Gosip sebagai Candu

Oleh: Ganjar Kurnia

Gosip

MajmusSunda News – Bandung, Jumat (07/08/2026)Gosip adalah narkotika yang tidak pernah diperiksa di bandara. Ia dapat diselundupkan melalui mulut, disimpan di dalam kepala, lalu diedarkan tanpa perlu izin Badan Pengawas Obat dan Makanan. Tidak ada kemasan, tidak ada tanggal kedaluwarsa, tetapi efek sampingnya luar biasa: jantung berdebar, mata membesar, telinga memanjang, dan lidah mendadak kehilangan rem.

Orang yang baru menerima gosip biasanya menunjukkan gejala khas. Ia merapatkan kursi, mengecilkan suara, lalu membuka percakapan dengan kalimat suci para pengedar informasi gelap: “Ini rahasia, ya. Jangan bilang siapa-siapa.” Kalimat itu sebenarnya berarti: silakan sebarkan, tetapi jangan cantumkan nama saya sebagai distributor utama.

Dalam waktu lima menit, rahasia itu sudah berpindah dari teras rumah ke pasar, dari grup WA keluarga ke grup WA alumni, lalu menyelusup ke grup pengajian dengan pakaian keagamaan. Di sana, gosip bisa tidak disebut gosip. Namanya berubah menjadi “bahan introspeksi bersama.”

Betapa mudahnya dosa mengganti nama. Fitnah dapat berganti nama menjadi informasi. Prasangka disebut kewaspadaan. Membuka aib disebut kepedulian. Dan ghibah bisa dibungkus sebagai upaya menyelamatkan umat.

Gosip memang candu. Sekali seseorang mencicipinya, ia ingin dosis berikutnya. “Terus bagaimana?” “Lalu…………?” adalah pertanyaan berantai.

Pertanyaan-pertanyaan itu keluar seperti antrean pasien di klinik rasa ingin tahu. Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Setiap dugaan memerlukan dugaan tambahan. Sampai akhirnya, fakta pulang kampung karena tidak tahan hidup bersama imajinasi.

Aneh pula, gosip hampir selalu diawali kata “katanya”. Katanya rumah tangganya retak. Katanya anaknya begini. Katanya tetangganya begitu. Katanya pejabat itu punya simpanan. Katanya ulama itu mengejar jabatan. Katanya orang miskin itu malas. Katanya orang kaya itu pasti curang.

Siapa sesungguhnya “katanya” itu?

Ia tidak pernah hadir dalam rapat, tetapi pendapatnya selalu dikutip. Ia tidak memiliki alamat, nomor telepon, atau kartu tanda penduduk, tetapi kesaksiannya dianggap sah.

Barangkali “katanya” adalah makhluk gaib yang bekerja sebagai koresponden tetap di republik prasangka.

Al-Qur’an telah lama memberi peringatan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” Ayat itu kemudian menghadirkan gambaran yang keras: orang yang menggunjing seperti memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.

Tetapi manusia memang makhluk kreatif. Daging saudara yang mati itu diolah menjadi berbagai menu sosial, lalu menyajikannya di atas piring bernama “kepedulian”. Setelah itu semua orang makan sambil berkata, “Astaghfirullah, kok bisa begitu, ya……….?”

Kata astaghfirullah kadang bukan penutup dosa, melainkan saus tambahan agar gosip terasa lebih religius. Prasangka atau zhan sering muncul karena manusia tidak tahan menghadapi ruang kosong. Ketika ia tidak mengetahui sesuatu, seharusnya ia berkata, “Saya tidak tahu.” Namun, kalimat itu dianggap terlalu pendek dan kurang bergengsi. Maka, ruang kosong itu segera diisi dengan dugaan, tafsir, kecurigaan, dan cerita tambahan.

Di zaman media sosial, gosip telah naik kelas. Dahulu ia berjalan kaki dari rumah ke rumah. Sekarang ia memiliki kendaraan digital dan dapat berkeliling dunia sebelum azan Dzuhur tiba. Manusia modern tidak perlu mengenal seseorang untuk membencinya. Cukup memiliki paket data.

Meninggalkan gosip bukan berarti berhenti peduli. Justru kepedulian yang sejati tidak menikmati kehancuran orang lain. Ia tidak menjadikan luka sebagai hiburan. Bila seseorang salah, ia menasihati tanpa mempermalukan. Bila mendengar kabar, ia memeriksa sebelum mempercayai. Bila tidak tahu, ia memilih diam.

Barangkali hidup akan terasa sedikit sepi tanpa gosip. Pos ronda kehilangan bahan bakar. Grup WhatsApp kehilangan denyut nadi. Beberapa orang mungkin mengalami sakau karena tidak mengetahui masalah orang lain.

Berhentilah bergosip. Setelah berhenti memakan bangkai saudara, siapa tahu lidah kita kembali mampu menikmati zikir.

Mulut dan tangan adalah pintu. Dari sana, gosip dapat menjadi racun yang menyebar ke seantero atau dapat pula menjadi taman, tempat doa diucapkan dengan lembut. Pilihan itu terjadi setiap saat, di antara ketidakjelasan berita dan keinginan untuk menggosipkannya.

libur

Judul: Gosip sebagai Candu

Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *