Beras Siapa yang Punya?

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (08/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Beras Siapa yang Punya? ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Menumpuknya beras di gudang Bulog, betul-betul merupakan resiko dari kisah sukses Pemerintahan Presiden Prabowo menggenjot produksi beras setinggi-tingginya menuju swasembada beras. Sejak 31 Desember 2025, Indonesia kembali mampu mengejutkan dunia, karena keberhasilannya menggapai swasembada beras. Suatu prestasi yang membanggakan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Lebih keren lagi, ternyata cadangan beras Pemerintah per April 2026 mampu mencapai sekitar 4,8 juta ton. Capaian sebesar ini, menjadi rekor terbaik dalam menyimpan stok beras Pemerintah. Hal ini, tentu saja menjadi sebuah indikator penting terkait dengan semakin kokohnya ketahanan dan kemandirian pangan bangsa dan negara.

Seiring dengan itu, ada pertanyaan menarik terkait dengan posisi petani padi dalam kepemilikan gabah dan beras. Benarkah petani padi di negeri ini umumnya lebih senang menjual hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen ketimbang dalam bentuk beras ? Jawabnya tegas :
“tidak selalu”. Kebanyakan petani memang menjual dalam bentuk gabah kering panen/GKP atau gabah kering giling/GKG ke pengepul/tengkulak.

Paling tidak, ada beberapa alasan, mengapa petani lebih senang menjual gabah ketimbang mengolahnya dulu menjadi beras.
– Butuh uang cepat setelah panen buat bayar utang tani & kebutuhan hidup
– Tidak punya mesin pengering, penggiling, atau gudang simpan
– Risiko harga & susut. Beras kalau disimpan lama bisa turun mutu, kena kutu
– Tengkulak memberi pinjaman modal di awal tanam dengan syarat saat panen gabahnya dijual ke tengkulak.

Namun begitu, petani juga bisa jual beras, dan untungnya lebih besar
Kalau petani menggiling sendiri atau lewat kelompok tani, nilai tambahnya naik. Contoh hitungan dari penelitian: 1 kg gabah jadi beras kasih tambahan pendapatan Rp673/kg ke petani, atau 59% dari margin. R/C rasio jual beras 1,68 vs jual gabah 1,57.

Selanjutnya, tren sekarang: banyak petani naik kelas. Supaya tidak “mentok” di gabah, strategi yang mulai dipakai:
1. Gabung poktan/gapoktan, punya RMU bersama, jual beras curah/premium
2. Diversifikasi produk : beras premium, tepung beras, snack
3. Jual langsung/D2C : lewat online, pasar tani, atau kemitraan dengan restoran/hotel
4. Program kemitraan : Bulog, food estate, atau startup agritech yang beli dengan harga kontrak 7f75

Jadi benarkah petani hanya sampai gabah? Faktanya: mayoritas iya, tapi bukan keharusan. Itu terjadi karena keterbatasan modal, alat, dan akses pasar, bukan karena aturan. Petani yang punya akses ke penggilingan dan pemasaran bisa dan sudah banyak yang jual beras, bahkan produk turunannya.

Adakah contoh kasus kelompok tani yang sukses jual beras sendiri ? Ya, ada banyak contoh petani yang nggak berhenti di gabah dan sukses jual beras sendiri. Biasanya kuncinya: gabung gapoktan + punya RMU + branding.

Berikut ini 3 contoh yang sering jadi rujukan:
1. Gapoktan Tani Makmur – Sragen, Jawa Tengah.
– Modelnya 8 kelompok tani gabung, urunan beli RMU & dryer. Dapat bantuan alsintan dari Kementan.
– Produk. Beras premium “Sragen Asri” kemasan 5kg & 10kg, sudah masuk retail modern lokal & e-commerce.
– Hasil. Harga jual ke konsumen Rp13.000-Rp14.500/kg. Kalau jual gabah cuma Rp5.800-Rp6.200/kg. Margin buat petani naik 30-40%.

2. Gapoktan Sidomulyo – Bantul, DIY.
– Modelnya. Bikin “Rumah Beras Sehat” + sertifikasi organik. Gandeng pendampingan dari universitas.
– Produknya beras merah, hitam, dan putih organik kemasan 1kg. Jual D2C via Instagram, WhatsApp, dan pameran.
– Hasil. Beras organik dijual Rp20.000-Rp25.000/kg. 1 musim tanam, omzet kelompok bisa Rp400-600 juta. Petani dapat bagi hasil setelah potong operasional.

3. Gapoktan Rukun Tani – Subang, Jawa Barat.
– Modelnya : Kontrak dengan Bulog & PT Food Station untuk suplai beras premium, tapi tetap jual merek sendiri ke pasar lokal.
– Produk : Beras “Pandan Wangi Rukun Tani” kemasan 5kg. Punya barcode & izin PIRT.
– Hasil : tidak kena permainan harga tengkulak pas panen raya. Harga stabil karena sebagian diserap mitra, sebagian jual langsung.

Pola suksesnya mirip yakni kolektif . Sendiri-sendiri berat di modal mesin. Gabung gapoktan bisa patungan beli RMU Rp300-800 juta. Selanjutnya hilirisasi. Tidak cuma giling, tapi juga kemas, kasih merek, urus izin PIRT/Hal.
Kemudian, pasar jelas. Ada yang jual online, ada yang kontrak B2B ke hotel/catering/Bulog, ada yang buka toko tani.
Juga pendampingan. Biasanya dibantu dinas pertanian, kampus, atau startup agritech buat standar mutu & pemasaran.

Jadi petani 100% bisa naik kelas dari jual gabah ke jual beras. Tantangannya di modal awal dan konsisten untuk dapat menjaga kualitas. Selain itu, dukungan penuh Pemerintah juga sangat dibutuhkan. Terlebih dalam upayanya menggeser posisi “petani gabah” menjadi “petani beras”.
Akhirnya penting untuk disampaikan, menumpuknya beras di gudang Bulog, jelas hal ini merupakan prestasi yang pantas dicatat dengan tinta emas. Akan tetapi, ceritanya akan lebih menarik, jika beras yang ada di gudang Bulog itu, dihasilkan oleh para petani padi. Mereka tidak lagi menjualnya dalam wujud gabah, namun telah diolah lebih dulu menjadi beras.

Semoga suatu waktu nanti, petani beras benar-benar akan tercipta di Tanah Merdeka ini. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Beras Siapa yang Punya?
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *