Lentera Sadar

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Senin (27/07/2026)  Artikel berjudul “Lentera Sadar” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ada masa
ketika manusia dipercaya menjaga arah,
namun perlahan
kehilangan arah di dalam dirinya.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Ada kalanya
kesibukan tumbuh menjadi hari-hari panjang.
Suara memekik ruang.
Keberhasilan didendangkan.
Badan-badan baru bermekaran,
namun jejak tertinggal
bak tapak di pasir
yang mudah disapu ombak.

Ada kalanya
manusia terlalu lama mendengar
gema keberhasilannya sendiri,
hingga suara-suara lain
perlahan kehilangan tempat.

Begitulah linglung bekerja.
Ia tidak membuat seseorang berhenti melihat,
tetapi membuatnya hanya melihat
apa yang ingin ia percayai.

Perlahan manusia merasa
tak ada yang keliru dalam langkahnya,
hanya dunia yang belum mampu
melihat kebenaran yang diyakininya.

Pujian menjadi cermin,
dan kritik dianggap retaknya kaca.

Padahal di luar diri
selalu ada suara-suara
yang datang membawa kepedulian.

Ada yang hadir
sebagai angin yang mengganggu,
namun diam-diam
menunjukkan arah badai.

Ada yang terdengar lirih,
namun menyimpan ketulusan
agar perjalanan
tak kehilangan tujuan.

Namun ketika bayangan diri
terlalu lama menjadi tempat berpijak,
cahaya dari luar
perlahan terasa menyilaukan.

Linglung tumbuh perlahan,
di antara keyakinan yang mengeras,
dan langkah-langkah yang terus berjalan
tanpa sempat menoleh
pada jejak nyata pencapaian.

Lalu jalan bersama terasa makin kelam;
bukan karena mentari telah padam,
melainkan karena lentera-lentera jiwa
tak lagi dijaga.

Gelap tidak tinggal pada satu hati.
Ia menjalar ke jalan-jalan.
Menetap di ruang-ruang tunggu.
Menjadi tanya
di antara wajah-wajah yang berharap.

Sebuah negeri ikut merasakan
panjangnya bayangan.

Harapan berjalan lebih lambat.
Kepercayaan mulai meredup.
Masa depan perlahan diselimuti kabut.

Namun bahkan di malam yang panjang,
selalu ada nyala kecil
yang belum benar-benar hilang.

Lentera hati yang bisa menerang saat manusia berani bercermin dan membuka
diri untuk mendengar.

Sebab cahaya terbesar
bukan milik mereka yang tampak paling berkilau,
melainkan mereka
yang tetap eling diri,
terang sukma.

Dengan itu manusia bisa
melihat lebih jernih,
mendengar lebih dalam,
dan membaca ulang rekam jejak.

Agar saat fajar datang,
sebuah negeri kembali menemukan harapan.

***

Judul: Lentera Sadar
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *