MajmusSunda News, Sabtu (25/07/2026) – Artikel berjudul “Hidup Ini Untuk Apa?” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Katanya hidup adalah perjalanan.
Tapi mengapa peta riwayat hidup kerap dibasahi air mata,
dan kompas kadang menunjuk
arah yang kita hindari.

Sejak kecil kita diajari menjawab soal,
bukan menyusun tanya.
Maka ketika malam bertanya,
“Untuk apa kau hidup?”
kita membuka ijazah, harta, rencana—
lalu diam,
karena tak satu pun benar-benar menjawab.
Mungkin hidup bukan teka-teki
yang menunggu satu jawaban.
Ia seperti kopi yang keburu dingin
sebab kita sibuk memotretnya,
hingga lupa menikmatinya.
Kita mengejar “nanti”.
Nanti kalau kaya.
Nanti kalau berhasil.
Nanti kalau semuanya sempurna.
Lalu “nanti” datang mengetuk pintu.
Kita sambut dengan senyum, hanya untuk mendapati permaafan.
“Maaf, aku tak pernah memenuhi jawaban. Hanya memberimu alasan untuk menunda.”
Lucu juga.
Kita menghitung waktu dengan jam,
membuat jadwal untuk segala hal,
kecuali untuk benar-benar hidup.
Sebab waktu tidak pernah menunggu kita siap—
ia hanya lewat,
seperti tamu yang tahu jalan pulang.
Kita mengejar hari esok,
hingga lupa:
hari ini pernah menjadi
hari esok yang kita tunggu.
Namun alam tak pernah cemas.
Anak kecil tertawa tanpa alasan.
Kucing tidur tanpa memikirkan dunia.
Pohon berbuah tanpa mengumumkan keberhasilan.
Hanya manusia
yang menatap langit penuh bintang,
lalu gelisah karena merasa belum cukup.
Mungkin karena kita tahu
semua akan berakhir.
Dan justru karena itu,
pelukan menjadi berharga,
perpisahan terasa dalam,
dan secangkir teh bersama kekasih
bisa tinggal lebih lama daripada waktu itu sendiri.
Barangkali hidup bukan tentang menemukan arti.
Barangkali hidup adalah menjadi arti.
Menjadi alasan seseorang tersenyum.
Menjadi tempat seseorang merasa didengar.
Menjadi manusia yang, ketika tiada,
membuat orang berkata:
“Syukurlah dulu ia pernah ada.”
Jadi ketika pertanyaan itu datang lagi—
“Hidup ini untuk apa?”
Mungkin tak perlu buru-buru menjawab.
Duduklah sebentar.
Rasakan pagi.
Dengarkan hujan.
Mungkin jawaban itu bukan sesuatu yang kita temukan,
melainkan sesuatu yang kita tinggalkan:
dalam kebaikan kecil,
cinta tulus, dan keberanian untuk tetap bangun
meski dunia tak menentu.
Dan entah kenapa…
itu sudah cukup indah.
***
Judul: Hidup Ini Untuk Apa?
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












