Menegur Kesalahan Boleh, Tapi Jangan Mempermalukan

Oleh: Kang Eep

MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (06/08/2026) – Suatu malam, Imam Ahmad bin Hanbal mendatangi rumah Harun bin Abdullah al-Hammal. Sejak siang sebenarnya beliau sudah melihat sesuatu yang ingin ditegur. Ketika melewati majelis Harun, Imam Ahmad melihat Harun mengajar di tempat yang teduh, sementara murid-muridnya duduk di bawah panas matahari sambil membawa pena dan catatan.

Imam Ahmad tidak menegurnya saat itu. Beliau tidak menghentikan majelis atau menunjukkan kesalahan Harun di depan murid-muridnya. Beliau menunggu sampai malam, lalu datang ke rumah Harun dan menyampaikan nasihatnya secara pribadi: lain kali, duduklah sebagaimana murid-muridmu duduk.

Padahal Imam Ahmad melihat sendiri kesalahan itu, kedudukan ilmunya jauh lebih tinggi, dan beliau mempunyai kesempatan untuk langsung menegur. Namun beliau memilih cara lain: kesalahannya diperbaiki, sementara kehormatan orang yang melakukan kesalahan tetap dijaga.

Al-Fudhail bin Iyadh pernah mengatakan, “Orang beriman menutupi dan menasihati, sedangkan orang fajir membuka aib dan mempermalukan.” Di situlah perbedaannya: menegur kesalahan tidak sama dengan mempermalukan orang yang melakukan kesalahan.

Seorang atasan tentu berhak menegur bawahannya. Kalau salah, tegur; kalau pelanggarannya berat, beri sanksi; kalau memang tidak bisa dipertahankan, mungkin harus diberhentikan. Tetapi kewenangan terhadap pekerjaan seseorang tidak otomatis memberikan hak untuk merendahkan kehormatannya di hadapan orang lain.

Bahkan dari sudut pandang leadership, memarahi anak buah di depan umum sebenarnya bukan sesuatu yang keren. Mungkin si atasan merasa sedang menunjukkan ketegasan, kewibawaan, atau kekuasaan. Padahal yang terlihat justru kemampuan memimpin dirinya sendiri sedang dipertanyakan: apakah ia mampu mengendalikan emosi, memilih tempat yang tepat untuk melakukan koreksi, dan memperbaiki kesalahan bawahannya tanpa merusak harga dirinya?

Leadership bukan soal siapa yang paling keras suaranya atau siapa yang paling berani memarahi orang di depan banyak orang. Seorang pemimpin justru diuji ketika mempunyai kuasa. Ia harus tahu kapan perlu tegas, kapan seseorang harus dipanggil secara pribadi, serta bagaimana membedakan antara koreksi, hukuman, dan penghinaan. Ketika seorang atasan atau pejabat memarahi bawahannya di depan publik, apalagi sengaja direkam dan dijadikan konten, yang dipertontonkan sebenarnya bukan hanya kesalahan si bawahan, tetapi juga kualitas kepemimpinan atasannya.

Dahulu seorang guru rela menunggu sampai malam agar nasihat tidak menjatuhkan harga diri orang yang ditegur. Sekarang, orang yang dianggap salah bisa dimarahi di depan banyak orang, direkam dengan kamera, diunggah ke media sosial, kemudian persoalannya dilempar kepada publik.

Akibatnya, perkara yang semula mungkin cukup diselesaikan antara atasan dan bawahan berubah menjadi pengadilan massal. Orang-orang yang tidak berada di tempat kejadian, tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, dan tidak pernah mendengar penjelasan kedua pihak ikut memaki, menghina, bahkan menghakimi hanya dari potongan video beberapa menit.

Keadaannya semakin tidak seimbang ketika pihak yang memarahi mempunyai jabatan, nama besar, atau banyak pengikut, sedangkan orang yang dimarahi tidak mempunyai panggung yang sama untuk menjelaskan dirinya. Begitu masalah dilempar ke media sosial, ia tidak lagi menghadapi seorang atasan, tetapi menghadapi ribuan orang yang merasa sudah mengetahui duduk persoalannya.

Padahal Islam mengajarkan *tabayyun*. Jangan sampai kita merugikan seseorang karena informasi yang tidak utuh, lalu baru menyesal setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Sebuah video hanya memperlihatkan apa yang masuk ke dalam kamera; ia tidak otomatis memperlihatkan seluruh konteks, rangkaian kejadian, dan keterangan semua pihak.

Tentu bukan berarti semua kesalahan harus ditutup-tutupi. Ada pelanggaran yang menyangkut kepentingan umum dan memang harus dibuka, ada sanksi yang perlu dijatuhkan, dan ada keadaan ketika publik berhak mengetahui apa yang terjadi. Namun keterbukaan tidak sama dengan penghinaan, sebagaimana akuntabilitas tidak sama dengan mempermalukan.

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal terasa semakin relevan hari ini. Beliau melihat kesalahan pada siang hari, tetapi memilih datang pada malam hari agar nasihat tidak berubah menjadi penghinaan. Sekarang justru sering terjadi sebaliknya: kesalahan ditemukan, kamera dinyalakan, lalu publik diajak menjadi penonton sekaligus hakim.

Dulu orang menjaga agar teguran tidak berubah menjadi aib. Sekarang, aib justru bisa dijadikan konten.

Orang yang merasa berkuasa lalu dengan sengaja mempermalukan bawahannya di depan umum seharusnya berhati-hati. Hari ini mungkin ia mempunyai panggung, jabatan, pengaruh, dan banyak orang yang membelanya. Tetapi tidak ada kehormatan yang selamanya berada dalam genggaman manusia. Ketika Allah berkehendak membuka aib dan merendahkan seseorang, tidak ada jabatan, kamera, buzzer, ataupun pengikut yang mampu melindunginya.

Jangan-jangan kehormatan yang hari ini kita rampas dari orang lain, suatu hari justru menjadi kehormatan kita sendiri yang Allah cabut. Karena itu, kalau anak buah salah, panggil dan tegur; kalau perlu, beri sanksi. Tetapi jangan mengundang satu dunia untuk ikut merampas kehormatannya. Dan bagi kita yang hanya melihat dari layar, semoga Allah menjaga lisan dan jari-jari kita agar tidak ikut menghujat seseorang yang duduk persoalannya sendiri tidak kita ketahui.

Salam,
Kang Eep

***

Judul: Menegur Kesalahan Boleh, Tapi Jangan Mempermalukan
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *