MajmusSunda News, Senin (20/07/2026) – Artikel berjudul “Sesudah Perayaan” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Sesudah syukuran Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa usai, kursi-kursi kembali kosong, mikrofon dimatikan, dan nama-nama selesai disebut. Namun yang tertinggal bukanlah acara, melainkan sebuah pertanyaan: masihkah kita mengenali mata air yang melahirkan Indonesia?

Republik ini tidak lahir dari keseragaman. Ia bertumbuh dari perjumpaan banyak mata air: agama-agama, tradisi-tradisi kepercayaan, dan kebijaksanaan yang mengajarkan manusia menengadah kepada Yang Mahatinggi melalui jalan yang berbeda-beda. Berbeda jalan, sama dahaga: mencari kebenaran, kebajikan, dan kasih.
Karena itu, Indonesia tidak pernah dimaksudkan menjadi benteng bagi satu suara, melainkan ruang perjumpaan bagi banyak nurani, tempat perbedaan menjadi jalan untuk saling memuliakan.
Namun hari-hari ini, banyak mata air kita seperti mengering sebelum mencapai kehidupan bersama. Amanah dikalahkan oleh hasrat berkuasa. Keadilan tertinggal oleh kerakusan. Hukum kehilangan wibawa. Alam diperas tanpa kebijaksanaan. Ruang publik dipenuhi kegaduhan, sementara nurani semakin sulit terdengar.
Sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan hanya krisis ekonomi, politik, atau hukum. Yang sedang kita hadapi adalah kemarau etika. Ketika kebajikan berhenti menjadi penuntun, yang retak bukan hanya negara, melainkan jiwa peradaban.
Karena itu, Hari Kepercayaan tidak cukup dirayakan sebagai pengakuan atas keberagaman. Ia adalah panggilan untuk mempertemukan kembali berbagai mata air kebajikan yang hidup dalam setiap agama dan tradisi kepercayaan.
Semua mengajarkan amanah, kejujuran, keadilan, kasih, dan hormat kepada kehidupan. Nilai-nilai yang semestinya mengalir menjadi etika publik: membersihkan penyelenggaraan negara, menegakkan keadilan, merawat bumi, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Bangsa ini tidak kekurangan ajaran luhur. Yang kita perlukan ialah mempertemukan aliran-aliran kebajikan itu menjadi sungai besar yang menghidupi republik.
Kiranya kita pulang bukan sekadar membawa kenangan tentang sebuah perayaan, melainkan tekad mengubah iman menjadi amanah, kepercayaan menjadi kejujuran, dan spiritualitas menjadi keberanian memperbaiki kehidupan bersama.
***
Judul: Sesudah Perayaan
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












