MajmusSunda News, Jawa Barat, Jum’at (24/07/2026) – Dalam jagat kepemimpinan, kita sering menemukan dua sifat yang sama penting, namun kerap disalahpahami: leader dan commander. Kedua istilah ini sering dianggap sepadan, padahal sejatinya keduanya berbeda dalam hakikat, tetapi menyatu dalam tujuan. Seperti dua sisi dari satu koin, keduanya tak dapat dipisahkan jika sebuah lembaga, bangsa, atau komunitas ingin berjalan dengan arah dan wibawa.
.
Leader adalah sosok yang memimpin dengan visi, pemikiran, dan rasa. Ia menghubungkan kehidupan batin organisasi dengan cita-cita luhur. Ucapannya menyejukkan, pikirannya dalam, tindakannya membangkitkan semangat. Seorang leader membangun keyakinan, menyalakan nilai, dan mengajak orang lain menjadi lebih baik — bukan dengan paksaan, melainkan dengan keteladanan.
.
Sementara Commander adalah sosok yang memimpin dengan tatanan, ketegasan, dan kepastian. Ia mengatur arah tindakan, menyusun strategi, menetapkan prioritas, serta menjaga agar setiap langkah tetap berada pada jalur yang benar. Commander adalah simbol tanggung jawab struktural, disiplin, dan kewibawaan.
.
Dalam pandangan Sunda, dua sifat ini bisa dilebur menjadi satu harmoni yang dirumuskan oleh para karuhun dalam pepatah:
“Leuleus, jeujeur, liat, tali.”
• Leuleus berarti lembut, tidak kasar, mampu merasakan keadaan orang lain.
• Jeujeur berarti jujur, lurus hati, tidak menipu.
• Liat berarti kuat namun lentur, tidak mudah patah dalam tekanan.
• Tali melambangkan hubungan — kemampuan menyatukan dan mengikat manusia dalam kebersamaan.
.
Maka pepatah itu menggambarkan sosok pemimpin yang paripurna:
“Tidak keras seperti besi, tidak lembek seperti air, tetapi lentur seperti tali.”
.
Ungkapan itu menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati harus mampu memadukan rasa dan rasio, pengaruh dan aturan, kasih sayang dan kewibawaan.
.
Dalam zaman sekarang, banyak lembaga yang runtuh karena kepemimpinannya kehilangan keseimbangan: ada yang hilang rasa (menjadi otoriter), ada pula yang kehilangan arah (menjadi lembek). Padahal keseimbangan antara leader dan commander adalah inti dari kepemimpinan — menjaga kebenaran sambil menumbuhkan kebaikan.
.
Sebagaimana sebuah koin tak akan utuh tanpa kedua sisinya, demikian pula kepemimpinan:
Leader dan commander harus menyatu dalam satu jiwa — jiwa yang lembut dalam rasa, namun kuat dalam prinsip.
***
Judul: Leader dan Commander: Dua Sisi dalam Satu Koin
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra












