai penutup maklumat geowisata mandiri kita. Langkah pertahanan mekanis alami di permukaan bumi wajib ditegakkan melalui penanaman massal vegetasi hutan rakyat, pohon buah manggu, dan bambu di sepanjang zona sempadan alur Sungai Cimedang guna menahan laju erosi permukaan dan meredam risiko longsor tebing sungai. Keseimbangan lingkungan bawah tanah juga dimitigasi secara ekologis melalui pembatasan ketat eksploitasi penambangan batu kapur komersial berskala makro demi menjaga keutuhan jaringan gua karst Karangnunggal sebagai menara pengunci suplai air tanah dangkal. Pendampingan standardisasi keselamatan lingkungan bagi para penggali mangan tradisional Salopa dan Karangnunggal wajib dikawal ketat, memastikan bahwa pengerukan mineral dan batuan jasper tidak merusak sasis hidrologi. Memuliakan lanskap abiotik unik, melestarikan biota gua terisolasi, serta menghargai peluh perjuangan pekerja lokal melalui keluhuran budi pekerti adalah tindakan nyata bela negara ekologis untuk menjaga keutuhan alam Zamrud Khatulistiwa demi tegaknya martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk selama-lamanya!
#GeowisataNusantara #SimfoniCadasKapur #TungkuSilikaPurba #AmblesanTektonikDenuh #MineralisasiSedimenMiosen #NgaraiTersembunyiCiwulan #DASCiwulanPurba #PunggunganSelatanMiosen #RuteSalopaJatiwaras #SejajarTetapiBerjauhan #CimedangMemotongKarst #KarstKarangnunggal #TambangManganKarangnunggal #AlurSungaiCimedang #DesaBuniasihPancatengah #MuaraSungaiCiwulan #VulkanismeBawahLaut #TamanJasperBuniasih #SyekhAbdulMuhyiPamijahan #GuaKarstBantarkalong #CurugDengdengJatiwaras #BelaNegaraEkologis

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #46: “Simfoni Cadas Kapur dan Tungku Silika Purba di Jantung Mandala Tengah”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












